Bung Karno Si Kutu Buku

Tim Editor

    Bung Karno (Ilustrasi: Rachmad Bagus/era.id)

    Jakarta, era.id - Di usia belasan, saya pernah jadi orang yang kebingungan tiap kali melihat Bapak saya membeli buku baru, memenuhi rak di sebelah mesin jait ibu yang terlihat makin sesak.

    Anehnya, Bapak enggak pernah paksa saya baca. Buatnya, membaca atau pun main playstation sama saja. Sama-sama belajar hal baru. Meski yang dipelajari tentu saja hal berbeda.

    Tapi, Ibu berbeda. Dia selalu bilang, semua orang besar di dunia ini adalah tukang baca alias kutu buku. Dan dia selalu menyebut nama Soekarno sebagai contoh.

    Iya, ibuku adalah pengagum Soekarno. Dan betul, bahwa Sang Putra Fajar nyatanya adalah seorang kutu buku. Coba saja, betapa seringnya Bung Karno berpesan tentang pentingnya membuka jendela dunia lewat membaca di tiap pidatonya.

    Berhubung zaman itu Google belum terbumikan, jadi sudah pasti medium yang dimaksud Bung Karno adalah buku. Bung Karno enggak asal kasih petuah, kawan. Sebab, sejumlah literatur memang menyebut Bung Karno sebagai kutu buku sejati.

    Bung Karno pun mengakui itu. Dikutip dari buku Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno, dikisahkan ketika berpidato di Istana Bogor pada 25 November 1965, Bung Karno mengatakan, "Saya ini, boleh dikatakan, sebagian daripada hidup saya itu pekerjaan cuma membaca, membaca, membaca, membaca, membaca."

    Sang Putra Fajar percaya, dengan membaca, pengetahuan kita akan bertambah. Dan dengan pengetahuan, setiap manusia akan dapat meningkatkan nilai kulturnya sebagai makhluk berakal dan berbudi.

    Membuka jendela dunia

    Terdengar sederhana memang, tapi makna dari membuka jendela dunia ini sejatinya memiliki makna yang sangat luas. Gambaran menarik tentang pemaknaan itu pernah disampaikan Adew Habsta, Sekretaris Jenderal Asia-Africa Reading Club.

    Habsta bilang, membaca adalah senjata paling ampuh untuk memetakan diri, menempatkan minat, memicu pengembangan potensi, hingga memotivasi diri demi meraih prestasi.

    Tapi, Bung Karno ini bukan kutu buku biasa. Bung Karno membaca segala hal. Dan enggak cuma asal baca, sebab Bung Karno tahu cara mengatur menu bacaannya dengan tertib, runut, dan berakar pada khazanah budaya bangsa. 

    Dalam dunia literasi, orang-orang seperti Bung Karno dikategorikan sebagai pembaca yang well read. Lihat saja bagaimana tajamnya pemikiran Bung Karno, hingga ide-ide dan gagasan cemerlang yang muncul. 
    Segalanya terasa begitu kaya. Rasanya, semua enggak muncul tiba-tiba, melainkan bersumber dari muara inspirasi atas ratusan, bahkan ribuan bacaan yang pernah ia lahap. Lihat saja gagasannya tentang Pancasila.

    Pentingnya membaca juga pernah disampaikan Bung Karno dalam pidatonya di Universitas Gadjah Mada (UGM), 19 September 1951. Kala itu, Bung Karno mengatakan, membaca adalah dasar dari kehidupan. Yang terpenting tetaplah penerapannya.

    "Bagi saya, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi kepada praktik hidup manusia, atau praktiknya bangsa, atau praktik hidupnya dunia kemanusiaan."

    Semangat Bung Karno menerapkan budaya literasi nampaknya enggak terwariskan dengan baik kepada generasi masa kini. Tengok saja data UNESCO yang menguak rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. 

    Jadi, siapa yang masih malas baca? Ingat lho, masa depan bangsa ada di tangan kita. Mau membangun bangsa ini dengan apa kita kalau bukan dengan pengetahuan?!

    Tag: bung karno sejarah nusantara

    Bagikan :