Waspada Hoarding Disorder, Ketika Menimbun Barang Bisa Bikin Hidup Runyam

| 19 Jul 2024 21:24
Waspada Hoarding Disorder, Ketika Menimbun Barang Bisa Bikin Hidup Runyam
Ilustrasi. (Era.id/Luthfia Arifah Ziyad)

ERA.id - Baru-baru ini, sebuah kamar indekos serupa kapal pecah sedang ramai dibahas netizen. Dalam video yang viral di media sosial, tampak pemilik kost bernama Siska menyatroni salah satu kamar yang katanya berbau busuk. Begitu pintu dibuka, kondisi dalam kamar seperti baru digilas bencana. 

Bekas-bekas plastik, tumpukan pakaian, hingga tulang ayam menimbun di atas kasur. Sementara lantainya penuh dengan sampah berserakan. Kamar mandinya pun sudah menguning dan kotor seperti sarang kecoak.

Menurut pengakuan Siska, sang penghuni adalah seorang perempuan pekerja kantoran. “Orangnya seberantakan kamarnya,” ujarnya membalas banyak pertanyaan orang-orang di kolom komentar. 

Ia juga bilang sang penghuni sempat berdalih kalau kamarnya itu cuma kotor biasa. Setelah digerebek dan tertangkap basah kondisi kamar sudah berantakan, Siska mengusirnya. Banyak orang lalu berkomentar penghuni kamar itu mengidap hoarding disorder. Mungkin kita bertanya-tanya, apa maksudnya?

Dilansir dari Aicare, hoarding disorder adalah gangguan mental berupa perilaku menimbun barang-barang yang tidak dibutuhkan dan tidak memiliki nilai jual. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) sebelumnya menggolongkan hoarding disorder dalam subtipe dari gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Namun, edisi DSM terbaru mengakuinya sebagai gangguan tersendiri dalam spektrum gangguan kecemasan.

American Psychiatric Association menyebut pengidap hoarding disorder akan mengalami kesulitan secara terus-menerus dalam membuang atau berpisah dengan harta benda karena merasa perlu menyimpan barang tersebut. 

“Upaya merelakan harta benda menimbulkan kesulitan besar dan mengarah pada keputusan untuk menyelamatkan harta benda tersebut. Kekacauan yang diakibatkannya mengganggu kemampuan dalam menggunakan ruang hidup,” begitu keterangan yang tercantum pada laman psychiatry.org.

Prevalensi hoarding disorder termasuk sedikit, hanya sekitar 2,6 persen menurut American Psychiatric Association. Kasusnya paling banyak terjadi pada orang tua berusia di atas 60 tahun dan pengidap gangguan mental lain, terutama kecemasan dan depresi.

“Prevalensi dan ciri-ciri hoarding tampak mirip antar negara dan budaya. Sebagian besar bukti menunjukkan hoarding terjadi dengan frekuensi yang sama pada pria dan wanita,” lanjutnya.

Maka tak heran kalau ada orang tua kita yang punya kebiasaan memboyong peralatan mandi cuma-cuma di hotel, lalu mengumpulkannya di rumah hingga bertumpuk-tumpuk. Mereka jarang memakainya, atau malah tak pernah menyentuhnya sama sekali, tetapi enggan membuangnya karena merasa sayang.

"Biasanya anak-anak muda belum sampai pada hoarding disorder, kalau malas membersihkan mungkin iya," ujar psikolog di Universitas Indonesia (UI), Aully Grashinta kepada Era.id, Jumat (19/7/2024).

Lalu, apakah perilaku menimbun barang dan sampah seperti yang dilakukan penghuni indekos sebelumnya masuk kategori hoarding disorder? Apa bedanya antara pengidap hoarding disorder dengan kolektor barang? Mungkinkah kita ternyata mengidap gangguan ini tanpa disadari? Apa ciri-cirinya dan bagaimana menanganinya? Kami akan bahas di sini.

Mengenali ciri-ciri hoarding disorder

Ada orang yang punya kegemaran menyimpan barang-barang tertentu, misalnya prangko, foto, tumblr, kaos band, action figure, atau barang-barang antik. Hobi menyimpan barang tertentu yang dilakukan secara terorganisir dan rapi disebut dengan koleksi. Dan itu berbeda dengan hoarding disorder yang dilakukan secara impulsif.

American Psychiatric Association menjelaskan, kolektor biasanya mendapat barang dengan cara terorganisir, disengaja, dan ditargetkan. Barang koleksi memang hanya disimpan dan tidak digunakan menurut fungsi asalnya, tetapi itu tetap dapat diatur, dikagumi, dan ditampilkan kepada orang lain.

Sementara itu, benda-benda yang dikumpulkan pengidap hoarding disorder sebagian besar dilakukan dengan impulsif dan tanpa perencanaan. Biasanya, benda-benda itu tidak punya tema konsisten, berbeda dengan benda koleksi yang hanya fokus pada suatu tema tertentu. 

“Kekacauan yang tidak terorganisir merupakan ciri dari hoarding disorder,” tulis American Psychiatric Association.

Jadi, bila di rumah banyak koleksi buku-buku bertumpuk di lemari, atau kita hobi menyimpan klipingan koran dan sebagainya, bukan berarti kita punya hoarding disorder. Karakteristik khusus hoarding disorder, menurut American Psychiatric Assocition, adalah sebagai berikut:

  1. Kesulitan berkelanjutan dalam membuang atau berpisah dengan barang, terlepas dari nilai sebenarnya.
  2. Kesulitan ini disebabkan karena perasaan butuh dan tertekan apabila harus membuang barang-barang tersebut.
  3. Tempat tinggal menjadi berantakan dan butuh campur tangan pihak ketiga untuk merapikannya.

“Penimbunan menyebabkan kesulitan atau masalah besar dalam kehidupan sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya (termasuk menjaga lingkungan yang aman bagi diri sendiri dan orang lain),” tulis American Psychiatric Assocition.

“Di samping ciri-ciri inti dari kesulitan membuang dan kekacauan, banyak orang dengan hoarding disorder juga punya masalah terkait seperti keraguan, perfeksionisme, penundaan, disorganisasi, dan mudah teralihkan,” lanjutnya.

Selain itu, banyak orang dengan hoarding disorder juga mengalami gangguan mental lainnya, termasuk depresi; gangguan kecemasan; gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas; hingga gangguan penggunaan alkohol. 

Sayangnya, penyebab hoarding disorder belum banyak diketahui. Karena menurut American Psychiatric Associaton, neurobiologi gangguan ini merupakan bidang yang baru berkembang, sehingga terlalu dini untuk mengambil kesimpulan terkait penyebabnya.

Namun, sejauh ini hoarding disorder dilaporkan lebih sering terjadi pada individu dengan anggota keluarga yang sama-sama punya masalah tersebut. Pengalaman hidup yang penuh tekanan (seperti kematian orang tercinta; perceraian; dan perpisahan) juga disebut dapat memperburuk gejala hoarding disorder.

Waspada risiko menimbun barang dan bagaimana penanganannya

Psikolog UI Aully Grashinta menyampaikan hoarding disorder mungkin baru-baru ini marak dibahas di Indonesia. Namun, di luar negeri kasusnya sudah ramai sejak lama, terutama di Amerika dan itu cukup meresahkan.

"Kalau di Indonesia mungkin baru ya, tapi sebetulnya kalau kita lihat di Amerika terutama, itu sudah banyak yang begitu, sehingga harus sampai ada dinas sosial yang datang. Karena balik kepada keamanan, artinya ketika barang itu menumpuk, kemudian bahkan dia tidak bisa tidur di tempat tidurnya dia karena penuh dengan barang-barang yang lain," ujarnya.

"Itu kalau di Amerika kan akan berpengaruh pada jaminan kesehatan, layanan sosial, dsb. Sehingga pemerintah itu punya tindakan yang kuat untuk kemudian bisa menangani orang-orang dengan hoarding disorder," ujarnya.

Meskipun tampak tidak berbahaya, hoarding disorder punya risiko untuk diri sendiri maupun orang lain. Di antaranya sebagai berikut:

  • Kesulitan beraktivitas dalam rumah;
  • terjatuh karena barang berceceran di lantai;
  • terjebak di antara barang-barang yang ditimbun;
  • pertikaian keluarga karena rumah berantakan;
  • kesepian dan isolasi sosial;
  • kondisi rumah yang kumuh bisa meningkatkan risiko penyakit;
  • kebakaran;
  • hingga berkembangnya gangguan mental lain seperti depresi, gangguan kecemasan, OCD, dan ADHD.

Maka, jika kita merasa punya tanda-tanda hoarding disorder seperti disampaikan sebelumnya, kita disarankan mengunjungi dokter atau psikolog. Apalagi jika kebiasaan menimbun barang kita sudah di tahap menyusahkan diri sendiri dan orang sekitar. 

"Kalau kita punya rekan atau keluarga yang hoarding disorder, memang kita akan sulit berbicara dengan dia, sehingga yang harus dilakukan adalah penyembuhan atas gangguan terhadap trauma-trauma mental tersebut. Bahkan kalau di Amerika, kita bisa melihat ada jasa untuk hal seperti ini. Artinya jasa membersihkan rumah yang terkait hoarding behaviour. Dan itu bekerjasama dengan psikolog, dengan psikiater," ujar Aully.

"Harus bekerja sama dengan psikolog, misalnya dengan terapi kognitif behaviour, dengan beberapa terapi yang akhirnya dia bisa letting go, bisa melepaskan sesuatu. Jadi perlu bantuan profesional," lanjutnya.

Sebelum berkonsultasi, ada beberapa panduan yang bisa lebih dulu dilakukan. Pertama, mencatat gejala yang dialami. Misalnya, kita merasa sudah berlebihan menimbun barang; kesulitan memilah dan membuang barang; serta punya keterikatan emosional dengan barang-barang tersebut. Kita juga bisa memerinci sejak kapan gejala-gejala tadi mulai dirasakan.

Selanjutnya, menelusuri riwayat penyakit keluarga. Kita bisa mencari tahu apakah ada anggota keluarga kita yang punya masalah serupa atau gangguan mental lain. Seperti disebutkan American Psychiatric Association, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada kemungkinan faktor genetik memengaruhi kerentanan terhadap gangguan penimbunan barang. 

Kita pun perlu mencatat dampak negatif yang sudah ditimbulkan dari perilaku menimbun barang. Seberapa berantakan rumah kita hingga mengganggu aktivitas; apakah timbunan barang menyebabkan kita terisolasi dari hubungan sosial; dan apakah itu menyebabkan pertikaian keluarga.

Selain itu, ada bagusnya juga untuk menelusuri faktor-faktor yang memicu munculnya gangguan. Situasi stres seperti masalah ekonomi; putus kerja; kehilangan orang yang dicintai; maupun perubahan kondisi lain seperti pindah rumah bisa memicu perilaku menimbun. 

Aully Grashinta menambahkan perlunya dukungan dari support system yang ada, seperti anak dan pasangan.  

"Biasaya hoarding behaviour itu bukan pada anak-anak muda, tapi semakin tua semakin tinggi gejalanya," ujar Aully. "Hoarding behaviour disorder itu biasanya terjadi kepada orang-orang yang beranjak dewasa, punya keluarga. Jadi peran keluarga ini sangat diperlukan untuk menyampaikan kepada dia realitasnya. Bahwa akan bahaya ketika rumah ini penuh dengan sampah, akan jadi penyakit, bahkan mungkin rumah ini tidak lagi layak dihuni," pungkasnya.

Rekomendasi