Perawan atau Tidak, Pantaskah Ditanyakan Depan Publik?

| 18 Nov 2022 07:31
Ilustrasi. (ERA/Nisa Rahma Tanjung)

ERA.id - Adakah waktu yang tepat untuk mempertanyakan keperawanan? Kalau pertanyaan ini dilempar ke youtuber pengabdi adsense macam Deddy Corbuzier, jawabannya akan lugas: ketika take podcast bareng tamu perempuan berstereotipe nakal. Terbukti, di depan jutaan pasang mata yang menonton videonya, Deddy tak segan bertanya ke Catheez hingga Angelia Christy: kamu masih perawan?

Livy Renata setidaknya tiga kali diundang ke podcast Close The Door-nya Deddy, ia selamat dari pertanyaan itu, tapi akhirnya dongkol juga dengan kelakuan si mantan pesulap. "Semoga suatu hari ada bintang tamu yang ga dibikin uncomfortable with your question ya," tulisnya di twitter sambil mengunggah cuplikan video Deddy dengan Catheez.

Sebetulnya bukan cuma Deddy yang gemar bertanya soal status keperawanan, Nikita Mirzani juga sering menembak pertanyaan itu ke perempuan-perempuan yang mampir ke kanalnya, dan banyak konten lain bertebaran di Youtube dengan narasi serupa. Cari saja kata kunci: masih perawan. 

Keperawanan sejak lama jadi obrolan tabu. Namun, apa sih keperawanan? Di KBBI ia dibilang sebagai kesucian seorang gadis. Lalu timbul lagi pertanyaan, apa maksud kesucian di sana? 

Secara umum itu diartikan saat seorang perempuan belum pernah berhubungan seksual sampai penetrasi, dan dahulu sering ditandakan dengan utuhnya selaput dara. Maka konon, orang-orang tua dulu menggelar kain putih di atas ranjang pengantin perempuan saat malam pertama untuk mencari tahu ia masih perawan atau tidak.

Zaman berganti, teknologi berkembang, hari ini kita sadar selaput dara bisa sobek tanpa harus penetrasi seksual, dan perempuan tak mesti berdarah saat berhubungan badan pertama kali. Keperawanan jadi sesuatu yang lebih misterius dan intim. Tanpa pengakuan, itu akan terus jadi rahasia.

Lalu mengapa hari ini status keperawanan dengan gampang diumbar ke publik? Padahal, tes keperawanan di institusi macam TNI saja sudah ditiadakan sejak 2021. Ironisnya, saat kesadaran tentang keperawanan sebagai wilayah privat mulai ditanggapi serius oleh sebagian golongan, di sisi lain itu mulai dilirik sebagai komoditas konten di media. 

Jauh sebelum keperawanan, perempuan sendiri memang sudah lama jadi komoditas konten, lebih-lebih di dunia hiburan. Untuk mendongkrak penonton, jurus mendatangkan perempuan yang menarik secara visual hampir selalu mujarab. Makanya sejak zaman Warkop DKI hingga menjamurnya content creator sekarang, para angel atau perempuan cantik nan seksi tak pernah luput menghiasi layar kaca.

Sialnya, semakin kemari, semakin hilang batas antara dunia privat dengan publik. Masyarakat rasanya tak cukup hanya menikmati karya seseorang, tapi ngebet pengen tahu kehidupan pribadinya di balik layar. Dulu, artis-artis harus nunggu diliput media gosip dulu, tapi sejak ada Youtube, mereka sudah bisa memproduksi tayangan sendiri. Walhasil, makin marak konten keseharian hidup artis seperti daily vlog.

Hari ini, kebanyakan konten-konten yang kita konsumsi adalah hasil kombo maut dari masyarakat yang hobi julid, media yang seakan tak terbatas, dan public figure yang rela menjual privasinya demi cuan. Lebih banyak sensasi ketimbang esensi. 

Semakin dalam sebuah konten menyeberang batas privasi seseorang, apalagi artis, akan semakin disukai. Begitulah orang-orang macam Deddy memproduksi kontennya. Akhirnya, pertanyaan seputar keperawanan dianggap hal yang wajar di dunia konten, dan tak lagi sebatas jadi bahan obrolan di tongkrongan.

Memang tak ada undang-undang yang melarang bertanya ‘kamu masih perawan?’ di depan publik. Sama juga tak ada larangan bertanya ke perempuan yang sudah lama menikah tapi belum hamil-hamil, ‘kok belum punya anak?’, atau bertanya ke suami yang baru ditinggal mati istrinya, ‘kapan nikah lagi?’. Namun, hanya karena itu tidak dilarang, apa lantas kita sebagai orang waras bakal melakukannya? Tentu tidak, bukan?

Kita menyebutnya sebagai etika. Menurut filsuf Bertens dalam bukunya, Pengantar Etika Bisnis, etika adalah refleksi kritis tentang apa yang harus dan yang tidak boleh dilakukan. Ada berbagai cabang dalam teori etika, yang paling gampang diterima orang banyak mungkin etika konsekuensialis.

Dalam etika konsekuensialis, suatu keputusan dianggap benar secara etis jika ia mendatangkan hasil positif. Atau seperti kredo terkenal dari kaum utilitarian yang digaungkan Mill dan Bentham: the greatest happines for the greatest number 'kebahagiaan sebesar-besarnya untuk orang sebanyak-banyaknya'.

Sekarang, bertanya 'kamu masih perawan?' di depan publik lebih sering menciptakan kebahagiaan atau kerisihan? Jawaban apa yang diharapkan dari pertanyaan macam itu, selain untuk memuaskan ego dan rasa penasaran kita? Apakah pada kesempatan lain kita bisa menerima pertanyaan sensitif tentang diri kita yang datang dari orang asing? 

Deddy sering memanggil penonton channel Youtube-nya sebagai smart people, ia membranding dirinya sebagai pemandu acara yang cerdas, open minded, dan banyak wawasan. Sayangnya, Deddy tampaknya tidak cukup beretika untuk membedakan mana pertanyaan yang pantas dan tidak pantas ditanyakan depan publik.

Rekomendasi