Viral Video Ramalan Soeharto Soal Pengangguran Tahun 2020

Tim Editor

Presiden Soeharto (Foto via Reuters)

ERA.id - Sosok Soeharto, presiden ke-2 Republik Indonesia sekaligus penguasa era Orde Baru, tidak habis-habisnya untuk dibahas, termasuk bahwa sang Smiling General pernah mengucapkan hal yang dianggap profetik pada tanggal 23 November 1995.

Dalam sebuah video yang diunggah di kanal Youtube HM Soeharto, ditunjukkan bagaimana Soeharto berbicara dalam sebuah diskusi bertajuk "Temu Wicara Presiden Soeharto saat Pencanangan Gerakan Nasional Pelestarian Pengamalan Nilai Kepahlawanan" dan berlokasi di Surabaya. Selain judulnya yang panjang, ternyata ada yang mengatakan bahwa dalam diskusi yang berlokasi di Surabaya itu, mantan Presiden Soeharto sedang memandang jauh ke tahun 2020.

Pada intinya, sang Bapak Pembangunan menggarisbawahi peran pemuda sebagai salah satu motor pembangunan Indonesia. Pemuda perlu memiliki sifat bela negara yang tinggi. Hal ini barangkali berkaitan dengan program Kirab Remaja yang tengah berlangsung saat itu, yang bertujuan menggembleng pemuda Indonesia agar mendahulukan kepentingan bangsanya.

Yang dianggap profetik, atau kenabian, dari pernyataan Soeharto kala itu adalah saat ia memandang ke era "globalisasi". Saat itu sang presiden yang bakal berkuasa selama 32 tahun hingga tahun 1998 telah menyuarakan kekhawatirannya soal pasar Indonesia yang dibanjiri produk-produk asing.

"Kalau para pemuda kesengsem dengan produk murah dan baik, tapi hasil dari luar negeri, hancur daripada bangsanya," kata Soeharto dengan cara bicaranya yang khas, dengan selipan 'daripada'. "Kenapa? Karena produknya (dalam negeri) tidak ada yang membeli. Pabriknya tutup, lantas tidak bisa bekerja, tidak bisa makan. Inilah yang harusnya kita persiapkan."

Hal ini mungkin mengingatkan pada sebuah iklan produk konstruksi lokal dengan tagline, "Cintailah produk-produk Indonesia." Barangkali, bila Soeharto yang mengucapkan kalimat itu, pesannya menjadi lebih nostalgis, karena mengingatkan para pemuda tahun 1995 mengenai diskusi diskusi daripada nilai kepahlawanan itu.

Angka Pengangguran yang Melejit

Yang disebut profetik adalah bahwa mengenai 'pabrik tutup, lantas tidak ada pekerjaan' itu memang perlu diakui bisa terjadi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Senin (6/5/2019) menyebutkan bahwa angkatan kerja pada Februari 2019 adalah sebanyak 136,18 juta orang, atau naik 2,24 juta orang dibandingkan dengan Februari 2018. Angka tersebut naik lagi menjadi 137,91 juta pada Februari 2020. Namun berbeda dengan naiknya jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun sebesar 0,15%.

Jumlah pengangguran di Indonesia meningkat jadi 6,88 juta pada Februari 2020. Angka ini naik 0,06 juta orang dibanding periode yang sama tahun lalu. Dan jumlah riilnya setelah pandemi corona virus pun belum dihitung secara komprehensif. Dampak pandemi bisa menjadi sangat masif karena 74,04 juta orang (56.50%) bekerja pada kegiatan informal yang tidak memberikan jaring pengaman sosial.

Selain itu, di samping klaim-klaim yang beredar di televisi, lulusan SMK yang seharusnya "siap kerja" justru menyumbang angka pengangguran terbanyak. Tingkat Pengangguran Terbuka dari generasi lulusan SMK mencapai 8,49%. Ada harapan yang dikandung ibu pertiwi karena angka tersebut sebenarnya adalah hasil akhir dari tren pengangguran di tingkat lulusan SMK. Semua berharap bahwa para lulusan SMK mendapat lapangan pekerjaan, terutama lewat program "Link-and-match" yang digelorakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Generasi muda Indonesia bisa bebas berpendapat mengenai pernyataan 'profetik' Presiden Soeharto tahun 1995 lalu. Apakah ucapan itu tepat atau tidak, tergantung perspektif masing-masing. Namun, di balik ucapan sang Smiling General yang visioner, tentunya kepemimpinannya selama 32 tahun bukanlah track record yang bersih dari bukti-bukti sumir praktik kongkalikong yang menjadikan sektor bisnis dan industri Indonesia menjadi seperti saat ini.

Tag: presiden soeharto pengangguran orde baru Badan Pusat Statistik

Bagikan :