Perempuan Tanah Jahanam: Pengorbanan Membawa Petaka

Tim Editor

Salah satu scene film Perempuan Tanah Jahanam (Foto: Twitter @TanahJahanam)

Jakarta, era.id - Sejatinya, selalu ada bagian hidup di mana kita dituntut harus berkorban. Karena pada kenyataannya, kita tidak bisa memiliki semua yang diinginkan. Itu yang tergambar dari film terbaru Joko Anwar yang berjudul Perempuan Tanah Jahanam. Meskipun menilik judulnya penuh keseraman, film ini memiliki nilai cerita yang bertumpu pada pengorbanan.

Perempuan Tanah Jahanam adalah karya terbaru Joko Anwar setelah sebulan lalu merilis Gundala. Dua tahun lalu, Joko Anwar membuat adaptasi Pengabdi Setan dan menerima banyak apresiasi baik dari dalam negeri dan luar negeri. Joko Anwar memang dikenal andal dalam meramu formula untuk genre thriller horor. Ia pun merasa memiliki kenyamanan dalam membuat film horor dan Perempuan Tanah Jahanam adalah “anak”-nya yang baru.

Cerita bermula ketika Maya (Tara Basro), seorang karyawan penjaga tol malam, merasa risih karena bertemu seorang laki-laki yang menatapnya tajam. Suatu saat, lelaki itu mencoba membunuhnya tanpa menjelaskan apa alasannya. 

Dini (Marissa Anita) sesama pekerja sekaligus sahabatnya, mencoba menolong Maya dari kondisi itu. 

Selanjutnya, Maya mendapat petunjuk bahwa dia memiliki harta warisan peninggalan orang tuanya di desa. Maya mengajak Dini mencari warisan tersebut dengan harapan bisa mengubah kondisi ekonominya yang buruk.

Dalam perjalanannya ke desa, Maya dan Dini bertemu hal-hal yang aneh. Setelah menemukan rumah besar yang usang milik orang tua Maya, mereka memutuskan menempati rumah tersebut sembari mencari tahu bagaimana cara menjualnya. Sampai pada suatu malam, mereka mengalami kejadian yang membahayakan nyawa mereka.
 


Sedari awal cerita, Perempuan Tanah Jahanam berhasil memberi teror tanpa menghadirkan jumpscare berlebih. Kamu akan ditarik dengan kisah Maya dan Dini dalam memecahkan keping-keping kosong di dalam misteri warga desa. Karena itu, atmosfer creepy mendominasi sebagian cerita.

Banyak sekali cerita pengorbanan yang dilakukan dalam film. Pengorbanan kepada pekerjaan, pengorbanan kepada hidup, atau berkorban demi cinta kepada anak. Tidak ada yang cerita yang terlihat dipaksakan, semua mengalir apa adanya.

Para aktor yang ada di Perempuan Tanah Jahanam memang sudah memiliki kelasnya, tetapi izinkan kami mengapresiasi akting brilian Ario Bayu sebagai Ki Saptadi dengan dialog bahasa Jawa serta Asmara Abigail sebagai Ratih yang selalu menyihir dengan ekspresi misteriusnya.

Selain itu, tim produksi perlu diberikan shout-out dalam film ini. Mereka berhasil membuat latar belakang desa menjadi sesuatu yang tampak believable. Karakter pelengkap di desa juga tidak kaku dalam mengekspresikan misteriusnya rahasia desa. Musik yang disusun oleh Aghi Narottama,  Bemby Gusti, Tony Merle, serta Rahayu Supanggah menambah efek ngeri dalam Perempuan Tanah Jahanam.

Jika kamu ingin membandingkan Perempuan Tanah Jahanam dengan Pengabdi Setan, sebaiknya jangan. Karena kedua film memiliki formula dan feel yang berbeda. Jika kamu melihat wawancara Joko Anwar selama promosi, Dia dengan lantang mengatakan Perempuan Tanah Jahanam akan lebih horor daripada Pengabdi Setan.

Bukan film Joko Anwar jika tidak ada sisi kritik sosialnya. Lewat Perempuan Tanah Jahanam, kita melihat bahwa tidak hanya setan yang bisa menyeramkan. Manusia juga ternyata bisa lebih menyeramkan.

Film Perempuan Tanah Jahanam sudah bisa ditonton mulai 17 Oktober 2019 di bioskop-bioskop tanah air. Film ini diberi rating Dewasa 17 Tahun, jadi jangan bawa anak kamu ke dalam bioskop untuk menonton Perempuan Tanah Jahanam. Selamat menonton!


Poster Perempuan Tanah Jahanam (Foto: Twitter @TanahJahanam)

Tag: resensi film film indonesia hari film nasional 2018

Bagikan: