Gandeng Penyanyi Ukraina dengan Meracik Musik Etnis-Elektronik, Oghie Warnai Indonesia Lewat EP 'Refrain'

Tim Editor

Sampul album 'Refrain' dari Oghie dan Anya Shurubey

ERA.id - Seorang musisi sekaligus produser asal Makassar, Sulawesi Selatan, yakni Oghie, menelurkan karya yang menarik.

Merangkul penyanyi asal Ukraina, ia membuat mini album (EP) bertajuk 'Refrain' dengan lagu pamungkas "I Saw The Love".

Sebelum EP itu tersebar luas, ia sudah lebih dulu membuat lagu-lagu bernuansa elektronik yang gampang diterima oleh anak muda.


Judulnya 'The Night Lost Its Mind'. Pertama kali membuat karya, ia memang mengaku ingin membuat industri musik Indonesia lebih berwarna.

Kepada ERA.id, Oghie mengaku telah bermain musik sejak tahun 2001. Sebelum terjun ke industri musik Indonesia, Oghie aktif sebagai produser musik di berbagai layanan daring.

"Akhirnya, saya merilis single perdana berkolaborasi dengan pemain Erhu Asal Singapura Jazreel Luar yang berjudul 'The Night Lost Its Mind' pada pertengahan tahun 2021 lalu," tuturnya.

Dari sana, musiknya kemudian membuatnya digemari di banyak negara seperti Australia, Singapura, Swiss, Jerman, serta beberapa pendengar di Amerika.

Bermusik bersama Anya, kata Oghie, membawanya memadukan musik modern dengan unsur nada oriental khas Asia.

Adapun liriknya yang berbahasa Inggris, dibuat berdasarkan pengalaman pribadi Anya Shurubey sendiri.

"Lirik kegelisahan dalam menjalani suatu hubungan, intinya."

“Oh ya, di dalam album kami, ada 4 lagu. Komposisi pada mini album ini sebenarnya eksperimen kombinasi antara unsur-unsur etnomusikologi di Asia dan Eropa Timur. Yang paling menonjol kedengaran itu di lagu I Saw The Love. Nuansa-nuansa seperti itu sih yang gue mau share di lagu ini. Ya meski ini akan terbilang baru di telinga,” tambahnya.

Oghie sendiri mengaku, dalam musiknya, mereka mengusung genre pop R&B, slap, elektronik, dan tradisional.

"Kami masih meracik musik yang sebenarnya terbilang baru, sih. Di EP kami ini, gue ngerasa terbantu banget sama suara timbre Anya Shurubey," tambah Oghie.

“Lagu ini bergenre eksperimental sih, meski ada genre slap house dan orkestra di beberapa lagu dan inspirasinya lebih ke electronic-oriental pop, karena emang gue lagi seneng banget sama etnomusikologi dan instrumen tradisional seputaran Asia. Namun di satu sisi, dunia electronic music juga, menarik karena latar belakang kuliah saya Teknologi Informasi”, ucap Oghie.

Oghie dan Anya Shurubey (Dok. Oghie)



Postmix Studio di Ukraina pun digandenganya untuk merekam dan me-mixing suara Anya Shurubey.

"Kalau musiknya sih gue garap sendiri di studio gue di Bandung, namun karena gue dan Anya itu beda negara, akhirnya dia merekam suaranya sendiri setelah musiknya jadi, kemudian mengirimkan RAW vokalnya. Jadi di Ukraina itu hanya vocal record dan vocal mixing aja."

Sebagai penyempurna karya ini, Oghie juga mengajak Irman Usman salah satu musisi karawitan untuk men-direct musik tradisinya dan mengisi gendang di lagu I Saw The Love.

“Proses pembuatan musik cukup singkat sih, karena gue udah sering tektokan sama rekan-rekan etnomusikolog. Dan di lagu ini juga gue dibantu Irman Usman, musikus dan pemain instrumen musik tradisional, jadi seru banget sih. Kalo kesulitan hampir enggak ada yah, mungkin lebih ke pengalaman sedih aja, ketika rekaman gendangnya, maestro gendang dunia Abd Muin Dg. Mile asal makassar berpulang, jadi kita sampai harus break dulu sampai perasaan sedih selesai, lalu lanjut recording lagi,” ujar Oghie.

Untuk penulisan lirik pada lagu ini, Oghie menyerahkan ke Anya Shurubey. Liriknya yang sangat easy to catch dan simpel membuat keseluruhan lagu menjadi indah dan easy listening.

Oghie menjanjikan kepada seluruh penanti karyanya bahwa semua musiknya akan mudah untuk dicerna, namun tetap punya musikalitas yang tinggi.
 
“Meskipun liriknya bahasa Inggris, semoga lagu ini bisa disukai oleh semua pendengar musik di tanah air tentunya, bisa memberikan warna baru di musik Indonesia, dan jadi anthem buat temen-temen yang lagi nyari genre baru,” tutur Oghie yang bercita-cita untuk segera dapat mengeluarkan album pertamanya.

Di bawah naungan label Lontar Records, mini album "Refrain" ini telah rilis pada tanggal 12 Desember 2021 lalu, dan kini sudah bisa didengarkan di seluruh digital musik platform yang tersedia.

Tag: album musik musik indonesia digitalisasi musik musik tradisional edm oghie album refrain

Bagikan: