Jalan Pembebasan yang Panjang ke Setiabudi

Tim Editor

EFE Douwes Dekker, kemudian berganti nama menjadi Danudirja Setiabudi pada tahun 1947, bersama Istrinya. (Foto: Instagram)

ERA.id - Mungkin karena nama adalah doa, E.F.E. Douwes Dekker pada Februari 1947 mengubah namanya menjadi Danudirja Setiabudi. Seperti kakeknya, ia telah melihat kesengsaraan para pemetik teh di Jawa Tengah hingga pergulatan bangsa Boer di Afrika Selatan yang dijajah Inggris. Ia mungkin ingin agar namanya menjadi pengingat bagi dirinya agar berkemauan kuat dan bersetia hati bagi kemerdekaan umat manusia.

Kesaksian Si Tukang Lelang Kopi

Ernest François Eugène Douwes Dekker. Nama ini mungkin cukup familiar sebagai nama cucu dari penulis buku "Max Havelaar" (1860), Eduard Douwes Dekker. Yang menyamakan keduanya juga adalah bahwa mereka pernah melihat jejak-jejak kolonialisme di Hindia Belanda.

Eduard Douwes Dekker, di era 1850an, melihat bahwa sistem tanam paksa dan tarikan pajak telah memiskinkan bangsa pribumi di Hindia Belanda. Oleh karena itu ia membuat novel "Max Havelaar; Lelang Kopi di Perusahaan Dagang Belanda" dan memulai novelnya dengan kalimat pembuka yang terkenal itu: Saya adalah pedagang kopi. Seakan-akan hendak mengatakan bahwa ia bersimpati dengan bangsa pribumi yang tertindas, Eduard merilis novelnya atas nama Multatuli, artinya "aku telah banyak menderita".

Patung Multatuli di Amsterdam, Belanda
Patung Multatuli di Amsterdam, Belanda. (Foto: Tobias Abel/Flickr)

Buku "Max Havelaar", dengan bahasanya yang minimalis, belakangan mendapat sambutan baik bahkan di Negeri Belanda, membuka banyak mata tentang buruknya perlakuan para kolonialis di tanah jajahan. Novel ini pun salah satu yang memicu munculnya Politik Etis, yaitu kebijakan yang dimaksudkan sebagai "balas budi" pemerintah Belanda terhadap masyarakat pribumi di Hindia Belanda.

Namun, penindasan toh tetap terjadi di Hindia Belanda, bahkan ketika tongkat estafet keluarga Douwes Dekker berlanjut ke generasi ketiga dan diteruskan oleh sang cucu, Ernest.

Setia Budi Meski Dibui Berulang-kali

Bila saja Ernest Douwes Dekker tidak menyaksikan sendiri realitas pekerja perkebunan di Malang dan Kraksaan di sekitar tahun 1897, atau diasingkan berulang-kali ke berbagai negara, mungkin ia tak akan terpikir untuk mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi (ejaan lama: Setyabudi). Nama ini sendiri memiliki arti: kemauan yang kuat dan iman yang setia. Dalam dirinya, doa ini tak hanya sebatas doa.

Dalam diri Danudirja muda kita bisa melihat cakrawala kemanusiaan yang sangat luas, tak tertutupi oleh tembok-tembok yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Di tahun 1900, bersama kedua saudaranya, Julius dan Guido, ia berangkat ke Afrika Selatan untuk membela bangsa Boer, yang juga keturunan diaspora Belanda, melawan penjajah Inggris.

Perangko dengan gambar Danudirja Setiabudi
Perangko dengan nilai Rp6,- dengan gambar Danudirja Setiabudi. (Foto: Wikimedia)

Setelah sempat ditahan oleh Inggris, ia kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1903. Di usia 20an tahun ia bekerja di dua surat kabar, yaitu de Locomotief (Semarang) dan Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia). Di situlah ia menunjukkan ketidaksukaannya pada sistem penjajahan dan mendukung pemerintahan mandiri, bahkan kemerdekaan, di Hindia Belanda. Identitas 'Indo' - setengah Eropa, setengah Jawa - yang membuatnya masuk ke dalam kategori warga Eropa tak serta-merta membuatnya mendukung kolonialisme.

Dengan kemauan yang kuat, Danudirja muda lantas menciptakan Indische Partij (1912) bersama anggota 'tiga serangkai lainnya, yaitu dokter Tjipto Mangunkusumo dan pionir pendidikan Suwardi Surjaningrat. Belakangan ia juga mendirikan Sekolah Kesatrian di Bandung pada tahun 1922.

Di tengah aktivitas pergerakan politiknya, ia mendesak agenda kemerdekaan bagi Hindia Belanda. Ia juga aktif menjalin komunikasi dengan para intelektual lainnya, termasuk dengan Soekarno, yang menjawab Danudirja muda sebagai 'guru'-nya.

Kemauan Danudirja memang harus kuat karena ongkos dari aktivismenya seringkali diganjar pemerintah dengan hukuman bui. Terakhir, di tengah gentingnya Perang Dunia II, Danudirja muda yang memiliki darah Jerman ini dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial, lalu diasingkan ke Suriname. Ia baru dibebaskan dan kembali ke Indonesia pada 2 Januari 1947.

Sesampainya di Indonesia yang telah merdeka, Danudirja pun harus rela dianggap seperti pribumi pembangkang oleh pemerintah Belanda. Pada Desember 1948, dalam kondisi sakit, ia ditangkap oleh pasukan Belanda, tapi lalu dibebaskan atas alasan sakit.

Di tahun-tahun terakhir hidupnya, kesetiaan Danudirja pada pembebasan Indonesia akhirnya terbayar. Di usia 70 tahun, Danudirja melihat pemerintah Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Indonesia pada tahun 1949. Delapan bulan kemudian ia meninggal dalam damai pada 28 Agustus 1950.

Tag: sejarah nusantara

Bagikan: