Wakil Menhan RI: Ketegangan China-Taiwan Bikin Panas Kondisi Keamanan di Kawasan

| 28 Oct 2021 18:10
Wakil Menhan RI Letjen TNI M Herindra (Kementerian Pertahanan RI)

ERA.id - Wakil Menteri Pertahanan, Letjen TNI M Herindra memaparkan dinamika keamanan regional yang kian memanas di tengah pandemi Covid-19 dalam kuliah umum di Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) pada Kamis (28/10.2021).

Herindra mengatakan bahwa dinamika keamanan regional semakin memberikan kompleksitas dalam pengelolaan sektor pertahanan.

Sejumlah perkembangan di kawasan di antaranya Pakta Pertahanan Amerika Serikat, Australia dan Inggris atau AUKUS dan ketegangan Tiongkok-Taiwan

Menurut dia, hal itu semakin memberikan komplesitas dalam pengelolaan sektor pertahanan.

"Sebab hal ini terjadi di tengah kebijakan refocusing anggaran negara akibat pandemi," katanya dalam acara bertajuk "Pandemi Covid-19 dan Pengelolaan Sektor Pertahanan Indonesia” itu.

Ditambah lagi kata dia, fenomena perlombaan produksi dan distribusi vaksin dapat mempengaruhi arah politik luar negeri sebuah negara. "Apalagi pandemi Covid-19 menguji kemampuan, kredibilitas, dan integritas pemerintah dalam mengelola krisis," jelas Herindra.

Karenanya, menurut Herindra, pemahaman tentang pergeseran geopolitik di saat krisis atau pandemi seperti sekarang merupakan masalah esensial.

Mantan Kepala Staf Umum TNI ini menambahkan, pandemi berimplikasi terhadap strategis dan operasional pertahanan Indonesia. Meski demikian, dia mengakui, krisis selalu mempunyai dua sisi, destruktif dan konstruktif. "Artinya, dalam kondisi krisis akan tetap ada upaya mendorong perubahan atau game changers," jelas Herindra.

Pada level strategis, ia menjelaskan, pandemi telah mengguncang tatanan sistem pengelolaan kesehatan global mengingat tidak ada satu pun negara yang siap dengan skenario terburuk terjadinya wabah secara global dalam waktu yang bersamaan. Pandemi Covid-19 juga telah mengubah penanganan ancaman nonmiliter karena berkaitan dengan dimensi politik, sosial, hubungan internasional, dan lainnya.

"Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa akan ada bentuk ancaman nonmiliter yang memiliki karakter multideminsional. Dan saya sependapat dengan sejumlah pandangan dalam literatur studi keamanan, bahwa ancaman nontradisional tidak dapat ditangani hanya oleh aktor negara," ucapnya.

Pandemi juga berdampak signifikan pada level operasional. Pada awal terjadinya wabah, porsi patroli kapal dan beberapa latihan militer terpaksa disesuaikan karena TNI tetap harus fokus terlibat dalam penanganan Covid-19.

"Belum lagi negara harus kehilangan sejumlah prajurit terbaik akibat terinfeksi virus corona," ujarnya. Ritme kerja organisasi pun mesti beradaptasi dengan kebijakan pembatasan jumlah staf yang bekerja dari kantor.

Herindra mengingatkan, kompleksitas ancaman nonmiliter Covid-19 ini tidak bisa dihadapi dengan pendekatan normal. Karenanya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan berbagai pendekatan dengan menjadikan arahan-arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam penanganan pandemi Covid-19 sebagai basis tindakan.

Rekomendasi