Akhirnya Ada Alasan Kenapa Zaman Soeharto Lebih Asyik

Tim Editor

Ilustrasi (Mahesa/era.id)

Jakarta, era.id - Berkendaralah di Jalur Pantura, Lintas Sumatera, atau jalur-jalur lain di mana truk berlalu-lalang. Jika beruntung, kamu bisa berkendara di belakang truk dengan gambar mantan Presiden Soeharto bertulis pesan: Enak zamanku, to? Sebuah pengalaman yang menggugah kehidupan berpolitik kita sebagai masyarakat. Tapi, apa betul zaman Soeharto lebih asyik?

Sejatinya, pesan itu enggak hanya bisa kita temui di belakang truk. Beberapa pesan sejenis juga tampak menggugah lewat mural-mural di tembok jalan, atau berseliweran dalam bentuk meme di media sosial.

Tapi, kembali lagi pada pertanyaan di atas: apa iya lebih enak zaman Soeharto? Meski ragu, kami yang berpegang pada pemikiran positif, coba mencari alasan-alasan kenapa zaman Soeharto dianggap lebih enak dari zaman Jokowi sekarang. Dan akhirnya, kami dapat alasan-alasan itu.

Di YouTube, kami menemukan sebuah video wawancara seorang kakek tua. Lasimin namanya. Entah siapa kakek ini. Yang jelas, gagasannya soal zaman Soeharto yang lebih enak dari zaman Jokowi amat menarik. Menurut Lasimin, ada satu alasan kenapa zaman Soeharto lebih enak dari zaman Jokowi. Alasannya, saat zaman Soeharto dulu, istrinya masih cantik dan muda.

"Oh, enak Pak Harto, mas. Karena dulu, istri saya masih cantik dan muda," tutur Lasimin dalam sebuah video yang belakangan viral di media sosial itu.

Tenang, kawan. Istri Pak Lasimin yang masih muda saat zaman Soeharto dulu bukan satu-satunya alasan kenapa zaman Soeharto lebih enak dari zaman Jokowi. Kami melakukan sebuah riset, mengumpulkan sejumlah fakta dan data yang bisa jadi memang menggiring kita, mengingatkan bahwa ada sejumlah faktor yang membuat zaman Soeharto lebih enak dari zaman Jokowi.


Infografis (era.id)


Yang ini serius!

Pertama, tentu saja kita lihat isu yang paling hangat: nilai tukar rupiah. Saat ini, masyarakat begitu dikhawatirkan dengan naik turunnya harga dolar AS terhadap rupiah. Sempat beberapa kali menyentuh angka Rp15 ribuan per dolar AS, hari ini nilai tukar rupiah belum juga menguat. Dipantau sore pukul 17.45 WIB, nilai tukar rupiah tercatat berada di angka Rp14.608 per dollar AS.

Nah inilah alasan pertama yang begitu sempurna dan amat sangat relevan untuk menyebut zaman Soeharto lebih asyik dari zaman Jokowi. Bayangkan, zaman itu, ketika editor senior kami, Riki Noviana duduk di kursi SMA (tolong jangan hitung usianya sekarang), harga dolar AS berkisar di angka Rp300-an perak. Bayangkan, dengan nilai tukar dolar AS yang segitu, berapa banyak model kit Gundam yang bisa dibeli Aditya Fajar, editor kami yang budget beli mainannya sering enggak masuk akal.

Alasan lain kenapa zaman Soeharto lebih enak adalah karena kita enggak perlu repot-repot berdebat dan bertengkar soal perbedaan pandangan politik. Maklum, zaman dulu cuma ada sosok Soeharto yang boleh dan paling pantas jadi presiden. Sosoknya yang enggak tertandingi mempersatukan masyarakat, tanpa perpecahan-perpecahan yang dipicu latar belakang dukungan politik terhadap satu calon dengan calon lainnya. Yang bikin rusuh, hidupnya bakal terganggu.

Saat itu, agenda pemilu ditargetkan untuk memilih presiden dan wakilnya, plus memilih wakil rakyat dari tiga partai politik: Golongan Karya (Golkar), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Tapi, kenyataannya rakyat ketika itu hanya memilih partai. Wakil rakyat untuk mengisi kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bahkan dipilih oleh Soeharto, lewat usulan panitia yang juga ditunjuk oleh Soeharto sendiri. Jadi, memang enggak ada deh tuh ribut-ribut karena pilihan politik di tengah masyarakat.

Selain itu, tentu saja zaman Soeharto lebih enak karena pembangunan dilakukan secara masif. Bukan tanpa alasan kan Soeharto disebut Bapak Pembangunan Nasional. Ya meski pada akhirnya negara ini terjerat utang yang begitu besar. Toh, yang menanggung utang itu bukan rezim Soeharto, tapi rezim-rezim setelahnya, dari masa kepemimpinan B.J. Habibie hingga Jokowi hari ini. Jadi, memang beralasan menyebut zaman Soeharto lebih enak.

Tahun 2017 lalu, usai menetapkan RUU APBN 2017 menjadi UU, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengeluh soal pembayaran pokok utang dan bunga yang mencapai Rp500 triliun. Jika dilihat proporsinya, itu berarti 25 persen lebih APBN 2017 dialokasikan untuk pembayaran utang pokok dan bunganya. Intinya, saat itu JK menyebut, jangan harapkan APBN untuk menggerakkan ekonomi.

"20 persen dari anggaran untuk bayar utang dan cicilan. APBN yang disetujui tidak mampu mendorong ekonomi jadi sektor pembangunan yang lebih akseleratif, itu keadaan yang kita hadapi artinya maka solusinya adalah semua harus berhemat," tutur JK ditulis Antara.

APBN memang sudah sejak lama terbebani oleh pembayaran pokok utang dan bunga yang diwariskan era pemerintahan Soeharto, sejak krisis dan beban surat utang dalam rangka rekapitalisasi perbankan. Jadi, siapapun pemerintahan yang berkuasa, mau enggak mau memang harus menanggung utang peninggalan orde baru yang jumlahnya terus bergulir. 

Utang pemerintah yang merupakan beban utang masa lalu yang ditambah beban untuk menutup defisit APBN pemerintahan dari tahun ke tahun terus bertambah. Pada tahun pertama pemerintahan Jokowi, tercatat utang pemerintah per September 2014 berada di angka Rp2.601,72 triliun. Di Juni 2016, catatan itu meningkat hingga Rp3.362,74 triliun. Pada September 2016, beban utang pemerintah tercatat menembus angka Rp3.444 triliun.

Jadi, enak zaman mana nih kawan?

Tag: presiden soeharto

Bagikan: