Usai Perjanjian Damai, Pertempuran Pecah di Hudeidah Yaman

Tim Editor

Aden, era.id - Pertempuran kembali pecah di pinggiran kota pelabuhan Hudeidah, Yaman, Jumat (14/12) kemarin. Pertempuran itu terjadi sehari setelah perjanjian gencatan senjata dicapai oleh pihak berperang dalam pembicaraan perdamaian, yang dipelopori Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pelabuhan utama tersebut, yang digunakan untuk menyalurkan makanan bagi 30 juta penduduk Yaman, dikuasai gerakan Houthi, yang bersekutu dengan Iran dan mengendalikan ibu kota Sanaa serta berperang melawan koalisi pimpinan Saudi, yang berniat memulihkan pemerintahan, yang digulingkan pada 2014.

Dilansir dari Antara, Hudeidah menjadi pusat pertempuran tahun ini, menimbulkan ketakutan di dunia bahwa pertempuran tersebut dapat memutus jalur pemasokan dan mengarah ke kelaparan massal. Pasukan Yaman, yang didukung koalisi pimpinan Saudi, berada di pinggiran kota itu.

Kendati gencatan senjata disepakati, seorang warga mengatakan kepada Reuters bahwa ia mendengar suara peluru kendali dan senjata otomatis di arah kawasan 7 Juli di bagian timur kota tersebut.


Ilustrasi (Pixabay)

TV Al Masirah yang dikelola Houthi mengatakan, pesawat tempur koalisi melancarkan dua serangan atas kota Ras Isa, sebelah utara Hudeidah. Koalisi belum segera memberikan konfirmasi atas laporan tersebut.

Pihak berperang sepakat setelah konsultasi selama sepekan di Swedia untuk menghentikan pertempuran di Hudeidah, dan menarik tentara mereka sebagai bagian dari langkah-langkah pembangunan kepercayaan guna memuluskan jalan bagi gencatan senjata lebih luas dan perundingan politik.

Pembicaraan tersebut merupakan terobosan penting pertama bagi usaha perdamaian PBB untuk menghentikan perang yang hampir berlangsung empat tahun. Puluhan ribu orang tewas dalam perang itu yang juga mengakibatkan Yaman ke jurang kelaparan.

Martin Griffiths, utusan khusus PBB mengatakan pada akhir pembicaraan perdamaian bahwa kedua pihak akan menarik diri dalam waktu beberpa hari dari pelabuhan itu dan kemudian dari kota tersebut.

Pemantau internasional akan dikerahkan dan semua pasukan bersenjata akan mundur sepenuhnya dalam waktu 21 hari. Komite Koordinasi Pengerahan Kembali yang beranggota dua pihak dan diketuai oleh PBB akan mengawasi pelaksanaannya.

Kedua pihak mengeluarkan pernyataan setelah pembicaraan itu, yang menyatakan mereka akhirnya akan mengendalikan Hudeidah.

Abdullah al-Alimi, pejabat tinggi di kantor Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dukungan Saudi, menulis kicauan pada Jumat, perjanjian itu berarti penarikan Houthi dari kota tersebut. "Otoritas sah akan sepenuhnya mengendalikan keamanaan dan administrasi".

Sementara itu, Kantor media Houthi membuat cuitan bahwa pasukan pendudukan akan meninggalkan Hudeidah dan "otoritas saat ini akan menjadi otoritas resmi".

Tag: yaman-arab saudi

Bagikan: