Setelah 20 Tahun Reformasi (Part 2)

Tim Editor
    Jakarta, era.id - Jelang peristiwa refomasi 20 tahun lalu, tepatnya 9 Mei 1998, Presiden Soeharto berangkat ke Mesir untuk menghadiri pertemuan KTT G-15. Sejarah mencatat, kunjungan ini menjadi lawatan terakhir Soeharto sebagai presiden. Sementara Soeharto berkunjung ke Kairo, di Jakarta terjadi serentetan peristiwa yang membuat amarah publik semakin tak bisa diredam. Dalam akhirnya, Soeharto lengser dari jabatannya setelah 32 tahun berkuasa. Berikut rangkumannya.

    12 Mei 1998
    Terjadi penembakan oleh aparat keamanan pada kerumunan massa aksi damai mahasiswa di depan kampus Trisakti. Penembakan ini menewaskan 4 orang mahasiswa.

    13 Mei 1998
    Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan sekitarnya datang ke Kampus Trisakti untuk menyatakan duka cita. Kegiatan itu diwarnai kerusuhan.

    14 Mei 1998
    Dalam pidato di depan masyarakat Indonesia di Kairo, Soeharto menyatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat menginginkan.
    Sementara itu kerusuhan dan penjarahan terjadi di beberapa pusat perbelanjaan di Jabotabek. Beberapa dari bangunan pusat perbelanjaan dirusak dan dibakar. Sekitar 500 orang meninggal dunia akibat kebakaran selama kerusuhan terjadi.

    15 Mei 1998
    Kunjungan Soeharto ke Kairo dipersingkat, ia segera kembali ke Indonesia.  Di tanah air ia membantah telah mengatakan bersedia mengundurkan diri. Suasana Jakarta masih mencekam. 

    18 Mei 1998
    Ketua DPR/MPR Harmoko meminta Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri, Hari itu Harmoko bersama 14 menteri kabinet Pembangunan VII mengajukan surat pengunduran diri.

    19 Mei 1998
    Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Abdurachman Wahid, Malik Fajar, dan KH Ali Yafie. Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam itu para tokoh membeberkan situasi terakhir, di mana eleman masyarakat dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur.

    Permintaan tersebut ditolak Soeharto. Ia lalu mengajukan pembentukan Komite Reformasi. Pada saat itu Soeharto menegaskan bahwa ia tak mau dipilih lagi menjadi presiden. Tapi tak mampu meredam aksi massa, mahasiswa yang datang ke Gedung DPR untuk berunjuk rasa semakin banyak.

    Di hari yang sama muncul ajakan dari Amien Rais kepada massa untuk mendatangi Monas guna memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

    20 Mei 1998
    Jalur jalan menuju Monas diblokade aparat dengan pagar kawat berduri untuk mencegah massa masuk ke komplek Monumen Nasional. Ternyata pengerahan massa batal. Pagi-pagi Amien Rais sudah meminta massa tak datang ke Lapangan Monumen Nasional karena khawatir malah timbulkan banyak korban jiwa. Sementara ribuan mahasiswa tetap bertahan dan semakin banyak berdatangan ke gedung MPR/DPR. Mereka terus mendesak agar Soeharto mundur.

    Malam hari 20 Mei 1998, Soeharto memanggil Yuzril Ihza Mahendra, Wiranto, Try Sutrisno, dan Umar Wirahdikusumah ke Cendana untuk membahas kondisi negara yang kian genting. Saat itu juga Yuzril membuat surat pengunduran diri Soeharto.

    21 Mei 1998
    Di Istana Merdeka, Kamis, pukul 09.05 WIB, Soeharto mengumumkan mundur dari kursi Presiden dan BJ. Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga.

    Sebentar lagi reformasi tiba di tahun ke 20-nya, di balik peristiwa itu ada banyak hal yang sampai hari ini belum menemui titik terang. Kisah tragis tentang jatuhnya ribuan korban, penculikan dan penghilangan nyawa, pembantaian satu etnis tertentu, pemerkosaan dan kehancuran fisik masih menjadi pertanyaan besar hingga hari ini. Pada episode selanjutnya dari visual history, era.id akan membahas beberapa peristiwa mencekam yang terjadi sebelum Soeharto mundur. So, pastikan terus dapatkan update-nya dari kami ya!

    Tag: peringatan 20 tahun reformasi vistory

    Bagikan :