ERA.id - Produk kental manis (SKM) masih menjadi sinyal bahaya yang banyak dikonsumsi oleh anak-anak hingga balita. Bahkan kental manis kerap kali dikonsumsi oleh anak-anak tanpa disadari oleh orang tua.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) bersama tim peneliti Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba), sepanjang tahun 2026 masih ditemukan konsumsi kental manis pada anak dengan angka yang cukup tinggi. Survei ini dilakukan terhadap lebih dari 2.150 orang tua yang memiliki anak usia 0–5 tahun.
Dari hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 67,9 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan. Bahkan, paparan sudah terjadi sejak usia yang sangat dini.
Kemudian sebanyak 50,84 persen balita usia 1–3 tahun telah mengonsumsi kental manis, sementara 6,65 persen bayi di bawah satu tahun terpapar melalui campuran makanan pendamping ASI (MPASI).
Menariknya, paparan kental manis tidak selalu berasal dari segelas minuman manis. Banyak anak mendapatkannya melalui berbagai makanan yang tampak biasa di meja makan keluarga.
Sebanyak 13,65 persen responden mengaku anak mereka mengonsumsi kental manis melalui roti, jajanan, minuman kemasan, makanan penutup, hingga berbagai produk olahan lainnya. Artinya, meskipun orang tua merasa tidak lagi memberikan kental manis secara langsung, anak tetap bisa mengonsumsinya dalam berbagai bentuk makanan sehari-hari.
Ketua tim peneliti, Ivan Firmansyah, menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan konsumsi kental manis bukan hanya soal kurangnya pengetahuan gizi. Menurutnya, ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan orang tua, mulai dari kebiasaan keluarga, lingkungan sosial, kemudahan akses produk, hingga pertimbangan ekonomi.
Bukan hanya itu saja, yang menarik perhatian justru praktik pemberian kental manis juga ditemukan pada keluarga dengan tingkat pendidikan tinggi. Mayoritas responden bahkan berasal dari kelompok lulusan sarjana dengan beragam latar belakang pekerjaan.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan dan budaya konsumsi keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pola makan anak.
Dokter umum yang berpraktik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, dr. Rizky Suganda P., menilai hasil survei ini cukup menggambarkan kondisi yang sering ditemui di lapangan. Menurutnya, anak usia 1–3 tahun membutuhkan sumber nutrisi yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan optimal.
Sementara itu, kental manis memiliki kandungan gula yang tinggi, tetapi kandungan protein dan mikronutrien yang relatif rendah. Namun yang perlu menjadi perhatian orang tua saat ini bukan hanya konsumsi kental manis secara langsung, melainkan akumulasi gula tambahan dari berbagai makanan dan minuman sehari-hari.
Misalnya, anak sarapan roti dengan tambahan kental manis, mengonsumsi jajanan manis di sekolah, minuman kemasan saat sore hari, lalu menikmati makanan penutup pada malam hari. Jika dijumlahkan, asupan gula harian bisa menjadi sangat tinggi tanpa disadari.
Paparan rasa manis yang berulang sejak usia dini ternyata dapat memengaruhi preferensi makanan anak di masa depan. Dr. Rizky menjelaskan bahwa anak yang terbiasa mengonsumsi makanan manis cenderung menjadi kurang menyukai buah, susu tanpa tambahan gula, maupun air putih.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, prediabetes, hingga gangguan pola makan. Tidak sedikit pula anak yang menjadi picky eater atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu yang memiliki rasa lebih kuat dan manis.
Dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, dr. Viramitha Kusnandi Rusmil, Sp.A(K), mengingatkan bahwa kental manis memang tidak dirancang sebagai sumber nutrisi utama bagi anak. Menurutnya, usia 1–3 tahun merupakan masa emas pertumbuhan yang membutuhkan asupan protein, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang cukup untuk mendukung tumbuh kembang optimal.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan bukan hanya seberapa banyak anak makan, tetapi juga kualitas nutrisi yang dikonsumsi setiap hari.
Di tengah banyaknya pilihan makanan dan minuman manis yang mudah ditemukan, orang tua perlu lebih cermat membaca informasi kandungan gizi pada kemasan produk. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Membiasakan anak minum air putih sejak dini
- Membatasi makanan dan minuman dengan tambahan gula
- Memilih sumber protein dan nutrisi yang sesuai dengan usia anak
- Membiasakan konsumsi buah sebagai camilan
- Membaca label kandungan gula sebelum membeli produk makanan atau minuman.
Temuan survei ini menjadi pengingat bahwa tantangan gizi anak masa kini tidak hanya terkait kecukupan makanan, tetapi juga kualitas pola konsumsi yang terbentuk sejak usia dini. Dengan pendampingan yang tepat, orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan makan yang lebih sehat untuk masa depannya.