Memanggul Beban Politik ke Puncak Everest

Tim Editor

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto (FOTO: Istimewa)

Jakarta, era.id - Perhelatan pilpres sudah dimulai. Dua pasang calon menjajaki jalan setapak menuju puncak kekuasaan Republik Indonesia periode 2019-2024. Namun, isu-isu yang dilempar salah satu kubu pasangan calon justru sudah sampai ke Puncak Everest.

Kisah ini bermula dari ocehan Mardani Ali Sera, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dalam sebuah acara televisi nasional, Mata Najwa, Mardani dengan berapi-api berkoar, Prabowo adalah orang Indonesia pertama yang berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia, Everest.

"Prabowo sudah membuktikan kualitasnya, 26 April 1997 ketika tidak ada seorang pun dari Asia Tenggara yang mampu menaklukkan Everest, Prabowo dan tim Kopassus-nya mampu menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Itu ciri khas kepemimpinan utama," ujar Mardani.

Klaim sepihak Mardani ini langsung direspon kilat oleh begitu banyak netizen. Di Twitter, sejumlah netizen saling menimpali omongan Mardani dengan sejumlah data bantahan. Intinya, menurut rangkaian kultwit para netizen itu, tersebutlah sebuah nama: Clara Sumarwati sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil mencapai puncak Everest.

Tapi tunggu dulu. Saat menulis artikel ini, kami mendapat update kalau Mardani telah memperbarui pernyataannya. Kata Mardani, dia enggak pernah bilang Prabowo adalah orang pertama yang berhasil mencapai puncak Everest. Mardani bilang, yang menaklukkan Everest itu adalah tim bentukan Prabowo beranggotakan 23 orang Kopassus saat Prabowo menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus.


Pegunungan Himalaya (Foto diambil dari Pixabay)

"Pak Prabowo Danjen Kopassusnya saat itu. Dan beliau membentuk tim 23 orang, dan luar biasa menjadi tim pertama di Asia Tenggara yang menaklukkan Everest, dan sampai sekarang berat sekali Everest itu dan itu menunjukkan betapa bahwa Pak Prabowo ini punya kemampuan, salah satu target harus tuntas," kata Mardani sebagaimana ditulis Detikcom.

Nanti dulu. Kita cek lagi kutipan Mardani dalam acara Mata Najwa kemarin. Kutipan yang sudah kami tulis di atas, tapi terpaksa kami paparkan lagi: Prabowo sudah membuktikan kualitasnya, 26 April 1997 ketika tidak ada seorang pun dari Asia Tenggara yang mampu menaklukkan Everest, Prabowo dan tim Kopassus-nya mampu menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Itu ciri khas kepemimpinan utama.

Jika membaca kalimat kutipan Mardani di atas, apa yang kamu tangkap? Barangkali kami nih yang salah menafsirkan. Atau, lihat dan simpulkan sendirilah apa maksud Mardani lewat tayangan di bawah --mulai menit 3.33, ketika Mardani yang tengah membahas isu ekonomi tiba-tiba ngeloyor ke isu Everest.
 


Kontroversi Clara puncaki Everest

Sudahlah, kita lupakan ocehan Mardani. Meski lumayan bikin orang-orang heboh, tapi Mardani sudah luruskan, bahwa Prabowo bukan orang Indonesia pertama yang berhasil puncaki Everest. Bahkan, Mardani sendiri yang akhirnya bilang, Prabowo bahkan enggak menjadi bagian tim 23 yang berhasil mendaki sampai ke puncak Everest.

Nah, kisah Clara nih yang lebih menarik. Meski didukung banyak data, klaim Clara sebagai pemuncak pertama Everest dari Indonesia di tahun 1996 pun nyatanya diragukan banyak orang. Tahun 2009, Serka Asmujiono, salah satu anggota Kopassus yang tergabung dalam tim 23 pernah menuturkan kisah kontroversial pendakian Clara.

Dikutip dari arsip pemberitaan Detikcom, Asmujiono menyebut klaim Clara sejatinya sudah bermasalah sejak dulu. Menurutnya, betul bahwa Clara tercatat sebagai penerima sertifikat dari asosiasi pendaki Everest di Nepal. Namun, sertifikat tersebut enggak bisa serta-merta dijadikan klaim bahwa seseorang telah berhasil memuncaki Everest.

Sebab, andai penerima sertifikat itu betul-betul berhasil memuncaki Everest, ia harus menyertakan sejumlah bukti berupa catatan waktu tiba hingga foto dan video yang menunjukkan citra dirinya bersama sebuah tiang berbentuk segitiga yang menjadi tanda dari titik tertinggi gunung 8.848 mdpl itu. Dan sayangnya, menurut Asmujiono, Clara enggak pernah bisa menunjukkan bukti tersebut.

