ERA.id - Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Edi Purwanto, mengkritik lemahnya pengawasan transportasi darat menyusul kecelakaan Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dengan truk tangki PT Seleraya di Jalan Lintas Sumatera Simpang Danau Kecamatan Karang Jaya, Muratara, Sumatera Selatan pada Rabu (6/5).
Menurutnya, tragedi yang menewaskan 16 orang ini bukan semata kecelakaan biasa, melainkan bukti nyata kelalaian sistem pengawasan negara yang sudah terlalu lama dibiarkan.
“Ini sangat memprihatinkan. Bagaimana mungkin sebuah bus yang izinnya sudah mati sejak tahun 2020 masih bisa bebas beroperasi di jalan raya,”ungkapnya.
“Bahkan muncul dugaan penggunaan plat nomor palsu. Artinya ada persoalan serius dalam pengawasan, baik dari sisi administrasi kendaraan maupun pengawasan operasional di lapangan,” tegas Edi.
Ia menilai, jika kendaraan yang tidak laik administrasi masih bisa mengangkut penumpang antarkota, maka ada rantai pengawasan yang gagal bekerja.
Karena itu, ia meminta Kementerian Perhubungan bersama aparat penegak hukum melakukan audit menyeluruh terhadap perusahaan otobus yang masih beroperasi tanpa izin resmi.
“Jangan sampai nyawa masyarakat dipertaruhkan karena pembiaran. Negara tidak boleh kalah oleh kelalaian dan praktik-praktik manipulatif seperti pemalsuan identitas kendaraan,” ujarnya.
Legislator PDI Perjuangan ini juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang diduga menjadi penyebab kecelakaan setelah bus berupaya menghindari jalan berlubang. Menurutnya, persoalan jalan rusak terus berulang dan menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengguna jalan.
“Kalau benar kecelakaan ini dipicu upaya menghindari jalan berlubang, maka ini tamparan keras bagi kita semua. Infrastruktur jalan bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi menyangkut keselamatan manusia. Jalan rusak yang dibiarkan sama saja membuka ruang terjadinya kecelakaan maut,” katanya.
Ia meminta pemerintah pusat dan daerah tidak lagi saling lempar tanggung jawab terkait status jalan rusak. Sebab di lapangan, masyarakat hanya melihat satu hal bahwa jalan tidak aman dan nyawa menjadi taruhan.
“Jangan tunggu korban berikutnya baru bergerak. Evaluasi total pengawasan angkutan umum dan percepatan perbaikan jalan harus dilakukan segera. Tragedi ini harus menjadi alarm keras bahwa keselamatan transportasi kita masih sangat lemah,” tutupnya.