Terkuak! Tak Hanya Pengurus PAUD, Ketua RW di Karang Tengah Juga Tarik Iuran hingga Ratusan Ribu ke Pedagang

| 21 Nov 2021 23:14
Ketua RW 04 Perumahan Griya Kencana, Karang Tengah Kota Tangerang, Maman Abdul Karim (Iqbal/era.id)

ERA.id - Tak hanya Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Anyelir di Perumahan Griya Kencana I, Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Karang Tengah Kota Tangerang saja.

Ketua RW 04 di wilayah tersebut, Maman Abdul Karim juga meminta jatah bulanan kepada pedagang yang berjualan di sekitar untuk biaya sewa.

Salah satu pedagang yang tak disebutkan namanya mengatakan biaya tersebut peraturan dari Maman. Kata dia, setiap bulan dirinya harus membayar Rp200 ribu bila ingin berjualan di lokasi sekitar.

"Itu memang peraturan dari pak RW, ya sudah pokoknya nurut saja cuman karena awalnya tawarannya segitu Rp 500 ribu atau Rp400 ribu kisaran segitulah," ujarnya, Minggu, (21/11/2021).

Pedagang ini mengatakan awalnya dia dimintai Rp 500 ribu per bulannya. Namun, jumlah itu tak disanggupinya karena dinilai terlalu mahal.

"Akhirnya saya kayak nawar gitulah ya kalau segitu saya tidak mau, kalau sebanyak Rp 200 ribu mungkin insyallah ya," ungkapnya.

Dia mengatakan setiap pedangan memang dimintai uang oleh Maman. Besarannya pun bervariasi, tergantung kemampuan dan tawar-menawar.

"Iya tadinya gitu kayak tawaran, yaudah nanti semampunya kamu aja berapa," katanya.

Pedagang ini mengaku keberatan dengan biaya tersebut. Karena pendapatannya dari hasil berdagang harus dibagi lagi dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Mulai dari makan sehari-hari, bayar kontrakan hingga memberikan uang untuk keluarga di kampung.

"Jujur sangat keberatan, karna kebutuhan dirumah saja udah keteter banget saat ini. Tadinya kan jualan bisa 2 kali tuh, sekarang sekali saja nggak pernah penuh bang bayangin," tuturnya.

"Taruhlah dapetnya Rp300 ribu sampai Rp400 ribu kotor, kalau keuntungan kan ya lumayanlah ya tetapi kan kita punya tagihan kontrakan, belum kirim uang ke kampung," katanya.

Dia mengatakan tagihan itu berlaku bagi semua pedagang yang berjualan di sekitar lokasi. Baik pedagang yang mangkal maupun sekedar lewat saja atau berkeliling.

Tagihan diungkapkan pedagang ini sudah terjadi sejak tiga bulan lalu. Meski terus ditagih dia mengaku belum pernah menyetorkan uang.

"Belum, jadi makanya saya bilang gak usah terlalu di ini soalnya saya nih. Jadi nanti takutnya malah saya jadi kurang nyaman kan gitu, jadi soal saya lupain saja deh," katanya.

Pedagang ini mengaku tak tahu persis kegunaan uang tersebut selanjutnya. Maman kata pedagang ini meminta tagihan sebagai uang keamanan.

"Enggak tahu untuk tujuan apa cuman dia bilangnya 'semua yang jualan disini dikenakan uang iuran atau keamanan'," ungkapnya.

Menurut pedagang ini tagihan itu dilakukan Maman tanpa sepengetahuan warga lainnya. Hal tersebut dibuktikan dengan ketidaktahuan petugas keamanan setempat soal tagihan itu.

"Ya enggak dikasih tau, taunya juga pas nguping disini pas kebetulan ada apa- apa (persolan PAUD diminta Rp 750 ribu)," ungkapnya.

Maman mengakui kalau dirinya memang menarik tagihan ke pedangan di sekitar lokasi. Terutama yang mangkal di Fasos Fasum.

"Semua pedagang yang pakai Fasos Fasum itu kita mau tarik," katanya.

Jumlah pun bervariasi, yang paling mahal pedagang pecel lele yakni Rp 500 ribu per bulan.

"Variasi. (Paling mahal) Rp 00.000, pecel lele . Menempati Fasum. Uang untuk keamanan lingkungan per bulan," katanya.

Maman mengaku kalau tagihan ini dilakukan tanpa adanya instruksi manapun. Hal ini dia lakukan berdasarkan RW lainnya yang juga bertindak sama.

"Enggak ada (instruksi) semua pengurus RW juga begitu," pungkasnya.

Diketahui, sebelumnya RW Maman Abdul Karim ramai diperbincangkan lantaran mengunci Posyandu yang dijadikan Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sehingga para siswa mengadakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di luar. Hal ini Maman lakukan karena tagihan sebesar Rp 750 ribu sebagai sewa tempat itu belum dibayar oleh pengelola PAUD.

 

Tags : tangerang
Rekomendasi