Mikhail Gorbachev Tutup Usia: Pencetus Kebijakan Perestroika-Glasnost untuk Soviet

| 31 Aug 2022 17:15
Mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev diapit dua pengawalnya. (Wikimedia Commons/duma.gov.ru)

ERA.id - Mantan presiden terakhir era Uni Soviet, Mikhail Gorbachev meninggal dunia pada usia ke-92, hari Selasa 30 Agustus 2022.

Masa-masa keruntuhan Uni Soviet sebagai negara komunis ditandai oleh kepemimpinan dari Gorbachev. Adapun kebijakan krusial yang ditentukan saat Gorbachev menjadi Presiden pada 1980-an adalah Perestroika dan Glasnost.

Kira-kira, apa maksud dan tujuan dari dua kebijakan yang ditentukan mendiang?

Perestroika dan Glasnost

Gorbachev mengeluarkan kebijakan Perestroika yang bermakna sebagai perubahan ataupun reformasi untuk mempercepat modernisasi ekonomi dan masyarakat di negaranya.

"Jelas sekali kamerad. Kita harus berubah, kita semua," demikian pidatonya pada awal 1986.

Perestroika memiliki tujuan untuk membangun Soviet kembali yang pada waktu mengalami kemunduran terutama secara ekonomi.

Mikhail Gorbachev di tengah barisan (Sumber: Wikimedia Commons)

Sedangkan dalam kebijakan Glasnost, Gorbachev juga membuka keran kebebasan berpendapat. Tak ada lagi larangan bagi setiap warga untuk menyatakan pendapat atau kritik pada negara dan Partai Komunis Rusia dalam kebijakan tersebut.

Glasnost juga merupakan akhir dari sensor dan pemblokiran terhadap media termasuk media asing.

Gorbachev juga menentukan nasib negara-negara Eropa Timur yang bebas dari aturan Soviet.

Kebijakan Gorbachev inilah yang disambut dengan gegap-gempita oleh pihak Barat dan sebagian rakyat Soviet. Namun, kebijakannya itu juga mengundang kecaman dari sejumlah kalangan di negaranya yang bersikukuh dengan kebijakan-kebijakan klasik Soviet.

Gorbachev bahkan dituduh sebagai sumber dari kehancuran Uni Soviet yang sempat menjadi negara raksasa dunia.

Walaupun demikian, kepemimpinan Gorbachev memiliki peran penting dalam meredam Perang Dingin antara Amerika Serikat dan negaranya.

Alih-alih mempertahankan status quo yang meneruskan Perang Dingin, Gorbachev lebih memilih untuk menempuh jalan damai dengan Barat. Ia bahkan mempererat hubungan dekat dengan sejumlah pemimpin negara-negara Barat pada saat itu. Misalnya, sebut saja Kanselir Jerman saat itu, Helmut Kohl, dan juga Presiden AS, Ronald Reagan.

Namun, tindakannya yang membuat Soviet semakin terbuka dengan kepemimpinannya dari 1985 hingga 1991, menjadikan posisinya semakin tersingkir. Pejabat Partai Komunis, Boris Yeltsin-lah yang menyingkirkan Gorbachev dari kursi kepresidenan.

Ketika Soviet runtuh dan menjadi Republik Federasi Rusia pada 1991, nama Gorbachev pun seolah semakin terlupakan.

Dampak Kebijakan Gorbachev

Tidak selalu mulus, kebijakan glasnost dan perestroika yang dikeluarkan Gorbachev ternyata menimbulkan dampak negatif bagi Soviet dan menyebabkan keruntuhan negara tersebut. Sebab, terbukanya media Uni Soviet, dan juga perizinan yang bebas bagi setiap individu menjalankan bisnis dan perusahaannya mengakibatkan ekonomi Uni Soviet yang lemah terekspos di mata media. Hal itu pula yang menyebabkan awal mula ketidakpercayaan masyarakat dengan kepemimpinan komunisme pada masa tersebut.

Kebijakan Glasnost juga menyebabkan tereksposnya permasalahan politik yang sebelumnya ditutup-tutupi oleh pemerintahan komunis. Dari transparansi itulah muncul pula sikap tidak percaya masyarakat Uni Soviet pada pemerintahan dan memunculkan bibit nasionalisme. Hal itulah yang menyebabkan banyak daerah di Uni Soviet melepaskan dan memerdekakan diri seperti Armenia, Azerbaizan, Uzbekistan, Ukraina, Tajikistan, Latvia, serta negara di Asia Tengah dan sebagian Eropa.

Ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Kalo kamu mau tahu informasi menarik lainnya, jangan ketinggalan pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman

Rekomendasi