Kampanye Jadul dalam Politik Zaman Now

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Tsamara Amany (Instagram: Tsamaradki)

Jakarta, era.id - Nama Tsamara Amany tak lagi asing, sejak bukunya yang berjudul "Curhat Perempuan" jadi perbincangan di kalangan pecinta buku. Curhat Perempuan berhasil merefleksikan pandangan pribadi Tsamara sebagai perempuan, tentang bagaimana ia menyoroti keresahan-keresahan akan isu sosial dan politik kekinian.

Namanya kian mashyur, ketika ia melancarkan kritik tajam kepada Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah yang kerap memojokkan kinerja KPK saat itu. Lewat Twitter dan sejumlah kolom di media online, hingga membuat seri video singkat bertajuk "5 Sesat Pikir Fahri Hamzah", Tsamara 'menyerang' mantan politisi PKS itu.

Demokrasi berjalan baik saat itu, ketika Tsamara dan Fahri terlibat dalam rangkaian twitwar. Keduanya menembakkan peluru argumen untuk menguatkan pandangan masing-masing tentang penanganan korupsi di Indonesia. 

Menurut Tsamara, berdasar UU Nomor 20 Tahun 2001 yang merupakan turunan dari Tap MPR XI/98 tentang Penyelanggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN, korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang harus ditangani dengan cara luar biasa pula. Konstruksi pemikiran yang cukup oke sebetulnya. Namun, Fahri tak sepenuhnya sepakat.

Terjun Berpolitik

Mahasiswa semester VI jurusan Komunikasi di Universitas Paramadina, Jakarta ini nyatanya betul-betul terjun menjadi politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Di usia yang kini menginjak 21 tahun, ia berhasil menempati jabatan penting sebagai Ketua DPP Bidang Eksternal.

Jalan mulus yang sejauh ini ia temui tak membuat Tsamara silau. Tsamara sadar betul, langkahnya masih sangat jauh dari tujuan. Dan rimba politik terlalu menyesatkan tanpa persiapan matang. Selain lewat organisasi dan literasi, Tsamara mengaku banyak belajar politik dari sejumlah tokoh yang lebih dulu eksis.

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok merupakan salah satu sosok paling menginspirasi Tsamara. Bukan ujuk-ujuk hanyut dalam arah politik kebanyakan milenial, Tsamara mengaku punya alasan kuat menjadikan Ahok sebagai panutannya.

Ketika Ahok masih menjabat sebagai gubernur, Tsamara sempat menjadi staf magang yang ditugaskan dalam tim untuk membantu optimalisasi Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), simplifikasi perizinan mulai usaha.

Selain itu, Tsamara juga berperan dalam meningkatkan peringkat izin memulai usaha versi Bank Dunia, dari peringkat 167 pada tahun 2015 menjadi 151 pada 2016. Bagi Tsamara, Ahok adalah sosok yang berintegritas dan bersih. Ketegasan Ahok sebagai birokrat berhasil menciptakan kondisi pemerintahan yang baik.

Tersandung Potensi Pelanggaran Kampanye

Langkah Tsamara menjadi calon kandidat dalam pemilihan legislatif (pileg) 2019 tersandung polemik soal iklan spanduk yang tersebar di sejumlah wilayah Jakarta yang memuat kampanyenya. Padahal, Pasal 69 huruf (k) Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah pengganti UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota telah mengamanatkan sanksi pidana kepada siapapun pihak yang berkampanye di luar masa kampanye terbuka.

Melakukan kegiatan Kampanye di luar jadwal yang telah ditetapkan oleh KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota juncto Pasal 187 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota untuk masing-masing calon, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah).

Dalam beberapa spanduk yang berhasil era.id temukan, tampak foto Tsamara yang tengah mengangkat tangan kirinya yang dikepal. Dalam foto itu, Tsamara terlihat mengenakan kerudung putih dan blazer merah PSI. Pesan dalam spanduk pun cukup tegas, yakni "Solidaritas untuk Keadilan Ekonomi". Sulit menyebut spanduk ini bukan sebuah bentuk kampanye.



(Foto: era.id)

Toh, setidaknya Tsamara mengakui spanduk itu memang dipasang oleh pihaknya. Menurut Tsamara, pihaknya telah berkomunikasi dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan dipastikan tak ada pelanggaran apapun dalam pemasangan spanduk tersebut. "Kata Bawaslu, tidak ada aturan yang dilanggar. Kita coba menanyakan kepada Bawaslu," ungkap Tsamara dalam sebuah wawancara khusus bersama era.id.

Menarik memang melihat metode kampanye yang dilakukan Tsamara. Meski menargetkan kaum milenial sebagai lumbung suaranya, Tsamara tetap menggunakan cara jadul --dengan spanduk-- untuk berkampanye. Bagi dia, ini adalah salah satu strategi yang dilakukan. Spanduk, dikatakan Tsamara, sangat efektif untuk menjaring perhatian masyarakat, terutama mereka di kalangan akar rumput. Selain itu, spanduk terbukti mampu memicu rasa ingin tahu masyarakat tentang sebuah informasi, termasuk soal branding calon legislatif.

Infografis: era.id


Langkah Menuju Senayan

Dalam sebuah wawancara khusus bersama era.id, Tsamara mengungkap sejumlah hal menarik dalam strateginya melangkahkan kaki menuju Senayan. Berikut videonya:

Tag: pilpres 2019

Bagikan: