Tingginya Gelombang Tsunami di Palu Kejutkan Ilmuwan Dunia

Tim Editor

Kondisi pantai di Kota Palu setelah diterjang tsunami (Twitter @Sutopo_PN)

New York, era.id - Tsunami yang menghancurkan Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (21/9/2018) menyita perhatian ilmuwan dunia. Soalnya, dilihat dari ukuran gempanya, tsunami yang terjadi seharusnya tidak sebesar itu.

"Kami (sudah) menduga (gempa) ini bisa menyebabkan tsunami, (tapi) tidak sebesar itu," kata Jason Patton, seorang ahli geofisika yang bekerja di perusahaan konsultan, Temblor, dan mengajar di Humboldt State University di California, seperti dilansir New York Times, Selasa (2/9).

Gempa berkekuatan 7,4 SR yang menerjang pada sore hari, berpusat di sepanjang pantai pulau Sulawesi sekitar 50 mil sebelah utara Palu. Tak lama setelah itu--dalam waktu 30 menit--gelombang setinggi sekitar 6 meter menerjang daratan, menghancurkan bangunan dan kendaraan serta menewaskan ratusan orang.

Para ahli tsunami menambahkan, jumlah korban jiwa yang tinggi juga mencerminkan kurangnya sistem canggih Indonesia untuk deteksi dan peringatan tsunami.

Masyarakat lain di Sulawesi, termasuk kota Donggala, juga dilanda tsunami, meskipun masih ada beberapa rincian tentang kehancuran atau korban tewas di luar Palu, tapi gelombang di daerah-daerah di luar Palu relatif lebih kecil. Mengapa?
 

Dikutip dari AFP, ternyata ada faktor-faktor lain--termasuk teluk yang panjang dan sempit--berkonspirasi menciptakan gelombang berukuran monster. Ahli vulkanologi dari Concord University, Janine Krippner mengungkap, tsunami juga dapat dipengaruhi oleh lokasi Kota Palu yang berada di ujung teluk sempit.

"(Kondisi) itu dapat memperkuat tinggi gelombang karena menyalurkan air ke area yang lebih kecil," kata dia. 

“(Tinggi) ombaknya setidaknya dua hingga tiga meter tingginya, dan mungkin dua kali lipatnya,” kata Jane Cunneen, peneliti di Fakultas Sains dan Teknik Universitas Curtin di Bentley, Australia Barat, dan arsitek sistem peringatan tsunami Samudra Hindia, yang dikembangkan di bawah bimbingan PBB.

Menurut Baptiste Gombert, ahli tektonik di departemen ilmu bumi Universitas Oxford, dalam sebagian besar kasus, tsunami dihasilkan oleh apa yang disebut gempa dorong, yang menciptakan perpindahan vertikal besar-besaran dari dasar laut. 

Tsunami Palu, sebaliknya, dihasilkan oleh sesar mendatar, di mana potongan-potongan kerak bumi bergerak di atas atau di bawah satu sama lain di sepanjang bidang horizontal.

Jadi apa yang menyebabkan gelombang mematikan itu? Setidaknya tiga faktor, para ahli mengatakan kepada AFP.
 

Pertama, bentuk teluk memainkan peran utama dalam memperkuat ukuran ombak karena teluk bertindak seperti corong ke mana gelombang tsunami masuk. Saat teluk menyempit dan menjadi lebih dangkal, air didorong dari bawah dan diperas dari sisi padat yang sama.

Kedua adalah ukuran dan lokasi gempa. 7,4 SR adalah gempa kuat dan hanya terjadi sedikit setiap tahun. Dan gempa yang mengantam Palu ini juga terbilang dangkal yang berarti terjadinya perpindahan dasar laut yang lebih besar.Yang lebih buruk, pergeseran ini dekat dengan pantai sehingga gelombang tinggi menyembur dalam waktu singkat. 

Yang terakhir,  dari bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa gelombang tsunami ini diperbesar oleh longsor di bawah laut. Bisa di mulut teluk atau di dalam teluk itu sendiri.

Mungkin ini bisa membantu menjelaskan mengapa tsunami yang menerjang Palu begitu besar, tetapi jauh lebih kecil di daerah sekitarnya.

Baca Juga : Siap Siaga Gempa di Pulau Jawa
 

Tag: prayforpalu prayfordonggala prayforsulteng

Bagikan: