Kisah Rusdi, Aremania yang 'Terpasung' di Kanjuruhan

| 13 Oct 2022 21:49
Aremania yang mengalami trauma dan enggan pulang dari Stadion Kanjuruhan (istimewa)

"Sakno arek cilik-cilik iki gak duwe duso Pak, lapo mbok pateni Pak?" (Kasihan anak-anak kecil itu tidak punya dosa Pak, kenapa dimatikan Pak?)

ERA.id - Stadion Kanjuruhan masih berdiri teguh meski dengan luka-lukanya yang menganga: Sekujur tembok dingin yang penuh umpatan; pagar besi yang roboh; ventilasi beton yang jebol; dan serpihan barang yang ditinggalkan penonton, bercampur kembang-kembang duka dari mereka yang singgah untuk berdoa.

Karangan-karangan bunga dipasang di jalan-jalan depan stadion. Dalam sebuah video, tampak seorang pemuda mengenakan hodie pucat dan tas selempang kecil menyanyi sendu di hadapan kembang-kembang mati itu, disaksikan puluhan pasang mata.

Kami Arema salam satu jiwa

di Indonesia kan selalu ada

selalu bersama untuk kemenangan

Orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya menyambung lagu itu tanpa aba-aba: Kami Aaa… reee… maaa. Pemuda berhodie pucat yang berdiri di tengah-tengah menangis. Ia mengakhirinya dengan pelukan kencang bersama Aremania lain. Suaranya meraung.

 

Tumpukan kembang di depan salah satu pintu Stadion Kanjuruhan (istimewa)

"Sakno arek cilik-cilik iki gak duwe duso Pak, lapo mbok pateni Pak? (Kasihan anak-anak kecil itu tidak punya dosa Pak, kenapa dimatikan Pak?)," sebut Rusdi dengan bibir bergetar.

Tak ada jawaban untuk pertanyaan itu selain poster hitam besar bertuliskan "TURUT BERDUKA CITA" yang dikirimkan sebuah pabrik rokok.

Stadion Kanjuruhan masih berdiri, tetapi beberapa di antara mereka yang selamat dari malam jahanam itu tak bisa benar-benar pulih. Rusdi misalnya, Aremania asal Saksak Probolinggo yang malam itu datang menonton bersama ketiga orang temannya.

Rusdi berhasil keluar dari stadion, tapi ia tak berhasil menemui ketiga temannya. Tubuhnya remuk redam, ia kelelahan, tapi kakinya terus bergerak. Rusdi tak tahu bahwa ketiga temannya sudah diangkut dan tak lagi berada di sana. Ketiganya tak lagi bernyawa.

Rusdi menolak pulang. Tanpa baju ganti dan uang berlebih, ia memilih bermalam di Stadion Kanjuruhan. Tas punggung yang ia bawa hanya berisi ijazah sekolah dasar. Rusdi bisa tidur di mana saja: depan pintu utama stadion; dekat patung kepala singa; atau bangku-bangku taman. Jaket abu-abunya ia gunakan sebagai bantal dan syal Arema menjadi penghangat tubuhnya.

Rusdi tidur di bangku taman Stadion Kanjuruhan (istimewa)

Ketika siang datang, Rusdi menyusuri sudut-sudut Kanjuruhan, berharap ketiga temannya muncul. Ia percaya mereka masih bernapas sepertinya. Berhari-hari ia bertahan di Kanjuruhan. Jalannya limbung dan tatapan matanya kosong. 

Pemilik warung kopi di sekitar stadion, Bu Tien, berkali-kali membujuknya pulang. "Pulanglah Nak, tiga temanmu sudah tiada," ujar Bu Tien ketika Rusdi mampir ke warungnya untuk meminjam kamar mandi. Ia sering mampir ke sana dan berkali-kali menolak pulang. "Ia masih merasa bersama teman-temannya," kata Bu Tien.

Karena kehabisan uang di Kanjuruhan, Rusdi akhirnya menjual HP-nya untuk membeli makan. Bu Tien padahal menyuruhnya tak usah membayar, tapi Rusdi juga selalu menolak digratiskan. 

Salah seorang pedagang di stadion, Awang Karta juga mengkhawatirkan kondisi Rusdi. "Sudah 11 hari. Kita sudah menanya dia dan sering melamun, makannya juga susah," kata Awang, Rabu (12/10). 

Rusdi memilih tetap bertahan di Stadion Kanjuruhan berhari-hari (istimewa)

Sebenarnya, sempat terlintas di benak Rusdi untuk pulang ke Probolinggo. Suatu hari kakinya sudah sampai di terminal Arjosari, tetapi rasa takut tiba-tiba mengepungnya. Ia segera putar balik kembali ke Stadion Kanjuruhan. "Saya berangkat bersama dengan teman-teman melihat Arema. Tapi semua teman saya sudah tidak ada. Jadi tidak berani pulang ke Probolinggo," ucapnya.

Rusdi memang selamat dari petaka gas air mata, tetapi jiwanya tidak. Hidupnya terpasung di stadion yang penuh kenangan tragis itu. 

Psikolog dari RSUD Kanjuruhan, Hardiono memberikan keterangan, "Anak ini sudah hampir dua minggu di stadion. Datang menonton Arema bersama tiga orang temannya. Yang tiga orang itu meningga dunia semua. Kami juga berkoordinasi dengan Dinkes Probolinggo yang mencari keberadaan anak tersebut."

Setelah sebelas hari bertahan di Kanjuruhan, pada Rabu malam (12/10), Rusdi akhirnya berhasil dibujuk pulang oleh Porong, seorang Aremania asal Gondanglegi, Malang. Ia lalu dibawa ke pesantren asuhan Kiai Suroso di Putat Lor, Gondanglegi. Di sana, Rusdi mulai bisa tersenyum dan membuka diri. Namun, menurut keterangan dari Aremania yang menemaninya, Rusdi masih trauma dan kondisi mentalnya belum stabil.

Untuk pemulihan lebih lanjut, teman-teman Aremania mengantarkan Rusdi ke RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang pada hari Kamis (13/10). Di sana, Rusdi bertemu dengan keluarganya dan kepala desa dari Probolinggo yang datang untuk menjemputnya.

Rusdi (tengah berkaos garis-garis Arema) bersama keluarganya di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (istimewa)

 

Kengerian di Pintu 13

Kata orang, kematian selalu penuh dengan gambar dan kebisuan. Begitulah yang terjadi di Malang setelah malam jahanam yang merenggut nyawa 132 jiwa. Ratusan lainnya dilaporkan luka-luka dan beberapa sedang berjuang untuk pulih.

Selasa lalu (11/10), Tuhan memanggil pulang Helen Prisela yang sudah sepuluh hari berjuang melewati masa kritisnya di RSUD Saiful Anwar. Umurnya baru 20 tahun. Kematian Helen menambah jumlah korban jiwa Tragedi Kanjuruhan menjadi 132 orang.

Stadion Kanjuruhan yang berdiri sejak tahun 1997, dalam kurun waktu semalam berubah menjadi kuburan massal. Pintu 13 menjadi saksi tubuh-tubuh manusia –laki-laki dan perempuan, tua dan muda– terhimpit dan terinjak. Bagai bendungan tersumbat, tiap penonton yang lari menerjang pintu 13 hanya menambah tumpukan manusia yang sesak napas dan putus asa.

Anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Nugroho Setiawan yang akrab disapa Pak Nug sempat menyaksikan rekaman CCTV di pintu 13. "Wah… mengerikan sekali," ucapnya dalam keterangan di Malang (9/10).

Pada pertandingan biasa, pintu itu hanya digunakan sebagai pintu masuk, tapi tidak malam itu. Derbi Arema vs Persebaya (1/10) berakhir di luar kendali setelah tembakan demi tembakan gas air mata meletus. Orang-orang berebut keluar dari celah yang hanya sebesar 1,5 meter di pintu yang terbuka. Hanya segelintir yang beruntung bisa keluar dari sana tanpa luka-luka.

Salah seorang Aremania, Eko bersama rekannya yang berada di luar mendengar keributan di balik pintu 13. "Di dalam, teriakan orang minta tolong, berjerit, kesakitan." Mata Eko berkaca-kaca saat mengenang malam itu. Ia dan teman-temannya berusaha membobol ventilasi beton di samping pintu dengan besi dan bambu.

Lewat lubang yang berhasil mereka jebol, Eko menarik sembarang tubuh yang nyaris tamat. "Cuma ditarik aja. Ditarik ditaruh, ditarik ditaruh, cuma gitu aja," ucapnya berusaha menggambarkan seberapa gentingnya situasi yang ia hadapi.

Setelah tragedi itu, sepak bola bagi sebagian orang tak lagi sama. Joshua, Aremania yang menonton pertandingan tragis itu di tribun VIP dan berhasil selamat bilang, "Arema vs Persebaya adalah terakhir saya untuk seumur hidup melihat sepak bola Indonesia, terkhusus mendukung secara langsung di tribun."

[KLARIFIKASI]

Setelah melakukan penelusuran dan update informasi di atas, ditemukan fakta bahwa Rusdi sebetulnya hanya berpura-pura atau melakukan prank. ERA coba mengonfirmasi kepada suporter Aremania, Porong yang ikut mengantar Rusdi ke RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

Faktanya, Rusdi diketahui berbohong terkait pengakuannya kehilangan tiga rekannya dalam tragedi Kanjuruhan, beberapa waktu lalu. Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini.

 

Rekomendasi