Lindungi Data Pengguna, Google Hapus Histori Lokasi GPS Setelah 18 Bulan

| 05 Jul 2020 13:50
Lindungi Data Pengguna, Google Hapus Histori Lokasi GPS Setelah 18 Bulan
Ilustrasi sistem Android Google (Flickr)
Jakarta, era.id - Google secara otomatis akan mengurangi data pribadi pengguna Android yang ia simpan. Ini akan mempengaruhi akses pihak kepolisian dalam melakukan pelacakan berdasarkan histori GPS, atau disebut geofencing.

Seperti dikutip dari Associated Press, Minggu (5/7/2020), Google akan menerapkan pengaturan privasi yang berbeda bagi pengguna baru Android. Perusahaan tersebut akan secara otomatis menghapus data penelusuran web dan data aplikasi, serta histori lokasi global positioning system (GPS), setelah 18 bulan.

Tahun lalu, Google sudah mulai mempersilakan pemilik gawai Android untuk menerapkan tanggal kadaluarsa dari data mereka. Sehingga, bila diaktifkan, histori lokasi, pencarian, voice note, dan penelusuran YouTube otomatis akan dihapus oleh sistem setelah tiga atau 18 bulan.

Google secara konstan menyimpan data pribadi dari jutaan gawai yang ada di dunia. Data-data tersebut membentuk suatu basis data yang dinamai Sensorvault. Basis data inilah, meski menyimpan data pribadi pengguna Android, yang sering coba diakses oleh pihak kepolisian terutama untuk keperluan penyidikan dan pengusutan perkara.

Di Amerika Serikat, polisi setempat selama beberapa kali mendapat restu pengadilan untuk mengakses histori lokasi yang tercatat dalam Sensorvault. Polisi diberi hak untuk melacak histori lokasi tiap gawai yang berada dalam radius tertentu dari suatu kejadian perkara. Teknik ini disebut sebagai geofencing.


Ilustrasi pemetaan lokasi dengan metode geofencing (Flickr)

Namun, metode ini kerap dianggap melanggar hak privasi warga. Sebagai pembelaan atas seorang warga AS yang secara keliru dianggap telah membawa senjata pistol dan merampok 100.000 dolar (Rp1,4 miliar) dari sebuah bank di kota Richmond, seorang pengacara melihat kekeliruan besar terhadap teknik penelusuran lokasi GPS ini.

"[Geofencing] ini setara seperti menggeledah setiap rumah di suatu area yang mengalami pencurian, atau menggeledah setiap tas yang dibawa tiap orang yang berjalan di Broadway karena terjadi perampokan di Times Square," tulis sang pengacara..

Juru bicara Google menolak berkomentar berapa banyak permintaan penelusuran histori GPS yang diterima perusahaan tersebut. Namun, catatan pengadilan Google untuk sebuah kasus perampokan bank mengatakan bahwa permintaan akses ke Sensorvault meningkat 1.500% dari tahun 2017 sampai 2018, dan meningkat lagi 500 persen pada tahun lalu.

Para aktivis perlindungan data pribadi mengatakan banyak pengguna Android yang tidak memahami seberapa luas pergerakan mereka terekam dalam sistem, dan bagaimana mereka bisa bertindak. Dengan penghapusan data pribadi secara otomatis, diharapkan hak pengguna atas privasinya dan penghindaran dari penggeledahan yang tidak perlu bisa dihindarkan.
Tags : google
Rekomendasi