RSHS Bandung Kewalahan Tangani Peningkatan Pasien DBD

Tim Editor

Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. (Twitter @rshsbdg)

Bandung, era.id - Pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kewalahan menangani peningkatan jumlah pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD), akibat paparan penyakit demam berdarah (DBD) yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti.

Kepala IGD RSHS Bandung Dodi Tavianto mengatakan, peningkatan itu terjadi sejak dua bulan terakhir sebanyak dua sampai tiga kali lipat dari jumlah hari normal. Dia menjelaskan pada hari normal, jumlah pasien dalam satu hari hanya dikisaran 80-120 orang.

"Itu dengan asumsi bahwa yang masuk ruangan (inap) itu seimbang dengan yang datang ke IGD. Nah ini dalam dua bulan terakhir kita mengalami peningkatan volume yang sangat-sangat signifikan ya. Ya itu juga tidak bisa lepas dari demam berdarah. Ini kan lagi musim demam berdarah, sehingga banyak pasien-pasien yang masuk ke IGD kita dengan diagnosa demam berdarah. Nah sementara kapasitas di ruangan terbatas," kata Dodi di Bandung, Senin (4/2/2019).

Baca Juga : VIDEO: Cara Mencegah Nyamuk Aedes Aegypti


Kepala IGD RSHS Bandung Dodi Tavianto. (Arie/era.id)

Dodi mengatakan kelebihan jumlah pasien di IGD karena dipicu penuhnya ruangan rawat inap. Akibatnya, banyak pasien yang dirawat bukan ditempatkan di ruangan tindakan medis melainkan di lorong IGD. 

Dia menambahkan, saat ini pihaknya sedang mengupayakan kelebihan jumlah pasien yang hendak dirawat, tidak sampai ditempatkan di lobi IGD. Jika hal itu terjadi, maka akan terkendala dengan mengakomodir para petugas medis.

"Jadi memang di sini bukan cuman tanggung jawab IGD ya, tapi tanggung jawab lintas instalasi. Dalam kata lain, kita harus segera berkoordinasi saya sebagai kepala IGD dengan kepala ruang rawat inap, kepala ruang rawat intensif, kepala instalasi ruang operasi agar tidak terjadi penumpukan di IGD," ujar Dodi.

Baca Juga : Penderita DBD di Malut Capai 112 Orang

"Kita minta difasilitasi supaya pasien-pasien segera cepat pindah ke ruangan, atau ke rawat intensif atau naik ke meja operasi karena mengingat pasien yang datang ke IGD itu terus-terusan," tambah dia.

Namun dengan kondisi saat ini, lanjut dia, pelayanan medis di IGD masih dapat ditangani dengan baik, kendati petugas medis harus bekerja sangat keras.


Ilustrasi (Twitter @rshsbdg)

Jumlah pasien yang masuk ke IGD RSHS usai merebaknya penyakit BDB setiap harinya dikisaran 160-200 orang. Sebagian pasien itu dipulangkan karena telah sembuh dan sebagian lagi masuk ke ruangan rawat inap. "Yang banyak itu pasien anak-anak datang dengan diagnosa demam berdarah. Jadi setiap hari itu pasti ada sisa pasien anak-anak yang belum bisa kita alihkan ke ruangan," jelas Dodi.

Baca Juga : Musim Demam Berdarah, Waspadai Demam Tinggi

Sebelum masuk musim hujan, IGD RSHS disebutkan Dodi minim kedatangan pasien dengan diagnosa demam berdarah, bahkan cenderung tidak ada. Hanya saja dalam kurun waktu dua bulan terakhir, jumlah pasien dengan diagnosa demam berdarah meningkat tajam.

RSHS Bandung menyebutkan tidak akan menambah jumlah petugas medis di IGD akibat peningkatan jumlah pasien demam berdarah. Hal itu disebabkan, belum ada keputusan bahwa penyakit demam berdarah sudah masuk kategori kejadian luar biasa.

"Kita akan tetap melakukan koordinasi dengan seluruh instalasi. Meskipun kita menanganinya dengan pontang-panting. Saya pikir rumah sakit lain menangani hal yang sama, sepertinya sudah kehabisan tempat rawat sehingga dikirimkan ke RSHS," ungkap Dodi.

Tag: kesehatan wabah penyakit

Bagikan: