Candu, Oshi, dan Fantasi para Fan

Suasana di luar Teater JKT48 pada bulan Februari 2020 (Wikimedia)

Dari jabat tangan yang 'hanya' seharga beberapa keping CD album, hingga para 'oshi' yang bisa dikuntit selepas keluar dari gedung teater - penggemar idol group JKT48 kerap kali hanya dibatasi oleh kualitas pengendalian diri sebelum obsesi mereka berubah jadi absurd, atau bahkan berujung kriminal.

Mengusung konsep Idol You Can Meet, idol group JKT48 tak hanya menghibur lewat lagu riang seperti "Fortune Cookie in Love", tapi juga paras manis dari para 'oshi', sebutan untuk anggota idol group.

Para penggemar group ini bisa memilih kapan mereka mau menemui sang idola. Bisa sore ini. Bisa hampir setiap hari. Mudahnya akses pertemuan ke para idola ini dinilai sangat eksklusif dalam kultur idol group, khususnya di franchise AKB48 yang sudah diciptakan sejak tahun 2005 di Akihabara, Jepang.

Pertemuan penggemar dan idolanya tak pernah semudah ini. Sebelum adanya konsep meet and greet ala idol group, para fan biasanya bergantung pada keberuntungan untuk bertemu dengan seorang superstar.

Misal, mungkin kita bisa bertemu Katy Perry saat sedang jalan-jalan di Jalan Surabaya, Jakarta, atau memergoki John Legends sedang makan ayam goreng "JFC" bersama istrinya. Kalau kita lupa membawa kamera untuk mengabadikannya, orang tak akan percaya.

Namun, bertemu para oshi JKT48 itu semudah memarkir kendaraan di mal FX Sudirman di Jakarta. Tanpa berfoto pun orang akan percaya kalau sore ini kamu ngobrol dengan Nabilah JKT48 sambil memegang erat tangannya yang halus. Para penggemar idol group sudah membuktikannya. Bertemu idola sudah jadi hal yang lumrah.

Popularitas JKT48 saat ini sudah tak terbantahkan. Namun, ia tak diciptakan hanya dalam semalam. Kelompok ini pada mulanya --sekitar tahun 2011-- hanya dikenal lewat ajang pencarian bakat untuk iklan produk minuman isotonik.

Ia seangkatan dengan girls band yang nongol di era itu, misalnya Cherry Belle, 7icon, Princess, Blink, dan Super Girlies. Namun, belakangan orang mengetahui bahwa idol group asal Jakarta ini merupakan sister group dari AKB48 yang namanya telah mendunia.

Ilustrasi (Ilham/era.id)

Seorang perempuan penggemar JKT48 yang memperkenalkan diri sebagai Ria mengaku kesukaannya pada idol group tersebut dimulai setelah ia sudah cukup familier dengan sister group bernama HKT48.

Suatu saat ia melihat Viny, member group JKT48, dalam salah satu seri video "#K3poinOshi" di kanal Youtube JKT48, dan di matanya perempuan kelahiran Jakarta, 1996, ini mirip sekali dengan Tashima Meru dari HKT48 generasi kedua, yang markasnya ada di Fukuoka, Jepang. "Dari situ deh baru gue tertarik buat nyari tahu lebih jauh tentang JKT48," kata Ria

Obsesi Semu Terhadap Idola

Tak sedikit jumlah pendengar yang dari awalnya hanya ingin "mencari tahu" seperti Ria, lalu berlanjut menjadi sangat obsesif terhadap idol group. Mereka duduk di salah satu kursi ruang teater JKT48 untuk mencari pengalaman otentik bersama para idola. Atau, mereka bisa membeli seluruh tiket di sesi jabat tangan, atau handshake event, dari seorang oshi. Fantasi sudah tak berjarak lagi dengan kenyataan.

Nicolaus Sulistyo, dalam penelitiannya mengenai kultur fan JKT48, melihat bahwa interaksi penggemar idol group menghasilkan individuasi semu. Ia melihat bahwa sesi foto dan jabat tangan, meski berbayar, telah menjembatani fantasi dan hasrat para penggemar terhadap idolanya.

"Kita seolah-olah memiliki, padahal tidak," kata Nicolaus kepada era.id.

Par fan JKT48. (Nurul/era.id)Caption

Dari sini, kita lantas teringat pada para penggemar fanatik yang merogoh kocek sangat dalam untuk hal-hal yang terdengar irasional. Salah satu fan berat JKT48 yang ditemui era.id mengaku ngebet ingin memacari salah satu member grup tersebut.

Namun, ia sadar celah kesuksesannya sangat kecil. Maka, yang ia lakukan adalah menggelontorkan uang hingga puluhan juta untuk memberi oshi tersebut barang-barang mewah. Sayang, sampai kini member JKT48 tersebut tak pernah jatuh hati padanya.

Kecintaan para fan JKT48 terhadap seorang oshi juga bisa disalahgunakan hingga berubah jadi tindak kriminal. Perputaran fulus di sekitaran voting pemilihan member penampil untuk sebuah single terbaru, atau disebut sousenkyo, sering berujung pada penggelapan uang. Duit yang dikumpulkan untuk membeli Download Card JKT48 malah dibawa kabur si pengelola.

Melihat lagi perilaku fan JKT48, pertanyaan yang selalu muncul adalah sebenarnya kultur apa yang tengah mengemuka dalam skena musik idol group?

Menurut Nikolaus, minimnya deviasi terhadap 'standar' perilaku penggemar JKT48 dan pola marketing produk idol group yang ingin mewujudkan fantasi para penggemar, menimbulkan tren seakan para oshi adalah candu untuk memenuhi hasrat para penggemar.

Penggemar fanatik hanya perlu bersikap pasif agar candu ini bisa bekerja. Dia tak perlu mempertanyakan ongkos berjabat tangan dengan member idolanya, karena yang lebih penting adalah bahwa pertemuan itu memenuhi hasratnya.

Ritme ajeg dalam fandom JKT48 barangkali terlihat sebagai suatu lingkaran setan karena mau tidak mau perilaku obsesif dari para penggemar - menguntit seorang member di malam hari, memilih untuk tidak makan agar uangnya bisa dipakai nonton teater JKT48 - diciptakan sendiri oleh konsep entertainment idol group.

Ilustrasi (Ilham/era.id)

Dan sepertinya dinamika penggemar JKT48 seperti di atas akan melekat dalam skena musik ini. Ia berkelindan dengan pengalaman penggemar-penggemar biasa seperti Ria yang sekadar "ingin tahu" dan sudah cukup dengan mengetahui bahwa seorang member idol group asal Jakarta sama manisnya dengan member idol group lain di Fukuoka.

Tag: jkt48 oshi dan obsesi

Bagikan :