Black Friday dan Gempuran Diskon Sepanjang November

| 23 Nov 2018 14:54
Black Friday dan Gempuran Diskon Sepanjang November
Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - November adalah bulannya diskon besar-besaran. Selang 17 hari pascapesta diskon Singles Day dihelat, hari ini masyarakat Amerika Serikat kembali dihampiri pesta diskon dengan tajuk Black Friday.

Jutaan orang Amerika Serikat turut berpartisipasi dalam pesta ini. Menurut survei Deloitte seperti dinukil CNN, lebih dari 70 persen orang yang berencana belanja pada musim liburan Natal akan berubah haluan untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan pada acara Black Friday tahun ini. 

Barang yang paling banyak dibeli adalah barang elektronik dan mainan, karena barang-barang tersebut diberi potongan harga yang paling menggiurkan.

Sebagian besar pengecer memasang pemindaian, kupon, dan penawaran iklan Black Friday mereka secara online setelah sebelumnya memberi waktu kepada konsumen untuk memilih dan mencari tahu tentang diskon penjualan dan merencanakan pembelian konsumen. 

Sejak 1950

Black Friday adalah acara pesta diskon tahunan di Amerika Serikat yang sudah berlangsung sejak tahun 1950-an, di Philadelphia. Pada waktu itu, gerombolan konsumen dari pinggiran menyerbu kota tersebut selama beberapa hari setelah perayaan Thanksgiving.

Mereka ramai-ramai memadati kota itu lantaran para penjual di sana mempromosikan penjualan dengan diskon yang sangat besar dalam rangka menyongsong pertandingan sepak bola Army/Navy, yang jatuh pada hari Sabtu.

"Ini adalah event besar ganda", kata Bonnie Taylor-Blake, peneliti neurosains dari University of North California.

"Polisi lalu lintas diharuskan bekerja selama 12 jam, orang-orang membanjiri trotoar, tempat parkir, dan jalan-jalan. Polisi harus berurusan dengan itu semua, dan terciptalah istilah itu (Black Friday)" jelas Taylor-Blake kepada CNN menceritakan keruwetan yang terjadi pada 1950 silam.

Pedagang kota juga mulai menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan kejadian yang membuat riuh toko mereka. 

Kemudian pada tahun 1961, karena penyebutan Black Friday dinilai berkonotasi negatif, maka sebutan Jumat Hitam itu diganti dengan Big Friday. Namun hal itu tidak berhasil. Seiring berjalan waktu, istilah penamaan "Black Friday" terus meluas.

Sekitar tahun 2003, para pengecer mulai menaikkan taruhan penjualannya dengan menyesuaikan waktu buka toko. Kmar, Walmart, dan Sears misalnya, ketiga perusahaan retail itu membuka toko mereka sebelum fajar menyingsing, yakni pukul 5 atau 6 pagi.

Muncul Cyber Monday

Lalu, seiring berkembangnya internet, momen Black Friday dimanfaatkan oleh para peritel dengan memperpanjang pesta dikon itu dengan membuat event diskon lainnya pada tahun 2005 yakni: Cyber Monday.

Nama tersebut diciptakan oleh Federasi Ritel Nasional sebagai cerminan kegilaan belanja yang dirasakan pada toko-toko ritel fisik di Black Friday. 

Sebenarnya event-nya sama, hanya saja event yang akan digelar pada Senin (26/11) mendatang dikhususkan untuk penjualan online. Bisa dibilang Cyber Monday merupakan kelanjutan demam belanja Black Friday, di mana sebagian pekerja baru menerima gaji bulanan mereka. 

Popularitas Pesta diskon Cyber Monday meledak sejak saat itu. Pada tahun lalu saja, menurut laporan Adobe, penjualannya mencapai 6,59 miliar dollar AS. Hal itu berhasil mendapuk acara Cyber Monday ini menjadi hari belanja online terbesar yang pernah ada di Amerika Serikat.

Para pembeli mengatakan bahwa sebagian besar diskon dan promosi merupakan faktor terbesar dalam memilih toko untuk berbelanja, faktor selanjutnya yang memengaruhi seseorang untuk berbelanja yakni: pengiriman gratis dan lokasi yang nyaman.

Rekomendasi