Polusi Udara Bisa Sebabkan Ganguan Kesehatan Mental

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Polusi udara dapat membahayakan kesehatan manusia, terutama gangguan pada saluran pernapasan. Tapi apakah kamu tahu bahwa polusi udara juga dapat menyebabkan kesehatan mental terganggu? 

Sebuah penelitian baru mengungkap bagaimana hubungan air yang beracun akibat pencemaran air, kemudian menguap dan menyebar menjadi pencemaran udara, dengan tekanan psikologis yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Semakin tinggi tingkat partikel beracun dalam air, semakin tinggi dampaknya terhadap kesehatan mental. "Ini benar-benar mengungkapkan lintasan baru pada dampak kesehatan yang disebabkan oleh polusi udara," kata Anjum Hajat, peneliti dari Universitas Washington Amerika Serikat.

Penelitian yang melibatkan 6.000 responden ini telah mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh terhadap kesehatan mental dan fisik seperti ketersediaan makanan yang sehat di pedagang lokal, akses kepada alam, dan keamanan lingkungan. 


(Ilustrasi/era.id)

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Health and Place itu juga mengungkapkan, bahwa pencemaran air erat kaitannya dengan perubahan perilaku, seperti menghabiskan lebih sedikit waktu di luar ruangannya atau membuat orang menjalani hidup dengan lebih menetap.

Hal yang demikian sejatinya merupakan faktor yang dapat dikaitkan dengan tekanan psikologis atau isolasi sosial, seperti mudahnya terkena gangguan mental.

Selain itu, peneliti juga fokus meneliti variabel  soal partikel halus yang dihasilkan oleh mesin mobil, perapian dan kompor kayu, dan pembangkit listrik yang berbahan bakar batubara atau gas alam. 

Baca Juga : Polusi Udara Sebabkan Kematian Global

Fakta lain yang didapat dari studi tersebut adalah risiko tekanan psikologis meningkat bersamaan dengan jumlah partikel halus di udara. Partikel yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer--dalam diameter--lebih mudah dihirup, dan dapat diserap ke dalam aliran darah yang dianggap berisiko lebih besar daripada partikel yang lebih besar. 


Foto: Twitter @WHO

Tag: kesehatan

Bagikan: