Kisah Asmara Erika Eiffel dengan Menara Besi Ikonik di Kota Paris

Tim Editor

Erika 'Aya' Eiffel berfoto di depan Menara Eiffel, Paris, Prancis. (Foto: People Who Love Objects)

ERA.id - Menara Eiffel didirikan pada 31 Maret 1889 untuk menyambut peserta pameran akbar World's Fair di Paris, Prancis. Megah dan diacungi jempol sebagai mahakarya arsitektur, kemahsyuran menara ini bertahan hingga menjadi ikonik di lanskap 'kota cinta' di Eropa itu.

Menara setinggi 299 meter ini menjadi tujuan banyak pasangan yang memadu kasih. Mereka berfoto dengan latar Eiffel atau berciuman saat berada di salah satu platform menara itu. Tak dipungkiri, Eiffel kini pun identik dengan memori manusia soal asmara.

Namun, di luar pemujaan itu, siapa sangka Menara Eiffel begitu menggoda hingga seorang wanita memutuskan untuk menikahinya?

Kawin dengan Menara Eiffel

Wanita itu bernama Erika Aya yang di umur 34 tahun mengadakan upacara ikrar kesetiaan dengan menara besi berusia 118 tahun ini.

Dilansir dari Vice, Erika Eiffel - nama barunya setelah 'menikah' dengan menara Eiffel - adalah operator mesin crane dan bekas atlet panahan asal San Francisco, Amerika Serikat. Namanya dikenal publik lewat film dokumenter 'Married to the Eiffel Tower' (2008, Naisho). Ia adalah satu dari sedikit orang yang menyatakan diri sebagai kaum objectum sexuals, yaitu orang yang memiliki orientasi asmara terhadap benda mati.

Erika Ara Eiffel
Erika Ara Eiffel saat berkompetisi merebutkan medali emas di Kompetisi Panahan Texas, tahun 2006. (Foto: Wikimedia Commons)

Dalam wawancara dengan Vice, Erika menyebut seksualitas yang ia alami bukanlah suatu kelainan atau gejala candu asmara. "Ini adalah sebuah orientasi, hal yang menarik kami."

Fenomena objectum sexuals sendiri masih jarang dipelajari di dunia. Data yang tersedia masih sedikit dan banyak orang belum mau mengakui orientasi semacam ini, apalagi di tengah tren bullying dan komentar miring yang kerap beredar bagi kaum dengan orientasi non mainstream.

Pada 2010, pakar seksologi klinis Dr Amy Marsh mengemukakan pandangannya soal kasus ini melalui Electronic Journal of Human Sexuality. Menurut Marsh, selain masuk kategori 'abnormalitas' dan menandai 'adanya trauma seksual', objectum sexuals masih kurang bukti untuk disebut "sebagai suatu orientasi seksual yang alamiah (genuine)".

Tak heran, orang di luar kelompok objectum sexuals (OS) kerap mengidentifikasi kesukaan terhadap obyek mati sebagai antara autisme dan trauma seksual, atau fetish dan parafilia, yaitu fantasi atau hasrat seksual terhadap obyek yang tidak lumrah.

Dalam sebuah wawancara dengan ABC News di tahun 2009, Erika mengaku belum lama 'mengenal' menara Eiffel namun telah memiliki perasaan yang intens atas menara besi berbentuk kisi terbuka itu.

"Struktur (Eiffel) sangat menakjubkan. Anda tentu tahu, lekukan-lekukannya sangat cantik," sebut Erika.

"Saya seperti mendengar dia berteriak, 'Hei, lihat saya. Hei, lihat saya. Saya sedang ada di tengah kerumunan ini. Hei, dengarkan saya,'" kata dia.

Erika Ara Eiffel
Erika Ara Eiffel dalam sebuah adegan di film dokumenter 'Married to the Eiffel Tower' (2008, Naisho). (Foto: Tangkapan layar, YouTube)

Erika sendiri mengakui bahwa sebagai objectum sexuals kehidupan asmaranya tidak terarah pada manusia, tetapi pada benda-benda. Di ABC News disebut bahwa benda-benda ini bisa mencakup mesin komputer, satu set drum, hingga monumen nasional - asalkan dalam benda-benda itu terasa suatu koneksi.

"Kami merasakan suatu koneksi dengan benda-benda. Kami merasa hal tersebut sesuatu yang sangat normal, yaitu untuk merasakan hubungan secara emosi, spiritual, dan juga fisik (pada benda-benda)."

Dianggap 'Sakit'

Erika tak sendirian di dunia ini sebagai seorang objectum sexuals. Seorang penulis naskaah drama, Chloe Mashiter, sempat mewawancarai orang-orang yang punya orientasi seperti Erika.

Dilansir dari Vice, Mashiter mengaku telah menulis surat ke orang-orang yang jatuh cinta pada mobil, jembatan, bahkan kursi berlengan. "Ada seorang wanita asal Inggris yang jatuh cinta pada Patung Liberty, meski ia juga memiliki seorang pacar laki-laki," kata Mashiter.

Sayangnya, para objectum sexuals kerap ditampik oleh lingkungannya. Beberapa orang diminta keluarga sendiri untuk menjalani konseling atau bahkan dimasukkan ke rumah sakit jiwa, seperti diceritakan Mashiter.

Tak jauh berbeda, Erika pun sudah tidak dianggap anak oleh ibunya sendiri, gara-gara orientasi seksualnya. Ia juga kehilangan hampir seluruh kontrak sponsor dalam karir memanahnya, setelah menyatakan diri jatuh cinta dengan busur panah yang ia pakai.

Patah Hati

Kemudian, patah hati yang paling berat dialami Erika. Sebuah adegan di film dokumenter menunjukkan ia mencium dan 'menunggangi' salah satu palang besi di Menara Eiffel. Dari situ, diakui Erika, pengelola Eiffel menyatakan tak mau lagi berurusan dengan wanita tersebut.

"Saya bahkan tak tahu bagaimana harus mengungkapkan betapa hati saya remuk. Saya benar-benar hancur. Itu jadi pukulan terakhir saya, dan saya harus pergi," kata dia.

Setelah 'putus' dengan Menara Eiffel, Erika pun bekerja sebagai operator mesin crane. Dan dalam kesendirian, di atas ketinggian, ia mengakui bibit cinta telah bersemi antara dirinya dengan mesin crane yang ia operasikan.

"Butuh waktu lama bagi saya untuk memulai suatu hubungan baru," kata Erika.

"Saya rasa saya tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Namun, menjadi operator mesin crane, tak ada yang bisa melarang atau mempertanyakan hasrat saya mengenal benda tersebut. Saya merasa gedung-gedung yang kami bangun adalah anak-anak yang kami asuh bersama."

Tag: prancis yang unik psikologi masalah psikologis Menara Eiffel

Bagikan: