Penelitian: Musik Death Metal Bikin Bahagia

Tim Editor

Aksi panggung salah satu band death metal Indonesia, DeadSquad (Foto: Wandy Ramadhan)

Melbourne, era.id - Penelitian terhadap jenis musik 'berat' (heavy) dan statusnya sudah banyak dilakukan di dunia selama beberapa tahun terakhir. Garis besarnya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa lirik yang agresif ternyata baik untuk jiwa.

Disebutkan, penggemar metal menjadi sangat setia dan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih baik. Mereka juga akan lebih peduli dengan cara kerja daripada perasaan orang lain sekaligus mampu melawan rasa takut terhadap kematian.

Kini, dinukil dari Loudersound.com, Kamis (14/3/2019) sebuah studi yang dilakukan universitas MacQuarie Australia secara resmi menyatakan, penggemar death metal--salah satu subgenre heavy metal--lebih mungkin mengalami perasaan sukacita batin.

"Penggemar musik death metal fanatik mendapatkan kekuatan, kegembiraan dan kedamaian saat mendengarkan musik ini," kata penelitian itu.

Laboratorium musik universitas menggunakan lagu milik band death metal Swedia, Bloodbath yang bertajuk Eaten dalam pengujian psikologis terhadap 80 peserta--32 di antaranya adalah penggemar death metal--yang bertujuan untuk mengetahui apakah paparan jangka panjang terhadap media kekerasan dapat menurunkan sensitivitas terhadap penggambaran kekerasan atau tidak. 
 


Studi ini menemukan, para peserta yang tidak terbiasa dengan musik death metal merasa tidak nyaman dan sering mengalami ketegangan, kemarahan dan ketakutan ketika mendengarkan genre ini. Sementara para penggemar death metal justru merasa damai, gembira, kuat dan takjub. 

Dan yang paling penting, studi ini memastikan, penggemar musik ekstrim tidak identik dengan citra brutal atau kekerasan.

Studi ini merupakan bagian dari penyelidikan jangka panjang yang dilakukan profesor Australia Bill Thompson tentang efek emosional musik. 

"Penggemar death metal adalah orang-orang baik," Thompson mengatakan kepada BBC. "Mereka tidak akan melukai orang lain."

Dia melanjutkan: "Banyak orang menikmati musik sedih, dan itu sedikit paradoks--mengapa kita ingin membuat diri kita sedih? Hal yang sama dapat dikatakan tentang musik dengan tema agresif atau kekerasan. Bagi kita, itu adalah paradoks psikologis. Sebagai ilmuwan, kami ingin tahu, dan pada saat yang sama kami menyadari kekerasan di media adalah masalah yang signifikan secara sosial. "

Thompson menulis dalam The Conversation: "Alih-alih membuat penggemar merasa bermusuhan, musik death metal membantu mereka melepaskan atau mengalihkan perhatian dari perasaan negatif mereka sendiri, meningkatkan tingkat energi, dan menghasilkan kondisi emosi mendalam yang kuat.

"Yang tidak menggemari death metal bisa dimengerti jika terganggu oleh lirik bertema kekerasan, yang biasanya tidak memiliki konteks naratif dan poin moral yang membenarkan representasi kekerasan dalam teater atau film.

"Namun, penggemar jenis musik ini biasanya tidak menyatakan keprihatinan tentang lirik tersebut. Ketika menggambarkan motivasi mereka untuk mendengarkan musik, seorang penggemar berspekulasi bahwa 'Ini ada hubungannya dengan teriakan utama dalam diri kita: ini adalah sebuah pelampiasan--menerima dan mewakilkan isi hati'."

Yuk, dengerkan musik death metal sekarang juga!
 

Tag: album musik

Bagikan: