Menakar Peluang Mahfud MD Dampingi Jokowi

Tim Editor

Tuan Guru Bajang (Foto: era.id)

Jakarta, era.id - Nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD disebut-sebut sebagai calon kuat pendamping Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kontestasi Pemilu 2019. Lalu, bagaimana peluang Mahfud? Kami mewawancarai sejumlah pengamat untuk menakar peluang Mahfud.

Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago misalnya, yang menyebut Mahfud sebagai pasangan yang cukup oke untuk mendampingi Jokowi. Pangi menyebut Mahfud sebagai sosok negarawan yang memiliki jam terbang dalam berbagai bidang kenegaraan.

Mahfud yang pernah memimpin hakim-hakim konstitusi dianggap begitu hebat dalam bidang penegakan hukum. Itu baru menimbang kiprah Mahfud di ranah yudikatif. Di tingkat eksekutif, Mahfud bahkan pernah menjabat posisi menteri: menteri pertahanan di 2000 dan menteri hukum dan HAM pada 2001.

Di lingkup legislatif, Mahfud pun pernah menempati posisi sebagai wakil rakyat yang menempati Komisi III dalam kurun waktu 2004-2008. “Mahfud pernah menjabat sebagai menteri, anggota DPR dan punya kemampuan di bidang penegakan hukum, soal beliau pernah menjadi ketua MK,” tutur Pangi dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (18/7/2018).

Hal senada disampaikan pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah, Jakarta, Gun Gun Heriyanto. Menurut Gun Gun, pengalaman Mahfud bakal jadi modal berharga buat dirinya dan pemerintahan Jokowi --tentu saja jika Mahfud betul-betul ditunjuk jadi cawapres dan memenangi Pemilu 2019 bersama Jokowi.

Selain rekam jejak dan kredibilitas, Mahfud secara politik juga memiliki nilai tawar yang tinggi. Latar belakang Mahfud yang terikat dengan Nahdlatul Ulama (NU) jadi modal elektoral penting buat Jokowi untuk menghimpun sebanyak mungkin suara dari kaum agamis. "Ketatanegaraan dia pakarnya, bagaimana juga dia santri. Kita tidak bisa menafikan makna santri itu ada di mahfud," kata Gun Gun.

Kendala

Nah, terkait kendala, Gun Gun menyebut faktor geopolitik barangkali yang bakal menjegal langkah Mahfud dan Jokowi andai keduanya betul-betul maju bersama dalam Pemilu 2019. Fakta bahwa Jokowi dan Mahfud sama-sama berasal dari Pulau Jawa, kata Gun Gun akan berpengaruh besar dalam perolehan suara di berbagai wilayah Nusantara lain.

Jokowi dan Mahfud boleh saja memenangi suara di Pulau Jawa, tapi bagaimana dengan daerah lain? Faktor geopolitik ini, kata Gun Gun penting banget untuk jadi perhitungan. "Problem yang krusial juga bagaimana memastikan dukungan di luar Jawa. Karena Jokowi Jawa dan pak Mahfud juga," tutur Gun Gun.

Selain itu, Mahfud dipandang kurang cocok untuk mendampingi Jokowi dalam pemerintahan Indonesia yang tengah menggenjot laju pertumbuhan ekonomi. Iya, Mahfud jelas bukan pakar soal ini. Karenanya, sosok cawapres buat Jokowi yang ideal disebut-sebut adalah orang yang memiliki pemahaman mendalam soal ekonomi.

Terkait itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati membantah. Menurutnya, Jokowi enggak perlu seorang ekonom untuk memastikan laju pemerintahannya cukup kuat untuk menggenjot laju pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Kata Eni, yang terpenting buat pemerintahan sebagai organisasi adalah membentuk struktur yang kuat di berbagai bidang. Dengan membentuk tim khusus ekonomi, misalnya. "Yang dibutuhkan adalah tim ekonomi yang kuat, yang dulu dikenal dalam tim presidensil, dalam hal ini second kabinet yang berisi ahli profesioanal," ujarnya.

"Artinya, cawapres yang akan dipilih itu backgroundnya hukum, ekonomi atau parpol, tidak berkaitan langsung terhadap penyelesaian masalah ekonomi, tidak apa-apa ... Jadi yang dibutuhkan adalah organisasi yang mengelola sektor ini. Sehingga kalau ditanyakan apakah figur itu harus ekonom? Jawabnya tidak!" tegas Eni.


Infografis "Mencari Pendamping Jokowi" (era.id)


Pesaing

Mahfud tentu bukan satu-satunya nama yang dikaitkan sebagai cawapres Jokowi. Ada Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto misalnya, atau Cak Imin alias Muhaimin Iskandar yang kini begitu milenial, serta sejumlah tokoh lainnya.

Tapi, jika ada sosok lain yang barangkali jadi saingan berat Mahfud untuk mengisi posisi cawapres berdampingan dengan Jokowi, Pangi menyebut sosok itu adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal dengan Tuan Guru Bajang (TGB).

“TGB bisa menjadi pesaing terberat bagi Mahfud, karena success story kepala daerah dua periode, beliau ulama, diharapakan mampu menetralisir isu sentimen politik entitas agama dan etnis,” ujar Pangi.

Ya, siapa pun yang dipilih Jokowi, Pangi sih mengaku punya gambaran ideal soal siapa sosok yang baiknya dipilih Jokowi. Kata Pangi, cawapres Jokowi idealnya adalah seseorang yang dapat bersinergi baik dengan Jokowi. Artinya, enggak terlalu terbenam, enggak juga terlalu menonjol.

“Tidak menjadi matahari kembar dan tidak menjadi dominan Pak Jokowi. Bisa menutupi kelemahan Jokowi dan tidak lebih menonjol dari Jokowi. Beliau harus bisa menyelesaikan isu politik identitas agama dan etnis,” ungkapnya.

Jadi, siapa nih menurutmu?

Tag: pilpres 2019

Bagikan: