Viral Harimau Sumatera Hadang Alat Berat Babat Hutan di Pasaman Barat, BKSDA: Kita Halau

Tim Editor

DOK. ANTARA

ERA.id - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, menangani konflik manusia dengan satwa liar jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada dua lokasi di Kabupaten Pasaman Barat.

"Kita menangani konflik manusia dengan satwa ini secara bersamaan," kata Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Sumbar, Ade Putra, di Lubukbasung, Rabu (19/1/2022).

Ia mengatakan, penanganan konflik itu pertama dilakukan di lokasi perkebunan kelapa sawit bekas lahan plasma PT Pasaman Marama Sejahtera (PMS) yang sudah beralih kepemilikan di Jorong Situak, Nagari Situak Ujung Gading, Kecamatan Lembah Malintang.


Konflik itu diketahui setelah viralnya video harimau mendekati operator dan kenek alat berat jenis excavator saat membuka jalan di kebun kelapa sawit itu.

Setelah mengetahui, BKSDA Sumatera Barat menurunkan tim dari Resor Agam dan Resor Pasaman untuk verifikasi, identifikasi lapangan dan melakukan wawancara dengan dua pekerja itu.

Dari hasil verifikasi, lokasi kemunculan satwa berada di perkebunan kelapa sawit bekas Plasma PT. Pasaman Marama Sejahtera (PMS) yang telah beralih kepemilikan di Jorong Situak, Nagari Situak Ujung Gading, Kecamatan Lembah Malintang, Pasaman Barat.

Satwa muncul dekat alat berat yang sedang bekerja melakukan perbaikan jalan kebun dan bertemu dengan para pekerja. Lokasi ini sendiri berada sekitar dua kilometer dari kawasan hutan lindung yang merupakan landscape Danau Laut Tinggal. "Kami memasang kamera jebak untuk memonitor keberadaan satwa," katanya.

Untuk lokasi kedua, katanya, berada di PT Bakrie Pasaman Plantations di Nagari Sungai Aur, Kecamatan Sungai Aur, setelah mendapatkan laporan dari manajemen perusahaan itu. Tim BKSDA Sumbar ke lokasi munculnya satwa ini bersama dengan karyawan perusahaan itu.

"Lokasi munculnya harimau ini dengan jarak sekitar 14 kilometer dari landscape Danau Laut Tinggal. Konflik pertama dengan kedua dengan jarak 16 kilometer," katanya.

Ia mengatakan, Tim BKSDA Sumbar akan melakukan penghalauan satwa ke kawasan hutan lindung siang dan malam dengan cara bunyi-bunyian di lokasi perkebunan kelapa sawit itu.

"Penghalauan itu kita lakukan untuk tiga hari kedepan dan melihat tanda keberadaan satwa itu. Kami meminta untuk sementara waktu aktifitas di lahan itu dihentikan untuk keselamatan pekerja," katanya, seperti dikutip dari Antara.

Harimau ini masuk ke perkebunan kelapa sawit akibat kekurangan pakan berupa babi hutan, karena babi banyak ditemukan dalam kondisi mati oleh para pekerja kebun pada 2021.

Sementara Quality Healt Safety Environmental Head PT Bakrie Pasaman Plantations, Rozi Afrianto, menambahkan harimau itu pertama kali dilihat karyawan saat bekerja di lahan kepala sawit pada Sabtu (15/1). ”Satwa itu dijumpai oleh beberapa karyawan saat melakukan aktivitas penyemprotan dan karyawan menemukan satwa itu tiga kali," katanya.

Setelah melihat ada satwa liar dan buas, karyawan langsung menghindari dan langsung melaporkan ke manajemen. Manajemen langsung berkoodinasi dengan BKSDA Sumatera Barat, sementara jumlah satwa yang ada di lokasi perkebunan masih simpang siur. Ada melihat anaknya dan induknya.

"Laporan terakhir yang kami peroleh satwa masuk ke sekitar perumahan. Setelah dilakukan observasi, jumlah individu masih diragukan, namun dari keterangan petugas BKSDA, apabila ada anak, pasti ada induknya," katanya.

Ia menambahkan, aktivitas karyawan di lokasi ditemukan harimau untuk sementara diisolasi dan meminta bantuan ke tim satpam untuk memastikan karyawan tidak melakukan aktivitas di tempat dijumpai satwa ini.

Selain itu, mengimbau masyarakat dan karyawan untuk tidak melakukan aktifitas keluar malam. "Ini mengantisipasi satwa liar dan tidak menjadi korban," katanya.

Tag: sumatera barat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Harimau Sumatera

Bagikan: