Sejarah Taman Kanak-Kanak di Indonesia

Tim Editor

    Foto taman kanak-kanak di zaman Belanda (Sumber: The International Froebel Society)

    Jakarta, era.id - Pendidikan taman kanak-kanak pertama kali didirikan oleh Friedrich Wilhelm August Frobel pada 21 April 1782 di Blankenburg, Jerman. Ia menganggap pendidikan anak sejak usia dini perlu dilakukan dengan konsep bermain sambil belajar. Tak jauh beda dengan sekarang, pendidikan anak-anak pada kala itu berisi kegiatan kerajinan tangan, menyanyi, mendengarkan cerita, bermain kotak kubus, dan lainnya.

    Tercatat hingga tahun 1848 Froebel sudah membuka 40 taman kanak-kanak di seluruh penjuru Jerman. Konsep pendidikan anak-anak ini terus berkembang ke seluruh Eropa bahkan dunia, termasuk di Indonesia yang saat itu menjadi koloni Hindia Belanda. Pendidikan taman kanak-kanak di masa Hindia Belanda disebut dengan Froebel School. Nama itu diambil dari nama pencetus taman kanak-kanak Wilhelm Froebel.

    Kurikulum yang diterapkan Pemerintah Hindia Belanda juga mengambil pendikan ala Froebel dengan konsep bermain sambil belajar. Saat itu, pendidikan taman kanak-kanak diperuntukkan bagi anak-anak Belanda, saudagar, dan anak-anak Ningrat atau Bangsawan.

    Selain menerapkan sistem pendidikan Froebel, pemerintah Hindia Belanda juga menerapkan metode Montessori pada 1938 yang arah pendidikannya menekankan perkembangan kepribadian anak seperti rasa kemandirian, kepercayaan diri, dan disiplin. Salah satu tokoh lulusan taman kanak-kanak Froebel School  adalah RM Soewardi Soejaningrat atau lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara yang kelak menjadi Bapak Pendidikan Indonesia.



    Saat itu Ki Hajar Dewantara lewat Organisasi Taman Siswa juga mensponsori sekolah-sekolah taman kanak-kanak yang memadukan metode Froebel dengan metode Montessori yang disesuaikan dengan adat timur. Pada tanggal 3 Juli 1922, ia mendirikan Sekolah Froebel Kindergarten yang akhirnya disepakati dengan nama Taman Indria.

    Selain itu, mulai berdiri juga taman kanak-kanak dari kalangan Islam, lewat Persatuan Wanita Aisyiyah. Mereka mendirikan Bustanul Athfal pertama pada 1917, lebih dulu dari Froebel Kindergarten. Memasuki zaman pendudukan Jepang, nama Froebelschool diganti dengan nama Taman Kanak-kanak. Di masa inilah istilah Taman Kanak-Kanak dikenal luas di Indonesia.

    Zaman Jepang

    Pada masa kependudukan Jepang beberapa metode pengajaran seperti bernyanyi, permainan, dan cerita diubah versinya. Pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia, konsep taman kanak-kanak tetap dipertahankan, namun Mr. Ali Sastroamidjojo sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan saat itu, menambahkan konsep pendidikan yang mempelajari tentang nasionalisme dan kebudayaan Indonesia.

    Selain itu, baik Taman Indria, Taman Kanak-kanak, maupun Raudhatul Athfal, mulai dibuka secara umum, sesuai dengan misi kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa dan menekan angka buta huruf dengan sasarannya baru yang mencakup anak di atas usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan dasar. Namun yang menjadi kendala, masih sedikit para orang tua yang memasukkan anaknya ke taman kanak-kanak akibat perekonomian Indonesia pasca-kemerdekaan yang masih sulit.

    Pada masa Orde Baru atau tepatnya tahun 1980-an semakin berkembangannya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan anak dan seiring stabilitas ekonomi yang mulai membaik. Di sejumlah wilayah, mulai banyak taman kanak-kanak yang dibuka, dengan target menyasar anak usia 3-4 tahun dengan konsep Kelompok Bermain atau Kober.

    Pemerintah juga mengeluarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah yang mempertegas status pendidikan anak-anak --saat itu disebut pendidikan prasekolah. Pendidikan prasekolah diakui sebagai konsep pendidikan yang tak terpisahkan dari keseluruhan sistem pendidikan nasional.

    Dengan adanya peraturan itu, pihak lembaga pendidikan swasta makin meramaikan gairah pendidikan prasekolah ini dengan berbagai macam konsep, mulai dari taman kanak-kanak berbasis pendidikan agama hingga taman kanak-kanak berbasis internasional. Hingga saat ini, taman kanak-kanak makin beragam, dengan penambahan konsep pendidikan, fasilitas taman kanak-kanak, dan juga variasi biaya.

    Tag: sejarah nusantara

    Bagikan :