"Penelusuran teman-teman, Clara memang mendapat sertifikat dari asosiasi pendaki Everest di Nepal. Nama dia tercatat. Namun, pemberian sertifikat itu juga mencatatkan syarat agar Ibu Clara melengkapi bukti-buktinya. Namun, kabarnya Ibu Clara tidak pernah bisa memberikan bukti itu," kata Asmujiono.


Catatan Everest Sumitteers


Hasrat Clara mendaki Everest bermula ketika ia bersama tiga perempuan pendaki asal Indonesia berhasil menancapkan tiang bendera dan mengibarkan bendera merah putih di puncak Aconcagua, salah satu puncak gunung tertinggi di Pegunungan Andes, Amerika Selatan.

Keberhasilan itu memacu Clara untuk mencapai puncak yang lebih tinggi, dan Everest tentu adalah jawabnya. Untuk mewujudkan mimpinya itu, Clara mengikuti seleksi yang digelar Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPAGD) pada 1993. Dari enam perempuan yang mendaftar pendakian ke Everest, hanya Clara yang lolos.

Dalam upaya puncaki Everest, Clara sempat dua kali gagal: tahun 1994 dan 1995. Dua tahun itu, badai salju menghalangi ambisi Clara.  Mimpi besar Clara akhirnya terwujud satu tahun setelahnya, setelah dirinya mendapat dukungan dari Panitia Peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka sebagai sponsor.

Belajar dari dua kegagalan sebelumnya, kali ini Clara memilih jalur utara, jalur yang dikenal lebih panjang dan menanjak. Setelah melalui beberapa tahap pendakian, akhirnya Clara berhasil mencapai puncak dengan dibantu lima Sherpa. Sherpa adalah sebutan porter untuk masyarakat Nepal yang diambil dari salah satu suku di sana.

Pada momentum itulah Clara dan tim didapuk menjadi orang pertama yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia. Dan jika bukan catatan waktu, foto, dan video sebagai bukti, Clara menyebut lima sherpanya itu sebagai saksi bahwa dirinya betul-betul berhasil puncaki Everest. 

Tekanan orde baru

Sejumlah sumber menyebut gesekan fakta yang disampaikan Clara dan Asmujiono sebagai anggota Kopassus sempat betul-betul panas pada masa orde baru. Saat itu, Clara dikabarkan kerap mendapat tekanan dari militer. Bahkan, masuknya Clara ke Rumah Sakit Jiwa Prof dr Soerojo pada tahun 2009 disebut-sebut sebagai dampak dari parahnya tekanan militer terhadapnya.

Di tengah ramainya ocehan Mardani dan kebenaran pemuncak Everest, seorang netizen, @PakarLogika mengungkap sejumlah data yang menunjukkan kebenaran dari klaim Clara sebagai orang Indonesia pertama yang puncaki Everest. Selain itu, @PakarLogika juga menuturkan bagaimana tekanan terhadap Clara saat orde baru begitu besar.
 

Soal tekanan militer terhadap Clara, kita tentu enggak bisa begitu saja menyebut hal tersebut sebagai kebenaran. Namun, yang jelas, beberapa literasi dan lembaga telah mencatatkan bukti bahwa Clara berhasil puncaki Everest di tahun 1996, satu tahun sebelum Asmujiono dan tim 23 bentukan Kopassus.

Dalam jurnal internasional tulisan Walt Unsworth dalam Everest (1999), dan Everest: Expedition to the Ultimate garapan Reinhold Messner (1999) misalnya, yang mencatatkan nama Clara sebagai salah satu pemuncak Gunung Everest. Selain itu, catatan Everest Summiteers --sebuah lembaga nonprofit yang memiliki catatan nama pendaki-pendaki yang berhasil puncaki Everest-- juga catatkan nama Ms. Clara Sumarwati sebagai salah satu pendaki yang berhasil melakukan pendakian Gunung Everest pada 26 September 1996.

Clara sendiri sudah angkat suara soal klaim Mardani. Clara bilang, dia enggan meributkan persoalan ini lagi. Bukan apa-apa, buat Clara, dia hanya ingin mendaki dan enggak peduli pada persoalan politik dan enggan dilibatkan dalam persoalan politik.

"Jangan dilawan, mereka memang begitu ... (Karena) politik sih. Saya kalau sudah lari ke politik ya jangan libatkan saya, saya bukan orang politik, saya pendaki asli yang tahunya latihan dan mendaki gunung, enggak tahu masalah politik," kata Clara seperti ditulis Detikcom.

Tag: prabowo-sandiaga prabowo subianto pemilu 2019 gunung everest

Bagikan: