Fenomena Dukun Pengganda Uang dan Modus Mereka Menggaet Pelanggan

| 10 Apr 2023 21:20
Fenomena Dukun Pengganda Uang dan Modus Mereka Menggaet Pelanggan
Ilustrasi. (ERA/Luthfia Arifah Ziyad)

ERA.id - Tahukah kamu ada yang namanya Impostor Syndrome atau Sindrom Penipu? Yaitu ketika seseorang meragukan kemampuannya sendiri dan merasa pencapaian-pencapaiannya sebagai hal palsu dan kebetulan belaka. Sindrom itu pertama kali diperkenalkan oleh dua psikolog asal Amerika Serikat, Pauline Rose dan Suzanne Imes pada tahun 1978. Orang-orang yang mengidapnya merasa dirinya sebagai seorang penipu.

Lucunya, beda dengan pengidap Impostor Syndrome, penipu sungguhan justru adalah salah satu golongan manusia paling percaya diri di dunia, karena itu syarat paling awal menipu orang. Sebab kalau kepada diri sendiri saja sudah ragu-ragu, bagaimana mungkin mampu membuat orang lain percaya?

Kata komika Adriano Qalbi, bukan sembarang orang bisa menahan ketawa saat mengaku sakti dan orang-orang di sekitarnya percaya begitu saja. Bayangkan bagaimana caranya dukun gadungan macam Wowon dan Slamet meyakinkan orang-orang kalau mereka bisa menggandakan uang? Bagaimana bisa mereka tetap mempertahankan poker face saat banyak orang menyetor uang ke mereka buat digandakan, padahal dukun itu juga sedang butuh uang?

Modus penipu dan enam prinsip dasar persuasi

Saya pernah kehilangan dompet, terjatuh saat perjalanan menuju kantor. Uang di sana sekitar Rp300 ribuan, tapi yang penting kartu-kartunya: ATM, KTP, SIM. Dengan kalut saya siarkan pengumuman kehilangan di segala media sosial yang saya punya, berikut foto dompet saya dan nomor yang bisa dihubungi. Selang beberapa jam, hp saya berdering.

Terdengar suara bapak-bapak bernada rendah. Ia bilang menemukan dompet itu dan lihat pengumuman yang saya buat, tapi sayang, katanya uang di dompet sudah ludes saat ia temukan. "Boleh disebutin Mas ciri-ciri dompetnya sama ada apa aja isinya?" tanya bapak-bapak tadi. Saya deskripsikan dengan detail mulai dari bahannya, warnanya, hingga jeroannya.

Ia lalu mengabarkan akan segera pulang ke Cirebon dan entah kapan mampir lagi ke Jakarta. Dan waktu menelepon saya, ia mengaku sedang di depan pos ekspedisi. "Ini tinggal kirim aja sekarang Mas, soalnya saya buru-buru mau pergi habis ini," ucapnya. Saya mengirim alamat di Whatsapp. Ia balik mengirim ongkir yang kurang dari Rp50 ribu.

"Oke Pak, minta rekeningnya, biar saya kirim," tegas saya. Nomor rekening masuk, saya segera kirim Rp50 ribu. Lalu ada panggilan masuk lagi. Bapak tadi komplain karena uang yang saya transfer ngepas tanpa ada embel-embel uang rokok. 

"Ya mohon pengertiannya lah Mas," ucapnya. Bodohnya, saya menurut. Saya kirim lagi Rp50 ribu. Sehabis itu ia menghilang dan kontak saya diblokir. Saya baru kepikiran untuk cek nomornya di aplikasi Getcontact setelahnya. Ternyata ia penipu. Kerugian saya memang tak seberapa, tapi dongkolnya itu loh masih kebayang sampai sekarang, sekaligus saya merasa jadi orang paling bodoh sedunia. Sejak saat itu saya berikrar takkan ketipu lagi.

Belakangan saya merasa masih lebih mending ketimbang korban-korban yang dipeloroti penipu berkedok dukun pengganda uang macam Dimas Kanjeng, atau yang terbaru: Wowon dari Cianjur dan Slamet dari Banjarnegara. Bukan hanya kehilangan uang, sebagian korban bahkan meregang nyawa dan tinggal nama.

Komplotan penipu berkedok dukun pengganda uang dari kiri ke kanan: Wowon, Dede, dan Duloh. (Istimewa)

Dukun jagal penipu macam Wowon dan Slamet mungkin bukan orang terdidik, tapi sadar tak sadar mereka sudah mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar persuasi yang pernah dikemukakan seorang profesor psikologi, Robert Cialdini.

Persuasi tak lain adalah cara komunikasi untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Dan kata Robert dalam bukunya Influence: The Psychology of Persuasion, ada enam hal yang membuat persuasi jadi efektif dan mampu mempengaruhi orang: reciprocal (timbal balik), consistency (konsistensi), social validation (validasi sosial), liking (kesukaan), authority (otoritas), dan scarcity (kelangkaan).

Pertama, penipu menawarkan timbal balik dari apa yang ia tawarkan. "Kamu taruh uang sekian, saya akan gandakan beberapa kali lipat," kira-kira begitu. Mirip-mirip dengan penjaja investasi yang berusaha meraup modal dari orang-orang dan menjanjikan keuntungan lewat pemutaran uang. Bedanya, yang terakhir itu lewat perhitungan matematis yang bisa dipertanggung jawabkan, sedangkan dukun-dukun lewat perhitungan mistis dan menjanjikan hasil instan yang mustahil.

Kedua, konsistensi. Pada awalnya para dukun pengganda uang pasti memulainya dari jumlah-jumlah kecil, ratusan ribu rupiah hingga jutaan, tentu dengan tipu muslihatnya yang tampak nyata bisa menggandakan uang. Dari sana mereka memupuk kepercayaan para klien hingga mereka berani bertaruh nominal besar, belasan hingga puluhan juta.

Ketiga, validasi sosial. Sudah watak banyak orang lebih percaya dengan rekomendasi orang ketimbang apa pun. Makanya review-review dan rating di Google sangat diperhatikan orang-orang. Dukun juga begitu, mereka membangun reputasi dari mulut ke mulut. Mereka berusaha merekrut orang sebanyak-banyaknya untuk memberi testimoni baik dan mengundang lebih banyak orang mendatangi mereka.

Polisi menemukan tengkorak yang diduga korban kejahatan dukun Slamet. (Dok. Polda Jateng)

Keempat, hukum kesukaan. Ini sudah logika umum kalau manusia bakal condong kepada yang mereka suka. Dan rasanya tak ada yang lebih disukai orang ketimbang uang. Bayangkan ketika mereka ditawarkan bisa meraup banyak uang dengan minim usaha. Itulah yang ditawarkan dukun pengganda uang. 

Kelima, otoritas. Ketika ada orang berpengaruh yang mengiklankan sesuatu, orang-orang cenderung lebih percaya. Makanya banyak produk dipasarkan lewat mulut-mulut influencer. Dukun juga begitu. Dulu, Dimas Kanjeng mengumpulkan banyak pengikut dan banyak di antaranya intelektual, seperti anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Marwah Daud. 

Keenam, kelangkaan. Orang-orang akan terdorong untuk segera menerima penawaran jika itu terbatas. Awal-awal pandemi dulu, betapa kehabisan stok masker membuat banyak orang rela merogoh kocek gede-gedean agar bisa mendapatkannya. Sementara itu, dukun-dukun juga mempengaruhi kliennya agar memakai jasanya dengan embel-embel ilmunya tak bisa digunakan untuk banyak orang. 

Konon ada alasan mengapa dukun dipanggil orang pintar, tak lain karena yang datang ke sana tak lebih pintar darinya. Percayalah, seandainya benar ada yang bisa menggandakan uang, niscaya itu akan mereka gunakan untuk kepentingan sendiri. Kalau ada yang ngaku-ngaku mampu menggandakan uang, berarti mereka yang sedang butuh uang.

Rekomendasi