Megawati Kenang Momen Manis Duduk Makan Nasi Uduk Bareng Jurnalis di Kebayoran

| 25 May 2024 16:51
Megawati Kenang Momen Manis Duduk Makan Nasi Uduk Bareng Jurnalis di Kebayoran
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berpidato saat pembukaan Rakernas V PDI Perjuangan di Beach City International Stadium Ancol, Jakarta, Jumat (24/5/2024). (Dok. PDIP)

ERA.id - Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengenang momen kedekatannya dengan jurnalis, sewaktu partainya masih bernama PDI.

“Saya banyak teman dulu kan waktu PDI, wah saya sama pers itu suka makan lesehan itu di Kebayoran, nasi uduk. Enak banget sama wartawan-wartawan, muda-muda. Terus kan saya ajari, kamu kalau ini jadi pers yang betul,” kata Megawati dalam pidatonya saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V PDIP, di Beach City International Stadium Ancol, Jakarta, Jumat kemarin.

Kenangan itu pula yang membuat Mega heran dengan revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi (MK) dan Undang-Undang Penyiaran. Bagaimana tidak, revisi Undang-Undang MK terkesan tiba-tiba. Mega menganggap, itu tidak benar.

“Lah bayangkan, dong, pakai revisi Undang-Undang MK, yang menurut saya prosedurnya saja tidak benar. Tiba-tiba, (saat) masa reses,” kata Megawati.

Dia mengaku bingung, sampai ia bertanya kepada Ketua Fraksi PDIP DPR RI sekaligus Wakil Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto.

“Saya sendiri sampai bertanya pada Pak Utut. Nah, saya tanya beliau, ‘Ini apaan, sih?’ Mbak Puan (Ketua DPR RI) lagi pergi, yang saya bilang ke Meksiko. Kok enak amat, ya?” ucap Megawati.

Di samping itu, Presiden Kelima RI itu juga menyinggung revisi Undang-Undang Penyiaran yang dinilai melanggar esensi produk jurnalisme investigasi.

“Loh, untuk apa ada media? Makanya saya selalu mengatakan, ‘Hei, kamu itu ada Dewan Pers, loh. Lalu, harus mengikuti yang namanya kode etik jurnalistik.’ Lah, kok, enggak boleh, ya, kalau ada investigasinya? Loh, itu, kan, artinya pers itu kan apa sih, menurut saya, dia benar-benar turun ke bawah loh,” ujarnya.

Setelah itu Megawati berbicara soal pemimpin otoriter populis. Entah menyindir siapa. Mega bilang, dalam karakter kepemimpinan yang demikian, lanjut Megawati, hukum dijadikan pembenar atas tindakan yang sejatinya tidak memenuhi kaidah demokrasi.

“Di sinilah hukum menjadi alat, bahkan pembenar dari ambisi kekuasaan itu. Inilah yang oleh para pakar disebut dengan autocratic legalism (legalisme otokratis),” sambung dia.

Rakernas V PDIP mengangkat tema "Satyam Eva Jayate, Kebenaran Pasti Menang" dengan subtema "Kekuatan Kesatuan Rakyat, Jalan Kebenaran yang Berjaya". Rakernas itu berlangsung hingga Minggu (26/5).

Rekomendasi