Rasa penasaran akan kapasitas pria yang kini berusia 75 tahun itu mendorong tim era.id untuk menelusuri sosok Ma'ruf Amin lebih jauh, dengan mengunjungi keluarganya di Desa Koper, Kecamatan Kresek, Tangerang, Banten, Senin (19/11/2018).
Butuh waktu sekitar dua jam dari Ibu Kota untuk sampai ke rumah almarhum ayahanda Ma'ruf Amin, yakni KH. Moh. Amin yang merupakan ulama sekaligus tokoh masyarakat yang cukup tersohor seantero Banten. Namanya pun harum, hingga dijadikan oleh masyarakat sebagai nama jalan di wilayah tersebut.
Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh adik Ma'ruf Amin yakni Ma'luf Amin bersama istri dan anaknya. Sekilas tak ada yang istimewa dari rumah dua lantai itu. Hanya ada beberapa bingkai foto keluarga, termasuk foto ayahanda Ma'ruf Amin yakni Mohammad Amin yang terpajang di dinding dekat tangga.
Ma'luf Amin adik Ma'ruf Amin. (Sahroji/era.id)
Sambil mengajak kami untuk duduk lesehan di ruangan tamu, Ma'luf Amin membuka ceritanya tentang Ma'ruf, bahwa beberapa saat lalu, dia baru saja mendampingi Ma'ruf untuk menghadiri acara deklarasi dukungan dari sebuah pondok pesantren di Tigaraksa, Tangerang.
Dia mengatakan, saat ini mulai banyak para kiai dan santri serta pondok pesantren di Banten yang menyatakan sikapnya mendukung Ma'ruf Amin di pertarungan elektoral Pilpres 2019. Bahkan, para kiai yang mendukung tersebut banyak dari tokoh sentral di Banten.
Ma'luf mengaku cukup sering mendampingi kakaknya itu jika sedang melakukan kampanye di Banten. Dia bahkan mengaku kelelahan mengikuti padatnya kegiatan sang kakak, yang bisa dikatakan full time setiap harinya.
Kakak, Ayah, dan Guru
Sambil mengajak kami meminum kopi hitam berikut dodol dan teman-temannya, Ma'luf mengaku mengagumi kekuatan fisik kakaknya yang tak lagi muda itu. Rais 'Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu sejak muda dikenal memiliki fisik yang kuat. Aktivitas kegamaan maupun sosial pun dilakoninya sejak subuh hingga malam hari.
"Fisiknya kuat, yang muda bisa kalah kelelahan. Bukannya abah (Ma'ruf Amin) yang capek, yang muda yang capek," kata Ma'luf.
Kendati sibuk kampanye, lanjut Ma'luf, kakaknya masih sering menyempatkan diri untuk mengajar, baik di pondok pesantren maupun di beberapa kampus.
"Masih sempat ngajar, tadi juga beliau abis mengijazahkan kitab kuning sama santri di Tangerang, beliau sempat mengkaji kitab kuning di depan santri, yang merupakan kitab dari kakek beliau Syekh Nawawi Al Bantani," jelas dia.
Foto keluarga Ma'ruf Amin. (Sahroji/era.id)
Tak hanya dikenal sebagai seorang ulama, Ma'ruf Amin juga dikenal sebagai pemikir di bidang keagamaan, salah satunya kemampuannya yakni terkait literasi di bidang ekonomi Islam. Hal itu pula yang membuat calon petahana Joko Widodo kesengsem dengan kiai kharismatik satu ini.
Kecerdasannya dalam berpikir pun diakui adiknya sendiri. Dia bercerita, saat dirinya baru keluar --belajar-- dari pondok pesantren ayahandanya KH. Mohammad Amin seringkali memintanya untuk sowan ke kediaman Ma'ruf Amin di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bukan tanpa alasan, Ma'luf diminta menemui Ma'ruf Amin untuk belajar dan mengambil ilmu dari Ma'ruf Amin.
"Saya kalau bulan puasa disuruh orang tua ke Tanjung Priuk. Ngaji tafsir, beliau yang baca (mengajarkan)," kenang Ma'luf.
"Bapak itu enggak sembarangan memerintahkan saya untuk belajar lagi ke kiai Ma'ruf. Itu karena beliau sudah paham bagaimana keluasan ilmunya kiai Ma'ruf makanya saya suruh belajar sama beliau," lanjut dia, seraya menambahkan bahwa Ma'ruf bukan hanya sebagai kakak, tetapi juga sebagai orang tua dan guru bagi dirinya.
Kediaman Ma'luf Amin. (Sahroji/era.id)
Saat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sekitar tahun 1958, Ma'ruf Amin telah dikenal sebagai sosok yang cerdas. Itu terbukti saat dirinya mampu menguasi sebuah kitab kuning bertema Fiqih yakni Al-Iqna.
"Kitab itu (Al-Iqna) biasanya diajarkan untuk santri tingkat lanjutan, tapi kiai Ma'ruf sejak menginjak SD sudah menguasai kitab tersebut," jelas Ma'luf.
Sosok cerdas sekaligus pemikir di bidang ekonomi Ma'ruf Amin, lanjut dia, tak lepas dari peran mendiang sang ayah yang sangat tegas dan disiplin mendidik putra-putrinya. Saat berdakwah di wilayah Banten, ayah beliau tak hanya dikenal sebagai seorang ulama, melaikan juga sebagai pemikir dibidang ekonomi. Karya nyata tersebut ada hingga saat ini, saat beliau mencetuskan mendirikan pasar untuk menghidupkan perekonomian masyarakat.
"Dahulu abuya (KH. Mohammad Amin) itu mendirikan tiga pondasi yaitu masjid untuk ibadah, pesantren untuk pendidikan, dan pasar untuk menghidupi ekonomi masyarakat," imbuh dia.
Masjid Baituttaibiin, masjid yang didirikan oleh ayahanda Ma'ruf Amin, Moh. Amin di Tangerang, Banten. (Sahroji/era.id)