Pembakaran Satu Keluarga di Makassar Bukti Peliknya Bisnis Narkoba

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Makassar, era.id - Entah bagaimana memulai kisah ini. Intinya, di Makassar, ada satu keluarga berjumlah enam orang yang tewas dibakar komplotan bandar narkoba. Menurut kepolisian, aksi sadis bin biadab ini dipicu utang piutang salah seorang anggota keluarga itu dengan komplotan bandar narkoba.

Fahri, awalnya dikeroyok oleh sejumlah orang: Ambang, Ollong, Riswan, Said, dan Wandi. Ke limanya mengeroyok pria 24 tahun itu atas perintah Iwan Lili, kakak Riswan, seorang narapidana narkoba yang sedang menjalani masa kurungan di dalam penjara. 

Menurut Iwan Lili, Fahri yang merupakan pengedar itu memiliki utang hasil penjualan sabu senilai Rp1 juta. Iya, sejokut! Gila memang. Fahri yang dikeroyok di sekitar Jalan Barukang itu kemudian membawa Riswan Cs ke rumah kakeknya, Haji Sanusi (70).

Ketika sampai di rumah kakeknya itu, Fahri kabur masuk ke dalam rumah, mengunci pintu pagar dan rumahnya. Riswan Cs pun mencak-mencak, hingga Amiruddin, ayah Fahri keluar menemui mereka dan berjanji akan melunasi utang si anak.

Belum selesai urusan dengan Riswan Cs, keluarga Fahri malah kedatangan tamu lain. Mereka adalah utusan Daeng Ampu, bos kelompok narkoba yang mengincar Fahri. Menurut utusan Daeng Ampu ini, Fahri memiliki utang hasil penjualan narkoba senilai Rp9 juta. 

Esokan harinya, tanggal 5 Agustus 2018, dari dalam Lapas Makassar, Daeng Ampu menelepon Andi Muhammad Ilham. Kepada Muhammad Ilham, Daeng Ampu mengirim perintah ke Muhammad Ilham untuk membunuh Fahri. Daeng Ampu dapat informasi kalau Fahri mau kabur ke Kendari, Sulawesi Tenggara.

Tanggal 6 Agustus 2018, sehari setelah perintah Daeng Ampu ia terima, Muhammad Ilham bersama seorang rekannya, Ramma membakar rumah Haji Sanusi. Akibat aksi Muhammad Ilham dan Ramma, Fahri bersama lima anggota keluarganya --Haji Sanusi beserta istrinya Bondeng (65) dan anak-anaknya: Musdalifa (30), Fahril (24), dan Namira (24) plus seorang cucu, bayi dua tahun, Hijas tewas terpanggang di dalam rumah.

"Otak pembakaran rumah itu adalah narapidana kasus pembunuhan, tersangka Akbar Ampuh (Daeng Ampu) yang masih berada di LP Kelas 1 Makassar. Ia memerintahkan Andi Ilham dan Rahman yang masih buron untuk menagih utang hasil penjualan narkoba Rp10 juta ke Muhamad Fahri yang tewas dalam kebakaran itu," kata Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Irwan Anwar sebagaimana dikutip dari Poskota, Selasa (14/8/2018).

Hukuman berat

Terkait peristiwa ini, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto berang bukan main. Dia enggak habis pikir, cuma perkara utang yang melibatkan Fahri, kelompok bandar narkoba Daeng Ampu tega menghabisi nyawa satu keluarga Fahri.

Buat Ramdhan, enggak ada hal lain yang harus dilakukan penegak hukum kecuali menghukum seberat-beratnya para pelaku. "Saya kaget ternyata dibakar oleh orang hanya karena utang. Ini perbuatanya sangat keji dan pelaku harus dihukum seberat-beratnya," katanya sebagaimana ditulis detikcom.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), Jamaluddin menyebut kekejian yang dilakukan kelompok Daeng Ampu sebagai kejahatan yang enggak ada ampun, mirip kejahatan-kejahatan yang dilakukan kartel-kartel narkoba di Meksiko katanya.

Malahan, dengan kondisi Sulawesi Selatan yang dikategorikan sebagai zona merah narkoba, ia menyerukan untuk tembak mati penjahat-penjahat sejenis Daeng Ampu ini. "Diselesaikan saja (ditembak mati saja). Sulsel ini sudah masuk kategori darurat narkoba," kata Jamaluddin.

Kalau dipikir-pikir, banyak memang bandar narkoba yang lebih masyhur dan lebih besar dari Daeng Ampu yang kacrut ini. Tapi, jujur saja, enggak banyak yang sumbunya sependek kelompok ini. Seperti yang dibilang Jamaluddin, bahwa kelompok ini lumayan gila.

Bayangkan saja, sasaran mereka sejatinya kan cuma satu orang, tapi mereka enggak pakai pikir panjang, enggak memikirkan dampak pembakaran ke orang-orang lain di sekitar Fahri. Nah, ini yang menurut Jamaluddin mirip dengan perilaku bangsat bandar-bandar narkoba di Meksiko.


Marciano Millan Vasques alias Chano (Ilustrasi era.id)

Bos kartel sadis Meksiko

Bukan menyama-nyamakan si kacrut Daeng Ampu dengan Marciano Millan Vasques alias Chano. Tapi, kalau kamu ingat, pada 2017 lalu, Hakim Pengadilan Distrik Amerika Serikat, Xavier Rodriguez menjatuhkan tujuh hukuman seumur hidup atas tujuh dakwaan yang dilakukan Chano.

Dalam salah satu dakwaannya, Chano terbukti terlibat langsung dalam penculikan dan pembunuhan seorang gadis enam tahun. Menurut saksi dalam persidangan, dengan tangannya sendiri, Chano memutilasi gadis itu hidup-hidup, sebelum membakar sang gadis malang di dalam tong. Gilanya, Chano memutilasi dan membakar gadis itu di hadapan kedua orang tuanya.

Bahkan, menurut saksi yang sama, Chano tertawa saat melakukan pembunuhan sang gadis malang, termasuk ketika memaksa kedua orang tua sang gadis menyaksikan dirinya memotong lengan dan kaki gadis tersebut dengan kapak. Setelah puas mempertontonkan aksi biadabnya, Chano kemudian memerintahkan orang tua sang gadis untuk dibunuh.

Memang, ini bukan perkara seberapa banyak korban yang timbul dari kejahatan yang dilakukan Daeng Ampu atau pun Chano. Kami sadar betul, satu korban tewas bahkan sudah terlalu banyak. Namun, keberadaan fakta begitu banyaknya kekejaman yang menyelubungi bisnis narkoba harus jadi pemecut buat para penegak hukum mempercepat laju pemberantasan bisnis ini.

Ya, akui saja, narkoba bukan cuma perkara menyelamatkan orang-orang yang terjerat dalam nikmat semu zat kimia, tapi juga soal rantai perputaran uang yang rasanya bahkan lebih mendesak untuk diputus. Ya, terasa sangat kuno aja gitu, sok sibuk menangkap pengguna narkoba, seakan-akan di sana lah akar masalahnya. Padahal mah... Hmmmmmm..

Sekian!

Tag: viral anak nonton porno darurat narkoba

Bagikan: