Untold Story: Cerita Anak D.N Aidit Setelah Ayahnya "Dijemput" pada Malam 30 September 1965

Tim Editor

D.N Aidit. (Foto: Istimewa)

ERA.id - "Deng, deng, deng," ucap Ilham Aidit menirukan suara dentang jam dinding yang berbunyi 11 kali di malam itu, Kamis, 30 September 1965. Tak seperti malam-malam sebelumnya, kala itu Ilham mengaku tak bisa tidur. Di dalam kamar, ibu, kakak, berserta adik kembarnya sudah tertidur pulas. Sebuah mobil-mobilan truk dari kayu ia mainkan sepanjang malam. 

Di depan teras sayup-sayup terdengar suara orang sedang berbincang. Kadang terdengar mereka tertawa terbahak-bahak. Ilham yang penasaran kemudian masuk menuju ruang depan untuk melihat siapa yang berbicara begitu asyiknya malam itu. 

Ayahnya D.N Aidit tampak berbicara dengan tiga orang koleganya. Ia adalah Ketua Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) Hardoyo dan dua lainnya merupakan aktivis SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Terdengar mereka membicarakan progres pergerakan kaum buruh di lapangan.

Selepas itu, Aidit yang memakai baju lengan pendek tampak mengantarkan para tamunya pulang. Ia lantas masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan Ilham untuk mengantarkannya kembali ke kamar tidur. 

Sejurus kemudian, dua buah mobil Land Rover dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) --sekarang TNI AU-- tiba di rumahnya di Jalan Pegangsaan Barat 4, Jakarta Pusat. Suara pintu yang diketuk terdengar sampai ke dalam kamar. Setelah dibuka, utusan tersebut meminta Aidit untuk segera ke Istana Negara menemui Presiden Soekarno. Aidit pun kemudian bergegas pergi bersama utusan tersebut.

D.N Aidit berbincang dengan koleganya. (Foto: Istimewa)

 

Ilham tak pernah terpikir sebelumnya jika momen ini jadi perjumpaan terakhirnya dengan sang ayah, karena setelahnya ia tak pernah bertemu kembali. Belakangan ia tahu bahwa Aidit dibawa ke Halim, ke sebuah rumah milik salah satu perwira AU.

Esoknya, 1 Oktober 1965, belum ada firasat apa pun dari Ilham maupun kakak dan adiknya. Aktivitas masih dilakukan seperti biasa. Namun, Soetanti, istri Aidit sudah punya firasat jelek, seperti ada yang tidak beres dengan kepergian suaminya.

"Ibu saya yang sudah punya firasat kok enggak balik, enggak kasih kabar, karena biasanya mereka berkomunikasi," tutur Ilham Aidit kepada era.id di kediamannya di Bandung, belum lama ini.

Wawancara eksklusif era.id dengan putra D.N Aidit, Ilham Aidit. (Iqbal/era.id)

 

Di tempat lain, pada tanggal 30 September sampai awal bulan selanjutnya (1 Oktober) tahun 1965 terjadi peristiwa kelam. Tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang yang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta.

Baru pada 4 Oktober jenazah jenderal tersebut ditemukan di sumur Lubang Buaya, Jakarta Timur. Besoknya kabar tersebut tersiar seantero Jakarta maupun kota lain. Surat kabar dan radio mulai menyiarkan kabar tentang penemuan jenazah tersebut.

Baca Juga : Kesaksian Sukitman, Penemu Jasad 7 Pahlawan Revolusi

Tuduhan pembantaian para perwira tinggi yang dialamatkan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) membuat Soetanti panik dan melarikan diri dari rumah, meninggalkan anak dan empat pembantu rumah tangganya. 

"Ibu saya kemudian panik dan melarikan diri. Melarikan diri pun enggak jauh-jauh, sebenarnya larinya ke Cirende. Banyak orang mengira, banyak aparat mengira, pasti ibu saya larinya ke basis PKI di Jawa Tengah," kenang Ilham.

Awal petaka rumah tangga D.N Aidit

Empat hari berlalu sejak Soetanti meninggalkan rumah. Ibarruri Putri Alam, Ilya Aidit, Iwan Aidit, Ilham Aidit, dan Irfan Aidit masih berdiam diri di rumahnya, menanti sang ayah dan ibu yang entah di mana rimbanya. 

"Paman saya mengabarkan, 'sementara ibu pergi dulu', katanya. 'Nanti Ibu akan kembali juga bapak'. Jadi menenangkan, paman saya ini menenangkan."

Pada hari kedelapan, Ilham dan adik kembarnya dijemput oleh pamannya untuk tinggal bersama dia di rumahnya. "Sisanya kakak saya, waktu itu saya enggak tahu dia ke mana. Tapi saya tinggal bersama adik ibu saya yang paling kecil selama dua-tiga hari." 

Soetanti dan D.N Aidit. (Foto: Istimewa)

 

Hari berganti hari, kabar pembantaian para jenderal oleh PKI kian menjadi-jadi yang membuat paman Ilham Aidit merasa cemas dan akhirnya mengungsikan Ilham ke rumah bibinya di Bandung. "Saya masih inget, cuma dua tiga hari di sana, Bibi saya juga merasa enggak nyaman."

Kemudian bibinya mengungsikan lagi Ilham dan adiknya ke sepupu dari bibinya yang masih berada di Bandung. Ia dititipkan kepada seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 

"Paman saya itu berani, 'ya udah tinggal sini saja'. Maka kami tingal di sana selama enam bulan kalau enggak salah."

Tak berhenti di situ pelarian Ilham dan saudaranya. Istri dari paman Ilham mengaku tak betah tinggal di Indonesia. Dia yang merupakan warga negara Belanda akhirnya memutuskan untuk kembali ke negaranya, yang juga disambut baik oleh pamannya yang kebetulan ingin melanjutkan studi di Negeri Kincir Angin itu.

"Maka kami dititipkan kepada kakaknya. Kakaknya paman saya ini. Nah, di situ saya tinggal selama 11 tahun," kata Ilham.

Foto keluarga D.N Aidit. (Foto: Istimewa)

Pelarian sang ibu hingga dijebloskan ke penjara 

Ada yang menarik dari pelarian Soetanti. Setelah pergi dari rumah ia ditampung ke sebuah rumah milik Bupati Boyolali --yang merupakan anggota PKI-- di Cirende. Sekitar empat sampai lima bulan Soetanti tinggal di sana. Ia berkamuflase sebagai pasangan suami isti dengan Bupati Boyolali tersebut dan membawa dua anak kecil yang seolah-olah sebagai anak mereka.

Namun, apes penyamaran Soetanti dicurigai para tetangga yang melihat gelagat aneh dari pasangan suami istri tersebut. Selain wajah Soetanti yang tak asing bagi tetangga, sepasang suami istri bohong-bohongan ini juga tak terlihat mesra seperti pasangan pada umumnya.

Tetangga yang curiga kemudian melaporkan kepada aparat yang kemudian menangkap Soetanti. Ia kemudian di penjara selama 13 tahun di Bukit Duri, Jakarta Selatan. "Tetangga ngeliat, ini orang (Soetanti) kayaknya sering saya lihat deh dan ini kayaknya bukan suaminya, karena hubungan mereka kaku gitu lho. Kemudian mereka melaporkan kepada aparat."

Selama 13 tahun hingga Ilham memasuki bangku kuliah, ia tak pernah berkomunikasi apalagi bertemu dengan ibunya. Hanya sepintas kabar yang ia dapat selama ibunya dibui. 

Meski tak pernah bertemu, ibunya, Soetanti kerap mengirimkan Ilham baju yang dijahit di dalam penjara. "Yang lucu waktu itu usia saya sekitar 8-9 tahun. Ibu buat baju kan kalau di penjara buat baju kan lama, enggak bisa cepet, terus setiap kali dia kasih baju sama saya selalu kekecilan. Karena saya sudah dua tiga bulan sudah berubah lagi," kenang Ilham sambil sedikit tertawa.

Kiriman baju itu diterima dari bibinya, yang kadang kala menjenguk sang ibu di penjara. Tanpa proses hukum Soetanti dibui, kata Ilham. Hanya karena ia istri dari orang yang paling dianggap bertanggung jawab dalam pembantaian para jenderal. Selama di penjara, Soetanti kerap diinterogasi. Ia diminta buka suara soal siapa saja teman dari D.N Aidit dan di mana mereka bersembunyi.

D.N Aidit saat memberikan orasi. (Foto: Istimewa)

 

"Ibu saya juga enggak tahu temen-temen (DN.Aidit) di mana," kata Ilham.

Selama di penjara, Soetanti juga kerap mendapatkan kekerasan fisik. Itu tidak hanya terjadi kepada dia tetapi juga terhadap orang-orang yang dituduh komunis dan terafiliasi dengan PKI. 

"Disiksa, disetrum, diinjek jempolnya pakai meja. Banyak cerita-cerita (kekerasan). Banyak kekerasan fisik banget selama di penjara itu," tutur Ilham mencoba mengingat cerita sang ibu selepas keluar dari penjara.

Menginjak tahun ketiga belas di penjara, Soetanti akhirnya dibebaskan. Ilham masih ingat betul momen mengharukan tersebut. Selang beberapa hari setelah ibunya keluar penjara, ia baru bertemu. Ia tak bisa menyembunyikan kerinduan yang mendalam terhadap sosok yang telah melahirkannya. Tangis pun pecah saat pertemuan.

"Mengharukan. Ya nangis, kemudian terdiam. Ketika itu sih saya masih ada rasa marah ya, 'kenapa sih ninggalin anak-anak begitu aja'. Waktu itu terutama adik kembar saya yang bilang 'kenapa kami enggak dibawa saja masuk penjara bareng deh, tapi tetep sama ibu'. Karena banyak juga orang dipenjara membawa anaknya," kenang Ilham.

Ilham masih menganggap dirinya beruntung dibanding para anak dan cucu PKI lain. Ia dan saudara-saudaranya masih merasakan duduk di bangku sekolah, bahkan hingga ke perguruan tinggi. Meskipun dikriminasi dari pemerintah dan masyarakat begitu pedih dirasakan. 

"Saya beruntung diterima oleh keluarga lain, dianggap sebagai anak angkat, disekolahin dengan baik, dididik dengan baik, itu keberuntungan. Tetapi setelah saya tinggal di Bali, saya denger ceritanya, waduh banyak sekali yang lebih parah."

 

Saksikan wawancara eksklusif era.id dengan Ilham Aidit, anak dari tokoh sentral Partai Komunis Indonesia (PKI) D.N Aidit di channel YouTube eradotid pada Rabu (30/9) dan Kamis (1/10).

Tag: sejarah pki g30s/pki film g 30 s pki

Bagikan: