Cerita Lama Susu Kental Manis

Tim Editor

Ilustrasi Susu Kental Manis (Mia Kurniawati/era.id)

Jakarta, era.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan surat edaran yang intinya mempersoalkan iklan dan label produk susu kental manis. Lewat surat yang ditandatangani pada 22 Mei 2018 itu, BPOM menetapkan sejumlah larangan terkait iklan-iklan produk susu kental manis.

Larangan pertama, iklan produk susu kental manis enggak boleh lagi menampilkan anak berusia di bawah lima tahun sebagai bintang. Selain itu, iklan produk susu kental manis juga enggak boleh muncul di jam-jam tayang anak, apalagi dalam program-program televisi anak.

Dan yang paling esensial, iklan produk susu kental manis dilarang menggunakan visualisasi yang mengesankan bahwa susu kental manis adalah produk susu yang layak dikonsumsi sebagai pelengkap gizi. Alasannya, susu kental manis nyatanya bukanlah produk yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Surat yang ditandatangani oleh Kepala Bidang Pengawas Obat dan Makanan Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Suratmono itu ditujukan kepada produsen, importir, dan distributor produk susu kental manis. Buat BPOM, larangan-larangan ini harus terimplementasi seenggaknya dalam enam bulan sejak edaran diterbitkan.

Berbeda dengan banyak orang, saya sih enggak kaget-kaget amat ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan surat edaran tersebut. Ibu saya yang belasan tahun bekerja untuk sebuah laboratorium swasta sudah sering banget bilang bahwa susu kental manis bukanlah produk susu. Jadi, sejak lama, keluargaku memang anti banget tuh menyeduh susu kental manis.

Ternyata, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun menyatakan hal senada. Sekretaris Jenderal Kemenkes, Untung Suseno Sutarjo mengatakan, secara medis, produk susu kental manis memang bukan untuk dikonsumsi dengan cara diseduh, apalagi dikonsumsi anak dengan dalih pelengkap gizi, sebagaimana sering divisualisasikan dalam iklan-iklan produk susu kental manis.

Kenyataannya, kandungan susu kental manis jauh dari kata seimbang. Dengan kadar gula yang sangat tinggi, susu kental manis justru berpotensi menimbulkan penyakit diabetes jika dikonsumsi berlebih. Hal itu ditegaskan oleh Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes, Doddy Izwardi. 

"Kental manis ini tidak diperuntukan untuk balita. Namun perkembangan di masyarakat dianggap sebagai susu untuk pertumbuhan. Kadar gulanya sangat tinggi, sehingga tidak diperuntukkan untuk itu," katanya sebagaimana dikutip Antara, Jumat (6/7/2018).

Eits, bukan berarti susu kental manis enggak boleh dikonsumsi sama sekali, lho. Susu kental manis tetap boleh dikonsumsi, namun hanya untuk pelengkap makanan. Ya, apa pula rasanya martabak keju tanpa susu kental manis?!

Berbau kepentingan

Surat edaran BPOM ini langsung memicu perdebatan. Enggak cuma dari para produsen dan distributor produk susu kental manis, tapi juga dari praktisi industri pemasaran. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) misalnya yang mengingatkan BPOM untuk enggak terjebak dalam perang dagang dan persaingan antarprodusen susu kental manis dan berfokus pada unsur-unsur ilmiah dan kesehatan.

Memang, agak mengherankan juga kenapa polemik susu kental manis ini baru mencuat sekarang. Padahal, seperti yang saya bilang, persoalan kandungan dalam susu kental manis itu sejatinya sudah cerita lama. YLKI bilang, sumber yang mereka miliki menyebut ada kepentingan industri di dalam polemik ini. 

"Informasi yang YLKI peroleh, polemik tentang kental manis mencuat karena ada 'perang dagang' antara produsen susu ... Bila fenomena itu benar, kebijakan BPOM terkait produk kental manis menjadi tidak sehat," kata Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi.

Seperti YLKI juga, Center for Healthcare Policy and Reform Studies (Chapters), sebuah lembaga riset dan edukasi kesehatan independen juga mendorong BPOM untuk bersikap profesional. Ya, jika banyak dugaan adanya kepentingan industri yang dibawa BPOM dalam penerbitan edaran ini, maka BPOM wajib membuktikan bahwa dugaan itu salah.

Caranya, tentu saja BPOM enggak boleh bersikap diskriminatif. Artinya, apapun produk susu kental manis yang bermasalah, wajib ditertibkan. Selain itu, BPOM juga harus memperjelas substansi dari surat edaran yang mereka terbitkan. Sebab, sejauh ini surat edaran BPOM hanya mengatur tentang sejumlah larangan pelabelan dan iklan susu kental manis.

Padahal, menurut Chapters, BPOM seharusnya juga mengatur soal kandungan dalam produk susu kental manis. "Ini dapat membingungkan masyarakat ... Saya juga tidak tahu kenapa baru sekarang tiba-tiba, apakah ada kepentingan dibalik itu atau tidak," ungkap Chairman & Founder Chapters Luthfi Mardiansyah dalam keterangan pers yang dirilis.

Kandungan


Infografis "Kandungan Susu Kental Manis" (Mia Kurniawati/era.id)


Pertanyaannya sekarang adalah, apa mungkin masyarakat bisa mengubah pola dan cara mereka mengonsumsi susu kental manis ketika produk susu kental manis ini telah dilabeli dan diiklankan secara keliru dalam waktu bertahun-tahun?! Saya sih ragu.

Lagipula, surat edaran BPOM memang terkesan tanggung. Mengatur iklan, tapi enggak mengatur kandungan yang termuat dalam produk susu kental manis. Padahal, kandungan susu kental manis terbukti enggak bagus-bagus amat buat tubuh. Saya enggak asal ngomong, lho!

Pakar kesehatan dan gizi, Dokter Dian Permatasari mengatakan, ketika dikonsumsi berlebihan, susu kental manis yang memiliki kadar gula amat tinggi dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, penyakit jantung, hingga stroke. Karenanya, Dian mengimbau masyarakat untuk berhenti menjadikan susu kental manis sebagai konsumsi harian. 

Sebagaimana ditulis doktersehat.com, Dian menyebut, susu kental manis idealnya hanya dikonsumsi sebagai pelengkap makanan, seperti tambahan adonan pembuat roti, topping, atau campuran pada jus, atau es buah, dan lain sebagainya. Iya, termasuk campuran martabak keju juga.

Nah, berbeda dengan pernyataan Dian, Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia, Profesor Hardinsyah malah bilang, susu kental manis sebenarnya jauh lebih baik dari produk minuman dan makanan berpemanis lain. Eh, tapi enggak semua jenis susu kental manis, lho!

Menurut Hardinsyah, ada dua jenis susu kental manis: Krimer dan Full Cream. Nah, krimer berfungsi sebagai pelengkap, sedangkan full cream berfungsi sebagai penyedia nutrisi karena mengandung vitamin, mineral, dan protein. 

"Di pasaran saat ini ada ratusan produk makanan minuman manis yang tidak diatur, yang kandungan pemanisnya lebih tinggi dari susu kental manis dan klaim sebagai produk pangan bergizi," tegas Hardinsyah.

Menengahi semua kebingungan di atas, Dokter Amaliya, pendiri sekaligus peneliti dari Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) mendorong BPOM untuk segera mengambil langkah untuk memperjelas identitas produk susu kental manis. Iya, apakah layak sebagai konsumsi harian atau cuma boleh dikonsumsi sebagai pelengkap.

Habis, hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menegaskan produk susu kental manis sebagai faktor utama penyebab berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes, gizi buruk, dan kerdil (stunting). Jadi, semoga BPOM bisa segera kasih penjelasan sejelas-jelasnya, ya. Jangan sampai negeri ini gaduh cuma karena perkara susu, amin.

Tag: kesehatan polemik susu kental manis kuliner ramadan

Bagikan: