Saingi Said Aqil di Bursa Ketum PBNU, Ini Fakta Menarik Gus Baha, Dijuluki Manusia Al-Qur'an hingga Murid Kesayangan Mbah Moen

Tim Editor

Gus Baha. (Foto: Commons Wikimedia)

ERA.id - Nama ulama kharismatik Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha kembali jadi perbincangan. Kali ini bukan karena isi ceramahnya yang kerap viral di media sosial. Melainkan karena namanya yang masuk bursa ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Hal itu terungkap lewat jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei Indostrategic. Gus Baha bahkan menempel ketat kandidat petahana KH Said Aqil Siradj.

KH Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jawa Timur) dengan dukungan tertinggi sekitar 24,7 persen, disusul KH Hasan Mutawakkil Alallah 22,2 persen, KH Said Aqil Siradj 14,8 persen yang juga incumbent Ketum PBNU saat ini, lalu KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha 12,4 persen.

Direktur Eksekutif Indostrategic Khoirul Umam menyebut kemunculan Gus Baha dalam bursa calon Ketum PBNU menunjukkan keinginan warga NU untuk regenerasi kepemimpinan. Sosoknya yang sederhana serta keilmuan dan wawasannya yang luas menjadikan Gus Baha idola baru di bidang keagamaan.

Berikut fakta menarik Gus Baha, yang berhasil dirangkum ERA.id dari berbagai sumber.

1. Dijuluki Manusia Al-Qur'an

Gus Baha merupakan ulama NU asal Rembang yang dikenal sebagai ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar Al-Qur'an. Ustaz kondang Adi Hidayat bahkan dalam satu kesempatan pernah menyebut bahwa Gus Baha adalah manusia Al-Qur'an.

"Di Rembang itu ada manusia Qur'an yang tidak banyak dikenal orang. Itu kalau bapak-ibu tanya tentang fiqih-fiqih Al-Qur'an, itu beliau luar biasa. Namanya Gus Baha," kata Adi Hidayat.

"Kapan-kapan kalau ada pengajiannya, hadiri pengajiannya. Itu di antara orang yang mengerti Al-Qur'an," tambah dia.

Dari silsilah keluarga ayah, Gus Baha’ merupakan generasi ke-4 ulama-ulama ahli Al-Qur'an. Sedangkan dari silsilah keluarga ibu, Gus Baha menjadi bagian dari keluarga besar ulama Lasem, dari Bani Mbah Abdurrahman Basyeiban atau Mbah Sambu.

Gus Baha' kecil dididik belajar dan menghafalkan al-Qur'an secara langsung oleh ayahnya dengan menggunakan metode tajwid dan makhorijul huruf secara disiplin. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang diajarkan oleh guru ayahnya, yaitu KH. Arwani Kudus. Kedisiplinan tersebut membuat Gus Baha’ di usianya yang masih muda, mampu menghafalkan Al-Qur'an 30 Juz beserta Qira'ahnya.

2. Murid Kesayangan Mbah Moen Zubair

Gus Baha merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, Kiai Maimun Zubair. Pria kelahiran Rembang, 29 September 1970 itu sejak remaja dititipkan oleh ayahnya untuk mondok dan berkhidmah kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang. Pondok al-Anwar sendiri tepat berada sekitar 10 km arah timur dari rumahnya.

Di Pondok Pesantren al-Anwar inilah keilmuan Gus Baha semakin menonjol seperti ilmu hadis, fikih, dan tafsir. Dalam ilmu hadis, Gus Baha’ mampu mengkhatamkan hafalan Sahih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Ia juga hafal isi kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika bahasa arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik. Bahkan menurut sebuah cerita, dengan banyaknya hafalan yang dimiliki oleh Gus Baha’, menjadikan beliau sebagai santri pertama al-Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak. 

Pertemuan Jokowi dengan Mbah Moen dan Habib Luthfi di Hotel Fairmont Jakarta. (Foto: Istimewa)

Gus Baha juga dikebal dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau KH. Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama-ulama besar yang berkunjung ke al-Anwar. 

Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Dalam sebuah cerita, beliau pernah dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta'bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan berkata "Iyo Ha'... Koe pancen cerdas tenan" (Betul Ha'... Kamu memang benar-benar cerdas).

Gus Baha' juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa'izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo Baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti Baha' itu....) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina. 

3. Menolak Mondok di Yaman

Selain mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren al-Anwar Rembang, pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada Gus Baha’ untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun, Gus Baha’ menolaknya dan lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah PP. al-Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA. 

Setelah ayahnya wafat pada tahun 2005, Gus Baha' melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di pondoknya, pondok pesantren LP3IA Narukan.

Saat menjadi pengasuh di pondoknya, banyak santri yang ada di Yogyakarta merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri pergi sowan dan memintanya mau kembali ke Yogyakarta, hingga pada akhirnya Gus Baha bersedia, tetapi hanya satu bulan sekali. 

4. Hidup sederhana

Salah satu sikap yang paling menonjol dari Gus Baha' adalah kesederhanaanya. Meski memiki banyak murid dan mengisi ceramah di mana-mana, Gus Baha tetap terlihat sederhana. Dalam beberapa kesempatan, Gus Baha tampak santai mengendarai sepeda motor bebek tua dan cuma punya handphone "jadul" tanpa WhatsApp untuk berkomunikasi.

Kesederhanaan yang dipraktikan Gus Baha’ bukan berarti keluarga Gus Baha’ adalah keluarga yang miskin, karena kalau dilihat dari silsilah lingkungan keluarganya, tiada satu pun keluarganya yang miskin. Bahkan kakek Gus Baha’ dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. 

Usai menyelesaikan pendidikannya di Sarang, Gus Baha kemudian menikah dengan seorang anak Kiai yang bernama Ning Winda pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. 

Ada cerita menarik dengan pernikahan beliau. Jadi sebelum lamaran, Gus Baha menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, melainkan kehidupan yang sangat sederhana. 

Di sana beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berpikir ulang atas rencana pernikahan tersebut. Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Namun mertuanya hanya tersenyum dan mertuanya hanya mengatakan "klop" alias sami mawon kalih kulo (sama saja dengan saya).

Kesederhanaan Gus Baha’ dibuktikan saat beliau berangkat ke Pondok Pesantren Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Gus Baha’ berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus kelas ekonomi.

Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil. Setelah menikah, Gus Baha’ mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Gus Baha’ menetap di Yogyakarta. Selama di Jogja, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecilnya.

5. Mengajar di Universitas

Meski berlatar belakang pendidikan non-formal dan non-gelar, Gus Baha diberi keistimewaan untuk menjadi sebagai Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Ia bahkan duduk bersama para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seluruh Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan Gus Baha' di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai mufassir, juga sebagai mufassir faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam al-Qur'an. 

Gus Baha saat mengajar. (Foto: UII)

Setiap kali lajnah menggarap tafsir dan mushaf al-Qur'an menurut Prof. Quraisy, posisi Gus Baha’ selalu di dua keahlian, yakni sebagai mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur'an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fikih dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur'an.

Tag: gus baha nahdlatul ulama pbnu profil Gus Baha

Bagikan: