Beri Ruang Buat Seniman Ondel-ondel

Tim Editor

Ondel-ondel sedang 'beraksi'

Mak, bapak ondel-ondel ngibing
Ngarak penganten disunatin
Goyangnye asyik endut-endutan
Nyang ngibing igel-igelan


Jakarta, era.id - Penggalan lirik dari lagu seniman kondang betawi, mendiang Benyamin Sueb ini mengantar kita ke ingatan lama. Sebuah penggambaran kesenian asli betawi, ondel-ondel pada zamannya. Bang Ben, begitu biasa dipanggil, menggambarkan antusiasme masyarakat ketika pagelaran ondel-ondel dimulai.

Kesenian yang menjadikan boneka raksasa menjadi ciri khasnya ini biasanya dimainkan ketika ada acara khusus. Seperti pada penggalan lirik lagu Bang Ben tersebut, ondel-ondel hadir di acara sunatan, peresmian kantor, dan pawai budaya. 

Namun di lapangan, ondel-ondel kini lebih sering menjadi ‘alat’ sumber penghasilan. Ngamen ondel-ondel kini malah menjamur hingga pinggiran Jakarta, seperti Depok.

Budayawan Prie GS angkat bicara mengenai fenomena ondel-ondel ngamen. Menurut Prie, pemerintah perlu menyediakan ruang khusus bagi para seniman. Tujuannya supaya para seniman, khususnya seniman ondel-ondel,  lebih terangkat kedudukan dan martabatnya.

"Kesenian harus diberi ruang dan harus dikonservasi saya kira ondel-ondel itu kan juga kalau kita mau berprasangka baik kepada pengamen itu yah, apapun mungkin kelemahan-kelemahan dan kekurangan para pengamen itu mereka punya loh semangat berkonservasi. Nah coba kalau mereka diberi tempat. Dibuatkan festival tahunan kalau tidak setengah tahunan saya kira kedudukan mereka akan lebih terangkat," kata Prie ketika dihubungi era.id, Selasa (6/2/2018).

Budayawan asal Kaliwungu Kendal ini mengatakan degradasi nilai dapat saja terjadi apabila suatu budaya ditempatkan dan difungsikan pada tempat yang salah. "Jadi kalau semua difungsikan pada tempatnya tentu menjadi kontekstual. Tetapi kalau ia diperalat untuk tujuan-tujuan yang lebih rendah, nah ini masalah," jelasnya.
 
Selain itu, budayawan sekaligus motivator ini juga mengatakan selama gelaran ondel-ondel tidak melanggar kaidah etik dan artistik maka degradasi nilai tidak akan terjadi.

"Nah kita lihat saja, apakah kasus ngamen dengan ondel-ondel itu apakah memenuhi kaidah-kaedah etik dan artistik, itu tentu harus dilihat kasus per kasus. Saya tidak ngerti apakah para pengamen itu sudah memenuhi kaidah-kaidah itu atau ada pelanggaran-pelanggaran di dalamnya. Pelanggaran pun saya kira bukan pelanggaran-pelanggaran sosial loh, tapi pelanggaran etik dan artistik itu. Tetapi kan ini juga menjadi persoalan kalau tidak disikapi dengan baik," beber Prie.

Prie mengatakan budaya dan seni merupakan gambaran dari moral masyarakat. Menurutnya jika budaya asli yang dimiliki suatu masyarakat mengalami degradasi, sesungguhnya itu cerminan moralnya.

Bagikan: