Soal Drone Bawah Laut Buatan China, KSAL: Belum Ada Negara yang Mengaku

| 04 Jan 2021 17:09
Soal Drone Bawah Laut Buatan China, KSAL: Belum Ada Negara yang Mengaku
Drone di Selayar (Yusuf Yahya/era.id)

ERA.id - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono memberikan waktu satu bulan kepada Pusat Hidrografi dan Oseanografi (Pushidrosal) TNI Angkatan Laut untuk meneliti Seaglider atau drone laut yang ditemukan  perairan laut Bonerate di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Yudo mengatakan, Pushidrosal bisa melakukan kerja sama dengan Kementerian dan Lembaga terkait, seperti Kementerian BRIN hingga Kementerian Pertahanan untuk mengetahui dari mana asal dan diperuntukan untuk apa Seaglider tersebut.

"Saya beri waktu satu bulan Pak Kapushidros untuk bisa menentukan atau membuka hasilnya biar ada kepastian," ujar Yudo dalam konferensi pers di Gedung Pushidrosal, Jakarta Utara, Senin (4/1/2020).

Lebih lanjut Yudo mengaku belum bisa memastikan dari mana Seaglider tersebut berasal. Apalagi, kata dia, dalam tubuh alat tersebut juga tidak terdeteksi tulisan apapun yang bisa menentukan negara pembuat atau negara asal peralatan bawah laut itu.

"Jadi tidak ada tulisan apapun di sini. Kita tidak rekayasa bahwa yang kita temukan seperti itu, masih persis seperti yang ditemukan nelayan tersebut kita bawa ke sini,” katanya.

Dia juga mengaku, hingga saat ini juga belum ada negara manapun yang mengklaim kepemilikan Seaglider tersebut. Namun, pihaknya telah melaporkan temuan ini pada pihak Kementerian Luar Negeri untuk mengkomunikasikan temuan seaglider ke negara-negara yang memang diketahui mengoperasikan dan menggunakan alat tersebut.

"Sampai saat ini juga tidak ada negara yang mengklaim ini punya siapa. Sehingga nanti akan kita laporkan melalui Kementerian Luar Negeri untuk penemuan ini," kata Yudo.

Yudo menambahkan, saat ini pemerintah Indonesia memang belum melakukan komunikasi dengan negara-negara pembuat atau pengoperasi alat tersebut. Menurutnya, dengan banyaknya pemberitaan mengenai hal tersebut, seharusnya menyadarkan negara yang merasa memiliki alat yang ditemukan tengah mengapung di wilayah teritori Indonesia.

"Saya yakin negara lain sudah tau itu punya siapa dan sebagainya, pasti sudah nyampe ke negara yang memiliki peralatan seperti ini. Tentunya nanti kita tunggu, apakah ada melalui Kemlu yang mengklaim ini," ucapnya.

Rekomendasi