Merasakan Perjalanan Jokowi ke Sulteng

Tim Editor

Presiden Jokowi di Palu. (Foto: Twitter @jokowi)

Jakarta, era.id - Masih ingat betul dalam pikiran kita di akhir bulan September 2018 tentang peristiwa yang mencenangkan rakyat Indonesia dan dunia. Saudara kita yang tinggal di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi, tiba-tiba harus merasakan hari paling menakutkan dalam hidupnya. 

Ketika itu, di hari Jumat (28/9) menjelang sore, mereka harus merasakan gempa dengan Magnitudo 7,4 yang memicu gelombang tsunami di pantai Kota Palu. Bencana ini membuat kota itu luluh lantak.

Sebagai kepala negara, Presiden Joko Widodo langsung bergegas untuk melihat kondisi wilayah terdampak bencana tersebut. Terhitung, sudah dua kali Presiden Jokowi berkunjung ke Sulawesi Tengah yaitu pada Senin (30/9) dan Rabu (3/10).

Lantas, seperti apa sih rasanya ikut Presiden Jokowi mengunjungi korban terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah tersebut? Kami sempat mewawancarai Politikus PKB Abdul Kadir Karding yang ikut dalam kegiatan Presiden Jokowi tersebut. Karding ikut Jokowi saat kunjungan pada 3 Oktober.

Cerita Jokowi temui warga

Karding yang berada dalam ring satu kunjungan itu, punya keistimewaan yaitu mengikuti pergerakan Presiden Jokowi. Otomatis, ia mengamati bagaimana sikap Jokowi ketika bertemu dengan para korban gempa yang mengungsi.

"Jadi di Palu kita turun dari pesawat itu pak Jokowi langsung menengok pengungsi atau orang-orang sakit yang keruntuhan bangunan dan sebagainya. Ditengok dan diajak berbicara, didengarkan aspirasinya satu persatu," kata Karding saat berbincang dengan era.id beberapa waktu lalu.

Setelah dari Palu, Presiden Jokowi kemudian beranjak ke Kabupaten Donggala. Sama seperti di Palu, kata Karding, Jokowi juga menyapa sejumlah pengungsi yang meminta agar rumahnya diperbaiki karena rusak akibat bencana gempa itu.

"Rata-rata minta soal rumah roboh ini diganti. Rusak ringan rusak sedang diganti dan langsung dijawab, 'oke. akan kita bantu minimal Rp50 juta', ngomongnya sih begitu. Per satu rumah. Dan kalau ada masyarakat di jalan ya pak Jokowi berdialog begitu saja," cerita Karding.


(Foto: dokumen Abdul Kadir Karding)

Pertemuan Izrail dan Jokowi

Saat kunjungan Presiden Jokowi di Palu, ia sempat menyaksikan proses evakuasi di Hotel Roa Roa yang roboh. Kata Karding, Jokowi sengaja datang ke sana untuk memberikan semangat bagi para relawan yang bertugas melakukan evakuasi korban tertimbun di sana. 

Usai melakukan kunjungan, Karding bilang, tiba-tiba ada sekerumunan anak kecil yang masuk ingin bertemu Jokowi. Anak kecil itu, salah satunya adalah Izrail yang berusia 4 tahun dan viral di media sosial karena ingin ikut dengan Presiden Jokowi sebab ibunya menjadi korban jiwa dalam peristiwa itu.

"Ada anak kecil bilang, 'pak saya mau ikut'. Lalu pak Jokowi tanya, 'kenapa mau ikut?'. Dia lalu cerita, 'karena ibu saya meninggal. Saya mau ikut pak Presiden saja'. Setelah ngobrol, disemangati pak Jokowi, lalu dikasih kue-kue dan makanan yang ada di mobil pak Jokowi," ungkap Karding.

Kata anggota DPR RI Komisi III itu, memang mobil Presiden Jokowi saat itu tersedia banyak makanan dan cemilan. Jadi pertemuan itu bukanlah settingan atau sengaja.

"Tapi ini engga disetting atau sengaja mau ketemu anak itu, memang anak kecil itu menyerobot dan bertemu dengan pak Jokowi," jelasnya.

Tampil apa adanya

Karding menggambarkan, saat dirinya dan rombongan Presiden Jokowi mendatangi wilayah Petobo di Kecamatan Sigi Boromaru yang terdampak likuifaksi ada kejadian menarik. Saat itu, cuaca cukup panas dan bau menyengat tanda ada jasad yang terkubur tercium di wilayah itu. 

Namun, Presiden Jokowi tetap santai dalam kunjungannya ke daerah tersebut. Ia sibuk memperhatikan bagaimana dampak likuifaksi itu menimbun rumah masyarakat yang diduga sebagian penghuninya juga ikut tertimbun lumpur yang muncul akibat bencana gempa tersebut.

"Waktu itu bau sudah tak sedap. Pak Jokowi ini, saya lihat enggak pakai masker. Padahal menteri-menterinya sudah pakai masker. Tapi, pak Jokowi enggak. Santai saja dia," katanya.


(Foto: dokumen Abdul Kadir Karding)

Sempat tak jadi pulang

Kunjungan yang hanya dijadwalkan hanya satu hari dan diakhiri siang hari, terpaksa berubah. Saat tiba di Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Presiden Jokowi bukannya langsung masuk ke dalam pesawat, tapi malah mengadakan rapat koordinasi atau rapat terbatas dengan sejumlah pihak.

Di antaranya, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Sosial Agus Gumiwang, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kapolri, Panglima TNI, dan Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola. Hasil rapat itu, Presiden Jokowi mengeluarkan enam instruksi.

"Pertama, evakuasi supaya semakin ditingkatkan progresnya. Kedua, pembagian bantuan supaya merata. Ketiga, buka toko, warung, swalayan serta pusat ekonomi yang ada dengan penjagaan ketat oleh aparat Polisi dan TNI, kalau perlu anggota polisi, TNI, dan PNS yang jualan modal dari pemerintah agar menjadi trigger bagi perekonomian," kata Karding.

"Keempat, segera suplai BBM, obat-obatan, dan listrik diperbaiki. Kelima, Kantor Pemda, Provinsi, dan Kabupaten harus dibuka tidak boleh enggak buka. Terakhir, setiap pemberian bantuan harus dilaporkan pada publik dan tugas itu diberikan pada pak Wiranto saat itu," sambungnya.
 


Menikmati sop di warung yang masih beroperasi

Karding dan rombongan Presiden Jokowi pun kembali ke Kota Palu usai menjalankan rapat terbatas di Bandara Mutiara Sis Al Jufri. Presiden Jokowi kemudian memerintahkan agar berhenti di sebuah warung. Saat itu, kata Karding, hanya ada satu warung yaitu Warung Pangkep 'Sop Saudara' di Jalan Mohammad Yamin yang buka. Kemudian rombongan pun berhenti di sana.

Setelah melaksanakan salat di dapur yang menurut Karding, tak layak untuk dimasuki seorang Presiden akhirnya para rombongan itu makan. Jokowi, menurut Karding, pun ikut menyantap makanannya meski masakan yang disajikan sederhana karena keterbatasan usai mengalami bencana. Saat menyantap makanannya Presiden Jokowi tampak santai bahkan sesekali ia mengobrol dengan orang yang ikut dalam rombongan tersebut.

"Saya heran, kenapa pak Jokowi milih makan di warung padahal di pesawat kan bisa. Terus saya tanya, kan di situ juga makanannya menurut saya kurang higenis ya. Ternyata, tujuannya membangun keyakinan pada publik. Toko sudah boleh buka, amanlah kalau buka toko, warung. Rupanya itu tujuannya," jelasnya.

Setelah makan, rombongan itu kembali ke Bandara Mutiara Sis Al Jufri dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta. 


(Foto: dokumen Abdul Kadir Karding)

Kami yang penasaran akhirnya iseng bertanya kepada Karding apakah pak Jokowi tampak lelah. Tentu, jawab Karding. Namun Presiden Jokowi tetap saja menjalankan tugasnya sebagai kepala negara.

"Ya capek, tapi kelihatannya biasa saja. Pas berangkat itu mengobrol terus tapi begitu pulang beliau tertidur dan baru bangun saat sudah dekat Jakarta," ujar dia.

Tag: jokowi prayforpalu prayfordonggala prayforsulteng

Bagikan: