Kisah Norma Korban Selamat Tsunami Banten

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Sepekan sudah bencana tsunami menerjang Selat Sunda. Peristiwa mengerikan ini, jelas sekali, tak bisa hilang begitu saja dari ingatan para korban yang selamat. Salah satunya Norma Komara (laki-laki, 34 tahun), warga Bogor yang terseret ke tengah lautan saat berlibur bersama teman-temannya. Berikut kisahnya, seperti yang diceritakan Norma kepada era.id.

Sabtu, 22 Desember 2018, aku Norma Komara berkemah bersama enam orang temanku di kawasan Pantai Cipenyu, Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten.

Tenda kami berdiri di atas permukaan tanah yang memiliki ketinggian sekitar 2 meter dari bibir pantai. Tapi, posisinya ada di bawah jalan raya yang jaraknya 4-5 meter. Dengan kata lain, posisi tenda ada di antara pantai dan jalan raya, dipisahkan ketinggian berbeda yang menyerupai tiga anak tangga/sengkedan jika dilihat dari kejauhan. Total ketinggian dari permukaan pantai ke jalan raya berarti 6-7 meter.

Saat itu, sekitar pukul 21.00 WIB, aku sedang duduk di sebuah 'bale' bambu dekat tenda sambil bersantap malam, menghadap ke laut. Teman-temanku melakukan aktivitas masing-masing tak jauh dari tempat aku duduk. 

Tiba-tiba, tanpa pertanda apapun, gelombang tsunami setinggi 7-8 meter muncul di depan mataku. Tidak ada getaran (gempa) dulu. Tidak ada gemuruh. Mereka datang dan menyeretku ke laut.

Berkali-kali aku berusaha kembali ke bibir pantai. Tapi apa daya, ombak sangat deras dan terus menggulungku hingga ke tengah.


Ilustrasi (Pixabay)

Badanku terpelanting dan membentur batu karang. Punggung, pinggang, dan pangkal pahaku sakit. Tapi aku bersyukur akhirnya bisa berpegangan ke batu karang itu.

Tapi, lagi-lagi ombak menerjang. Bahkan, kini jauh lebih mengerikan! Ombak itu bukan cuma datang dari belakangku. Tapi dari sisi kanan dan kiri. Menghantamku  di tengah-tengah, kuat sekali sampai peganganku terlepas.

Tergerus gelombang yang jauh lebih ganas, aku pasrah, dan tenggelam... Pada momen ini, aku teringat almarhum ayah.

Aku sudah merasa bakal mati dan segera bertemu ayahku. Tapi kemudian aku mencoba sekuat tenaga untuk kembali ke permukaan. Dan, Alhamdulillah... Bongkahan pohon lewat di depanku.

Tanpa pikir panjang, kupeluk bongkahan pohon itu dan mencoba berenang menuju bibir pantai dengan sisa-sisa tenagaku. Tapi badanku kadung lemas dan kakiku mati rasa lantaran terombang-ambing di tengah lautan selama sekitar 1 jam.

Sepertinya aku memang tidak bakal selamat. Terlalu banyak air laut yang masuk melalui mulut dan hidungku. Aku pasrah jika Allah mau ambil nyawaku.

Di tengah laut, malam hari, sendiri, kedinginan, kesakitan, dan hanya pemandangan hitam yang terlihat, aku beristigfar: "Astagfirullah.. Astagfirullah.. Astagfirullah...."


Ilustrasi (Pixabay)

Di saat harapan sudah sirna, sayup-sayup suara terdengar dari arah belakang.

"Siapa itu yang istigfar?!" seseorang berteriak dalam bahasa Sunda, menanyakan sumber suara.

"Saya pak," jawabku, dengan sisa suaraku. Meski aku tidak melihat siapa orang yang memanggilku.

"Siapa itu?!!!" orang itu kembali bertanya lebih keras, karena aku tak terlihat akibat gelapnya lautan.

"Saya pak...saya," jawabku lagi, sambil memaksakan diri melambaikan tanganku. Orang itu akhirnya melihatku yang mengapung di atas bongkahan pohon.

Ternyata dia seorang nelayan. Sudah tua dan badannya lebih kecil dariku. Dia memintaku untuk naik ke atas perahu kecilnya. Tapi ketika aku lihat perahunya sudah dipenuhi air, aku takut. Tidak ada pilihan bagiku.

"Naik saja dulu. Jangan khawatir...kita (baca) Bismillah. Bapak bawa kamu ke pantai," ujar si nelayan tua, mencoba meyakinkanku.

Aku dan nelayan tua itu lantas mendayung perahu dengan sekuat tenaga menuju bibir pantai. Aku di sisi kanan, si nelayan tua di sisi kiri. Setiba di pantai, nelayan tua itu membopongku hingga ke tepi jalan raya yang tingginya sekitar 6-7.

Di sini aku melihat jejak gelombang tsunami di salah satu atap rumah yang masih utuh. Artinya, tinggi ombak itu lebih dari 8 meter.

Aku lalu berterima kasih atas pertolongan yang diberikan si nelayan tua kepadaku. Tapi si nelayan tua itu langsung meninggalkanku seraya berkata: "Bapak mau ke bawah dulu, ya." Lalu hilang ditelan gelap malam dan ribuan tetes hujan.

Tiga temanku lalu menghampiriku dan menangis. Begitupun aku, tak kuasa menahan tetesan air mataku. Tapi aku baru sadar, tidak ada wajah tiga temanku yang lainnya; Roman, Gandring, dan Ayu.

Kami lantas mencoba menghentikan kendaraan yang melintas. Tapi, bukannya berhenti. Para pengendara malah menambah kecepatan kendaraannya. Orang-orang pun berlarian sambil berteriak, 'Air laut surut!'. Artinya, tsunami bakal datang lagi.

Tanpa memikirkan rasa sakit di sekujur tubuhku, tanpa alas kaki... Kami dkk berlari ke atas bukit yang dipenuhi pohon bambu. Menginjak duri, tergores bambu, tersayat bebatuan tajam. Telapak kakiku robek-robek penuh darah.

Yang aku pikirkan cuma lari ke atas bukit. Entah dari mana tenaga itu datang. Padahal, dari perahu ke tepi jalan raya saja aku digendong si nelayan tua. Dan kami sebenarnya tidak tahu apakah tsunami benar datang lagi atau tidak. Pokoknya yang penting lari.

Cukup lama kami di atas bukit yang gelap. Melihat sudah banyak kendaraan di bawah dan tidak ada air laut yang naik ke daratan, kami kembali turun mencari tumpangan. Di sinilah aku bertemu Roman yang sudah menderita patah kaki. Dia--sebelumnya terbaring di tepi jalan--dibawa mobil relawan.

Tulang paha Roman sudah menonjol (bengkok) ke atas. Dia tak bisa berjalan. Aku menangis dan meminta maaf kepada Roman karena sudah mengajaknya berlibur ke sini.

Kami kemudian dibawa ke salah satu Puskesmas terdekat oleh salah mobil relawan tersebut untuk diberikan pertolongan pertama. Aku dan empat temanku selamat dan sudah pulang ke Bogor. Tapi nyawa dua teman kami lainnya, Gandring dan Ayu, tidak selamat. 

Selama ini aku cuma tahu dari film saja tentang orang yang terseret tsunami. Sekarang aku mengalaminya sendiri. Sungguh sangat mengerikan. Terima kasih kepada Allah yang telah memberikan aku kesempatan kedua.


Norma Komara (paling kiri, berselimut warna biru) saat berada di salah satu Puskesmas terdekat (Foto: Facebook Nirma Gustina)
 

Tag: tsunami selat sunda

Bagikan: