Memahami Alasan Mas Menteri Nadiem Tolak Melayu Jadi Bahasa Resmi ASEAN

Tim Editor

Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri dan Presiden Indonesia Joko Widodo (ANTARA)

ERA.id - Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kedua di ASEAN. Usulan itu membuat geger warganet Indonesia dan Malaysia pada awal April. Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan Republik Indonesia menolak usulan itu. 

Jauh sebelum negara-negara di Asia Tenggara berdiri, bahasa perdagangan di Negeri Bawah Angin ini menggunakan bahasa Melayu. Kota-kota pelabuhan di Tanah Air begitu familier dengan bahasa Melayu.

Bahasa Melayu adalah lingua franca selama berabad-abad. Bahkan, diperkirakan bahasa ini sudah berkembang di Filipina sekitar 2500 tahun sebelum masehi dalam bentuk Proto Melayu-Polinesia. 

Bahasa Proto Melayu-Polinesia berkembang menjadi beberapa cabang bahasa baru seiring dengan migrasi para penggunanya ke beberapa wilayah di Nusantara, kisaran 2000 SM. 

Pada era kolonial, bahasa ini dipilih sebab Melayu dianggap mudah digunakan daripada beberapa bahasa mayoritas di Indonesia.

Pada 1 April 2022, Perdana Menteri Malaysia Dato' Sri Ismail Sabri menyampaikan kepada Presiden Indonesia Joko Widodo bahwa bahasa Melayu mesti menjadi bahasa "resmi kedua" ASEAN. Pengakuannya, Joko Widodo telah mendukung usulan tersebut. 

Anehnya, beberapa hari kemudian, setelah pertemuan bilateral itu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menolak usulan dari perdana menteri Malaysia. Dalam keterangannya, Nadiem mengatakan "Saya sebagai Mendikbudristek, tentu menolak usulan tersebut. Namun, karena ada keinginan negara sahabat kita mengajukan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN, tentu keinginan tersebut perlu dikaji dan dibahas lebih lanjut di tataran regional."

Sang presiden setuju, menterinya menolak. Salah satu alasan mengapa Mas Menteri menolak sebab kepopuleran bahasa Indonesia lebih tinggi daripada Melayu. Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) telah diselenggarakan oleh 428 lembaga, difasilitasi pemerintah Indonesia maupun bergerak secara mandiri oleh pegiat BIPA. 

Bahasa Indonesia pun diajarkan sebagai mata kuliah di beberapa kampus di Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan di perguruan tinggi di Asia, misal Cina dan Jepang. 

Keinginan Perdana Menteri tersebut ditanggapi oleh Billy Nathan Setiawan, kandidat PhD dalam linguistik terapan di University of South Australia, di The Conversation. Menurutnya, "bahasa resmi pertama" ASEAN itu tidak ada. 

Bila bahasa Inggris digunakan dalam pergaulan di komunitas ASEAN, bukan berarti menjadi bahasa resmi pertama. Secara de facto, memang petinggi negara ASEAN menggunakan bahasa Inggris.

Menurut Billy, "bahasa resmi" dan "bahasa kerja" itu beda. Di piagam ASEAN, di Pasal 34 berisi bahwa "Bahasa kerja ASEAN adalah bahasa Inggris". Dan tidak ada pasal mengenai bahasa resmi. 

Bahasa resmi digunakan untuk semua dokumen, sedangkan bahasa kerja digunakan untuk komunikasi internal. Sehingga menurut Billy, pengajuan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kedua tidaklah tepat, sebab di komunitas ASEAN belum ada bahasa resmi pertama. 

Di dalam video pertemuannya dengan Joko Widodo, Ismail Sabri mengatakan bahasa Melayu mesti menjadi bahasa ASEAN karena bahasa Melayu adalah bahasa serumpun. Bahasa Melayu Malaysia; bahasa Melayu Indonesia; bahasa Melayu Brunei; bahasa Melayu selatan Thailand; bahasa Melayu Champa di Kamboja; bahasa Melayu Filipina; dan bahasa Melayu Singapura.

Akan tetapi, bahasa Melayu yang benar-benar Melayu ala Malaysia sudah jauh dari bahasa percakapan di Indonesia, mungkin di beberapa tempat di Sumatra masih menggunakannya, tidak di tempat lain. Orang-orang Indonesia tahu bahasa Melayu dari Upin-Ipin di TV. 

Sebelum Ismail mengusulkan ke ASEAN, tahun 2017 PM Najib Razak juga sudah menyampaikan usulan tersebut. Pengajuan dari Ismail Sabri itu memantik keributan di Twitter. Pro dan kontra pun hadir. Warganet Indonesia dan Malaysia dihadap-hadapkan, walau beberapa warganet Malaysia pun tidak setuju dengan perdana menteri mereka. 

Namun, kenapa warganet Indonesia reaktif? Kalau dilihat dari jejak kedua negara ini, tidak saja bahasanya yang dipersoalkan, tetapi juga banyak hal, dari kuliner, fesyen, hingga budaya. 

Sepertinya, Dato' Ismail Sabri mesti rajin-rajin tengok warganetnya di Twitter. Sebab, tahun lalu, warganet Malaysia cemburu dengan warga Indonesia yang setia kepada bahasa Indonesia. Mereka protes kepada akun resmi Twitter Netflix Malaysia yang menggunakan bahasa Inggris setiap cuitannya dan profilnya. Lain hal dengan akun resmi Twitter Netflix Indonesia yang tetap menggunakan bahasa Indonesia. 

Selain itu, yang menjadi pertanyaan untuk Perdana Menteri (PM) Malaysia Ismail Sabri, apakah warga (Melayu, India, dan Cina) Malaysia sudah menggunakan bahasa Melayu atau belum? Alih-alih mengajukan ke ASEAN, lebih baik ajukan kepada warga Malaysia sendiri saja dulu.

(ANTARA)

 

Tag: Ismail Sabri joko widodo asean

Bagikan: