Ahli KPU Ungkap Beberapa Sumber Permasalahan Sirekap

| 03 Apr 2024 10:22
Ahli KPU Ungkap Beberapa Sumber Permasalahan Sirekap
Ilustrasi ruang sidang MK. (Era.id/Gabriella Thesa)

ERA.id - Guru Besar Ilmu Komputer Indonesia Universitas Bina Darma, Marsudi Wahyu Kisworo mengungkapkan, ada beberapa sumber permasalahan dalam Sistem Informasi Rekapitulasi Elektronik. Perangkat aplikasi berbasis teknologi informasi ini digunakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai sarana publikasi serta alat bantu dalam pelaksanaan rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilu 2024.

Hal ini Marsudi sampaikan saat dihadirkan sebagai ahli oleh pihak KPU dalam sidang lanjutan gugatan sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 di Mahkamah Konstitusi (MK) pada Rabu (3/4).

Awalnya, Marsudi mengatakan bahwa Sirekap terdiri dari dua jenis, yakni Sirekap Mobile dan Sirekap Web. Ia menyebut, Sirekap Mobile terdapat di hp atau telepon seluler.

"Itu yang ditampilkan kemarin-kemarin itu adalah Sirekap Mobile yang ada di KPPS, jadi yang digunakan KPPS mengupload data itu Sirekap Mobile yang ada di dalam hp atau telepon seluler, kemudian masuk ke Sirekap Web," kata Marsudi.

"Di Sirekap Web ini direkapitulasi dan kemudian ditampilkan dalam web Pemilu 2024 itu," sambungnya.

Dia menjelaskan, data yang ditampilkan pada web merupakan data yang diperoleh dari Sirekap Mobile. "Kemudian Sirekap Web tugasnya adalah lebih kepada untuk melakukan konsolidasi rekapitulasi dan kemudian virtualisasi ke web dan kemudian kita bisa lihat tampilan di web," ujar Marsudi.

Marsudi menjelaskan, Sirekap Mobile mengambil data dari form C1 Hasil yang isinya dibuat berdasarkan tulisan tangan. Pengambilan data tersebut menggunakan teknologi OCR.

Sumber masalah pertama yang muncul adalah terkait tulisan tangan. Sirekap menggunakan Optical Character Recognition (OCR) atau alat yang dilatih untuk bisa membaca tulisan tangan menjadi angka yang ditampilkan secara komputasi.

"Di sini lah problem pertamanya muncul, dan kita tahu gerak tulis tangan berbeda, apalagi ada 822.000 TPS yang orangnya berbeda dan tulis tangannya berbeda, ada yang tulisannya bagus, tapi ada sebagian besar yang tulisannya kurang bagus bahkan jelek, saya sendiri tulisannya jelek," ungkap dia.

"Dalam stylenya saja bisa berbeda, ada yang menulis angka 4 seperti kursi terbalik, ada yang tertutup atasnya, demikian angka lain, 1 ada yang menggunakan topi, ada yang tidak," imbuh dia.

Masalah kedua, jelas dia, yakni terkait kualitas ponsel milik masing-masing KPPS. Sebab, Sirekap Mobile harus diinstal di telepon seluler KPPS.

"Kita tahu hp itu beda-beda mereknya, beda-beda kualitasnya, ada yang kameranya bagus, ada yang kurang bagus, resolusinya beda. Akibatnya, terjadi seperti terjadi contoh di atas, form C1 bisa beda-beda, ada yang kualitasnya jelas, ada yang buram, ada yang kekuning-kuningan, ini dari (kualitas) kamera (ponsel)," jelas Marsudi.

Masalah ketiga, yaitu kualitas kertas. Marsudi menjelaskan, kertas yang terlipat bisa menjadi faktor penyebab tidak sinkronnya C1 dengan Sirekap karena mengakibatkan gagalnya pemindaian data. Sebab, dia menyampaikan, teknologi OCR ini hanya patuh pada hasil pembacaan data secara berulang-ulang yang sudah dilakukan pelatihan.

"Jadi tiga sumber ini kenapa yang bisa menjelaskan ketika ditampikan di web antara angka dan web itu, antara angka dengan C1 bisa berbeda," ujar Marsudi.

Rekomendasi