Isi Rekamanan Percakapan Istri AKBP Dody dengan Irjen Teddy Minahasa

| 16 Mar 2023 11:11
Isi Rekamanan Percakapan Istri AKBP Dody dengan Irjen Teddy Minahasa
Terdakwa Teddy Minahasa. (Antara)

ERA.id - Rekaman suara melalui telepon antara mantan Kapolda Sumatera Barat (Sumbar), Irjen Teddy Minahasa dengan istri mantan Kapolres Bukittinggi, AKBP Dody Prawiranegara, Rakhma Darma Putri diputar dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar), Rabu (15/3) kemarin.

Rekaman ini diputar saat Rakhma menjadi saksi meringankan di persidangan terdakwa AKBP Dody. Saksi ini menerangkan dirinya dihubungi Teddy usai suaminya ditangkap karena kasus narkoba.

Teddy yang juga terdakwa kasus narkoba saat itu menjelaskan tujuannya menyuruh Dody untuk menukar dan menjual sabu untuk menangkap Linda Pujiastuti alias Anita.

"Saya dapat informasi dari kepala BIN memang ini udah diincar lama, dibuntuti, padahal tujuan kita kan enggak gitu. Tujuan saya itu supaya Dody bisa nangkep si Anita, lalu saya bisa usulkan ke Bukittinggi lagi kan gitu," ujar Teddy dari rekaman percakapan itu.

Teddy lalu menyampaikan ke Rakhma jika Dody akan dihukum berat karena satu kubu dengan terdakwa Syamsul Ma'arif (Arif) dan Linda di perkara narkoba ini. Agar Dody mendapat hukuman ringan, Teddy ingin agar Dody menjadi satu penasihat hukum dengannya.

Jenderal bintang dua Polri ini juga merencanakan skenario untuk melempar kesalahan Syamsul Ma'arif. Mantan Kapolda Sumbar ini pun menjanjikan ke Rakhma akan memberikan pekerjaan ke Dody bila kasus ini sudah selesai.

Berikut transkip percakapan Teddy Minahasa dengan istri Dody.

Teddy: Neng kemarin yang tulisan saya sudah dipahami oleh Dody ya?

Rakhma: Kemarin kan ama masukkan ke silipan buku, Mas Dody minta dibawakan buku, ama masukkan ke situ. Udah itu dibawa Mas Doddy

Teddy: Nah itu kemarin tulisan saya sudah dipahami oleh dody ya?

Rakhma: Jadi, kalau yang itu kemarin kan Mas Dody minta bawakan buku, ama masukkan ke selipan buku ke situ. Sudah itu dibawa Mas Dody, tapi ama nggak baca Pak, cuma Mas Dody aja kan.

Teddy: Tapi Dody-nya baca nggak?

Rakhma: Harusnya baca, karena saya bilang, 'Mas ini ada di dalam, tolong dibaca'. Ama udah bilang gitu.

Teddy: Terus responnya setelah baca?

Rakhma: Mas Dody kayaknya bacanya di dalam Pak, karena di situ kan Ama lagi sama pengacara sama yang lain juga, jadi nggak dibaca di situ. 

Teddy: Tapi udah yakin nyampe ya?

Rakhma: Em, kalau nyampe diterimanya ya diterima Pak, karena kan saya yang kasih lewat buku, dimasukkan ke buku.

Teddy: Bukunya langsung diterima Dody?

Rakhma: Iya, siap

Teddy: Maksud saya gini Neng biar paham, kenapa kita harus inikan settingan, ini saya dapat infirmasi dari Kepala BIN memang ini udah diincar lama, dibuntuti, padahal tujuan kita kan nggak gitu. Tujuan saya itu supaya Dody bisa nangkep si Anita, lalu saya bisa usulkan ke Bukittinggi lagi, kan gitu 

Nah nanti, rencananya kita buang badan ke Arif semua, biar Dody juga aman. Saya sendiri juga sudah mau dipecat juga gapapa Neng, nanti Dody bisa saya carikan pekerjaan lah bisa sama saya juga bisa.

Kalau sekarang posisinya Dody jadi satu sama Anita lawyer-nya sama, justru akan memberatkan Dody. Mana bisa lawyer nggak dibayar begitu, dibayar oleh negara berapa dia. Jadi pasti ngikutin apa maunya penyidik. 

Nah kalau jadi satu sama saya, nanti saya bisa meringankan Dody, Dody meringankan saya, Dody juga meringankan dirinya sendiri, kita buang badan semuanya ke arif. Gitu ya Neng, paham ya.

Rakhma: Maksudnya buang badan, ama nggak ngerti itu Pak, izin. 

Teddy: Ya maksudnya, ini barang itu punyanya si Arif. Misalkan itu ada barang di Dody 2 kilo, bialng aja punyanya Arif, nggak tau isinya apa, kayu apa kek, kan gitu. Nah kalau kita dipisahkan oleh lawyer ini kan susah komunikasi, jadi saling menggigit jadinya. Paham ya Neng. Tapi Dody mau kan ikut lawyer saya?

Rakhma: Eee, itu dia ama pastikan lagi ke Mas Dody, terakhir ama komunukasi itu ama jawabnya 'jangan Bun nanti jadi sorotan', Mas Dody baru jawab gitu ke ama, waktu itu ama sampaikan ke Mba Lina, mba jawaban bapak, jawaban Pak Dody jangan nanti jadi sorotan kalau satu lawyer. Ama cerita jawaban Mas Dody ke Mba Lena, karena ama nggak bisa geser dari sini

Teddy: Nanti walaupun jadi satu, nanti benderanya kita pisah. Kalau dia jadi satu sama Anita gimana, kasian Mas Dody-nya kan. Kalau dia jadi satu sama Anita, nanti Dody sama saya akhirnya jadi saling menyalahkan. Kalau saya bisa pakai cara menghindar, kalau Dody kan gimana. Paham ya neng ya

Jadi desak aja Dody-nya biar satu lawyer tapi nanti benderanya kita pisah, jadi orangnya beda. 

Rakhma: Iya

Teddy: Nanti bapak paksa aja suruh tanda tangan, Neng.

Rakhma: Siap pak, ama masih nunggu lawyer dulu buat bisa masuk ke dalam, karena ama hari ini nggak bisa ngunjungin Mas Dody di tahanan. 

Teddy: Pokoknya sampaikan saja, kata Bapak harus pisah dari Anita, jadi satu sama Bapak tapi benderanya beda sudah di atur, semua biaya dari Bapak. Kalau dia ikut satu badan dengan Anita, wah nggak ada ringan-ringannya, berat semua. Harus jadi satu sama saya, kalau dia bilang jadi sorotan, ah siapa yang nyorot nggak ada soroyan benderanya beda. 

Beda-beda nantinya. Paksain mas tanda tangan yang itu nyabut yang ini gitu

Rakhma: Nanti ama sampaikan ke Mas Dody 

Teddy: Harus mau ya Neng, ya. Biayanya dari saya. Kalau minta ganti rugi ya nanti ama minta ibu. Sampaikan betul. Prinsipnya bapak bilang jangan saling menjatuhkan, kita saling mendukung merapatkan barisan gitu aja. Caranya ya jadi satu lawyer ini, lawyer dari penyidik dicabut. Kalau diabilang takut jadi sorotan, nanti kita split pakai benderanya beda walau satu kubu.

Rekomendasi