Eks Putra Altar Vatikan Mengaku Dibujuk Ngeseks di Toilet Basilika St. Petrus

| 18 Mar 2021 11:05
Eks Putra Altar Vatikan Mengaku Dibujuk Ngeseks di Toilet Basilika St. Petrus
Ilustrasi: Gereja Basilika St. Petrus di Vatikan. (Foto: Alex Folguera/Unsplash)

ERA.id - Seorang yang mengaku menjadi korban kekerasan seksual kala belajar di seminari di Vatikan dalam persidangan, Rabu, (17/3/2021), menyatakan bahwa penyerangnya ingin berhubungan seks dengannya di kamar mandi di belakang altar Basilika St Petrus. Namun, ia menolak ajakan tersebut.

Pria, yang saat ini berusia 28 tahun dan hanya diidentifikasi dengan inisial L.G., mengajukan kesaksian terhadap dua imam. Satu orang dituduh melakukan kekerasan seksual, dan satu yang lain dituduh bersalah karena menutup-nutupi insiden tersebut.

Melansir dari Reuters, Kamis, L.G. menuduh Gabriele Martinelli, saat ini berusia 28 tahun dan telah ditahbiskan sebagai imam, sempat memaksa berhubungan intim sesama jenis dengannya ketika mereka masih menjadi siswa di Pra-Seminari Pius X, sebuah asrama bagi putra-putra altar di Basilika St. Petrus di Vatikan yang juga fase persiapan bagi mereka yang berniat menjadi pastor.

Insiden ini diduga terjadi antara tahun 2007 hingga 2012, namun, Martinelli akhirnya tetap berhasil diresmikan sebagai pastor dan bertugas di kawasan utara Italia.

Penjelasan L.G., yang cukup eksplisit dilaporkan oleh Reuters, menyebut Martinelli bakal menyusup ke tempat tidurnya kala malam dan memaksanya melakukan sentuhan sensual, bahkan melakukan hubungan seksual sesama jenis di ruangan lain. Martinelli, yang telah bersaksi bulan lalu, membantah tuduhan ini.

Dalam persidangan pada Rabu lalu, L.G. juga mengatakan Martinelli sempat membujuknya untuk berhubungan intim di kamar mandi yang terletak di belakang altar Basilika St. Petrus, ketika keduanya sedang mempersiapkan diri sebelum Ekaristi.

"Saya sangat terkejut," kata L.G., sambil menambahkan bahwa ia menolak ajakan Martinelli.

Sementara itu, tersangka lainnya, Pastor Enrico Radice, 72 tahun, yang menjabat rektor di pra-seminari kala itu, dituduh menutup-nutupi kasus tersebut.

Radice disebut bersalah membiarkan Martinelli tetap melenggang sebagai pastor setelah yang bersangkutan lulus dari pra-seminari. Padahal, Radice tahu terhadap kasus kekerasan seksual itu.

Radice, dilaporkan Reuters, juga membantah tuduhan ini.

Rekomendasi