Tangis Sekjen PDIP Singgung Sikap Presiden Jokowi: Manusia Bisa Berubah oleh Sisi Gelap Kekuasaan

| 10 Nov 2023 20:51
Tangis Sekjen PDIP Singgung Sikap Presiden Jokowi: Manusia Bisa Berubah oleh Sisi Gelap Kekuasaan
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. (Dok Youtube Akbar Faisal)

ERA.id - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto tak kuasa menahan tangis saat menyinggung perasaan partainya dengan perubahan sikap Presiden Joko Widodo akhir-akhir ini jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Presiden Jokowi diduga berpaling dari PDIP dan mendukung kandidat lain.

Awalnya, dia mengungkit pertemuan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Presiden Jokowi, dan dirinya pada 17 Oktober 2014. Saat itu, mantan gubernur DKI Jakarta itu hendak dilantik untuk pertama kali sebagai presiden.

Presiden Jokowi saat itu meminta wejangan dari Megawati menjelang pelantikannya pada 20 Oktober 2014 lalu.

"Karena suasana akrab sambil makan, ibu (Megawati) bilang gini, 'dik, ini pesan dari bapak saya dan juga dari pengalaman saya. Jangan lihat Istana dari sisi terangnya, dari sisi gemerlapnya. Tetapi kenali sisi gelapnya kekuasaan. Maka dik Jokowi akan menjadi pemimpin'," ucap Hasto dikutip dari kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Jumat (10/11/2023).

Presiden kelima RI itu, kata Hasto, lantas menjelaskan maksud dari sisi gelap kekuasaan. Menurutnya, seorang presiden merupakan simbol kekuasaan suatu negara, maka akan menjadi magnet bagi orang-orang yang memiliki kepentingan terselubung.

Tak jarang seorang presiden pun akan dikelilingi oleh orang-orang yang bersedia menjadi penjilat hanya untuk menikmati kekuasaan yang dimiliki oleh kepala negara. Oleh karena itu, ketika itu Megawati berpesan kepada Presiden Jokowi untuk menjaga sungguh-sungguh pintu-pintu Istana Kepresidenan.  

"Mohon maaf, kata ibu, kalau perlu menjilat pantatnya presiden. 'Itu dari pengalaman saya loh, dik. Maka hati-hati betul, jaga pintu-pintu Istana dengan baik'," kata Hasto menirukan pesan Megawati kepada Presiden Jokowi. 

Selain itu, kata Hasto, Megawati juga berpesan agar Istana Kepresidenan harus menjadi simbol pengambilan keputusan yang kredibel. Hal itu berdasarkan pengalaman ketika Megawati berpasangan dengan Hamzah Haz. Kedua tokoh tersebut memiliki isyarat khusus jika hendak mengambil keputusan. 

"Jadi ada isyarat. Maka kalau Pak Hamzah dikode ke ibu, ibu enggak jadi mengambil keputusan, ini karena Istana itu pusat pengambilan keputusan strategis. Ini yang disampaikan saat itu," katanya.

Berdasarkan kisah masa lalu itu, PDIP mengaku sudah biasa dengan rasa sakit yang menjadi bagian dari perjalanan partainya. 

Meski begitu, Hasto tak bisa menutup perasaan sedihnya saat menyinggung perubahan sikap Presiden Jokowi akhir-akhir ini yang dinilai mulai berpaling dari PDIP. Dia lantas menyinggung bagaimana partai berlambang kepala banteng moncong putih itu sangat mendukung dan mengawal Presiden Jokowi dalam 20 tahun terakhir.

"Bahwa sakit ya kami enggak bisa menutup mata, kami sangat sedih itu. Ibu Megawati tuh mengawal Pak Jokowi, semua, dan kami juga," kata Hasto dengan suara bergetar dan menitikan air mata.

Setelah perubahan sikap Presiden Jokowi, dia mengaku tak sedikit kader PDIP yang kecewa dan mempertanyaan tokoh yang selama ini mereka kawal bersama bisa dengan mudah berpaling.

Kepada para kader di akar rumput, Hasto hanya bisa menyampaikan bahwa manusia bisa berubah terlebih bila memegang kekuasaan.

"Saya belum menghitung berapa yang di ranting-ranting itu, ketika bertemu dengan saya, 'kenapa bisa seperti ini?'. Saya hanya bisa memberikan penjelasan bahwa manusia bisa berubah oleh sisi-sisi gelap kekuasaan," ucap Hasto sembari menyeka matanya. 

Meski merasa sedih, dia menegaskan, partainya pantang meratapi duka terlalu lama. Melainkan harus berjuang melanjutkan cita-cita untuk masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.

"Tetapi yang paling penting bagi PDI Perjuanngan bukan meratapi itu. Yang penting itu bagaimana seluruh cita-cita bangsa ini yang dibangun dengan tumpahan darah dan air mata," tegasnya.

Sebagai informasi, hubungan PDIP dan Presiden Joko Widodo kian merenggang jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Keduanya berbeda jalan dalam mendukung kandidat pasangan capres-cawapres.

Hal itu bermula dari kemuculan putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep di panggung politik. Dalam tempo dua hari, Kaesang tiba-tiba didapuk menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai berlambang bunga mawar itu mendukung pencapresan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Ketegangan hubungan PDIP dan Presiden Jokowi semakin meruncing ketika Wali Kota Solo yang juga putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka memutuskan maju dan mendaftarkan diri sebagai bakal calon wakil presiden (bacawapres) dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) mendampingi Prabowo. 

Belakangan, menantu Presiden Jokowi yang juga Wali Kota Medan Bobby Nasution terang-terangan menyatakan dukungan kepada pasangan Prabowo-Gibran.

Adapun Bobby dan Gibran tercatat sebagai kader PDIP yanng mendukung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD pada Pilpres 2024. 

Rekomendasi