Guratan Lukisan Affandi, Dinyalakan Bung Karno dan Nyaris Dipadamkan Soeharto

Tim Editor

Seorang perempuan di depan sebuah lukisan karya Affandi (ANTARA)

ERA.id - Masa republik diproklamasikan, banyak seniman yang mengambil bagian. Dari penyair hingga pelukis, tak tertinggal penyair fenomenal Indonesia, Chairil Anwar dan pelukis besar yang dimiliki bangsa Indonesia, Affandi Koesoema. 

Soekarno meminta para seniman untuk membuat poster yang membangkitkan semangat rakyat Inndonesia untuk mempertahankan kemederkaan Republik Indonesia.

Affandi dan Chairil berkolaborasi membuat poster. Chairil bagian teksnya, “BOENG, AJO BOENG”. Sedangkan, Affandi mengambil bagian lukisannya. Mereka melakukan itu sesuai tugas dan kemampuan masing-masing. 

Sosok yang dirantai sambil memegang tiang bendera merah putih, yaitu Dullah, salah satu pelukis aliran realisme Indonesia. 

Peran tiga seniman itu menguatkan narasi bahwa Indonesia dimerdekakan oleh semua kalangan, semua bangsa, semua rakyat Indonesia. Tidak saja dari kelompok tertentu.

Nama Affandi sangat harum di kancah internasional. Ia adalah maestro seni lukis Indonesia. Sampai saat ini, bisa dibilang, ia adalah saka guru banyak pelukis Tanah Air, bahkan dunia internasional. 

Gaya ekspresionis dan romantismenya, pada 1950an, ia banyak mengadakan pameran tunggal di Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat. Antara kualitas dan kuantitas lukisannya berjalan dengan baik. Selama hidup ia telah melukis lebih 2.000 lukisan.

Perjalanan hidupnya, tidak mulus-mulus saja, ada kerikil-kerikil yang menghalangi di depannya. Namun, ia bisa melewatinya dengan baik karena bakat yang ia miliki dan kekuatan pertemanan yang baik. 

Sebelum menjadi pelukis hebat nan terkenal, Affandi menjalani profesi lain, seperti menjadi guru, menjadi tukang sobek karcis, dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung.

Namun, pekerjaan itu tak lama digeluti Affandi. Sebab, ia lebih tertarik pada bidang seni lukis. Tahun 30-an, Affandi bergabung dalam Kelompok Lima Pelukis Bandung. 

Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi Sumanta, serta Affandi. Kelompok ini mempercayai Affandi sebagai pemimpin. Dalam sejarah seni rupa Indonesia, kelompok ini mempunyai andil cukup besar. 

Seorang pelukis, ketika belum pameran tunggal, akan diragukan karier seni lukisnya. Pada 1943, waktu Jepang masih melakukan pendudukan di Indoesia, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta.

Empat Serangkai—yang terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansoer—memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) juga mengambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Affandi didukung oleh banyak pendiri bangsa. Kariernya di seni lukis sudah membuat masyarakat Indonesia terkagum-kagum. Saking pamornya yang luar biasa itu, Partai Komunis Indonesia atau PKI berani mencalon Affandi untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante.

Pencalonannya ketika ia baru saja pulang dari India dan Eropa. Ternyata Affandi terpilih mulus menuju Jakarta. Dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb, untuk mewakili orang-orang tak berpartai sekitar tahun 1950an.

Akan tetapi, tahun 1965 meletus. Orang yang begelut dengan PKI dibasmi ke akar-akarnya. Syukurnya, Affandi dan beberapa pelukis di Jogjakarta, yang ada bau-bau komunis lolos dari serdadu Orde Baru. 

Affandi bisa melewati tentara Orde Baru, berkat Bagong Kussudiardja, seniman besar Indonesia yang juga ayah dari Butet Kartaredjasa. Tanpa Bagong, bisa dijamin Affandi akan sama dengan kebanyakan aktivis Lekra lainnya yang dibunuh atau dihilangkan. 

Sosok yang lahir 18 Mei 1907 di Cirebon ini menghembus nafasnya di usia 83 tahun di Yogyakarta, 23 Mei 1990. 32 tahun lalu.

Tag: Affandi Koesoema Chairil Anwar Dullah

Bagikan: