Harusnya yang 'Haram' PUBG atau Pemainnya?

Tim Editor

PUBG Mobile (Twitter @PUBGMOBILe)

Jakarta, era.id - Permainan bergenre battle royale, PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) sedang menjadi sorotan hangat di Indonesia. Game ini dianggap bisa menimbulkan aksi kekerasan hingga adanya unsur terorisme di dalamnya. 

Polemik ini berkaca dari kasus penembakan dua masjid yang terjadi di Selandia Baru beberapa waktu lalu. Di mana si pelaku Brenton Tarrant merekam sendiri aksi penembakannya yang menewaskan 50 orang tersebut. Sejumlah pihak menyebut, aksi yang dilakukan Tarrant serupa dengan game PUBG.

Isu itu ditanggapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat. Mereka berencana mengkaji game PUBG sebelum mengeluarkan fatwa haram bahwa game seperti PUBG berdampak negatif. 

Nah kemarin, MUI Pusat bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika telah membahasnya dalam forum grup discussion dengan sejumlah pihak mendalami dampak game online secara menyeluruh. Di antaranya ahli psikologi, asosiasi e-Sports, KPAI, Kemenkominfo, dan Kantor Sekretariat Kepresidenan.

Hasilnya, MUI tidak memutuskan untuk mengeluarkan fatwa terhadap game aksi seperti PUBG. MUI hanya memberikan sejumlah catatan yang bersifat rekomendasi.

"Perlu ada batasan terkait dengan usia, terkait dengan konten, terkait dengan waktu, terkait dengan dampak yang ditimbulkan. Di samping pembatasan juga perlu ada pelarangan pada beberapa jenis game, yang memang secara nyata berkonten pornografi, berkonten perjudian, berkonten perilaku seksual menyimpang, hingga konten yang terlarang secara agama dan peraturan perundang-undangan," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh, seperti dikutip dari Antara, Selasa (26/3).



Untuk kepentingan optimasi kesadaran publik, Komisi Hukum MUI mengusulkan adanya review Peraturan Menteri (Permen) Kominfo 11 tahun 2016 tentang klasifikasi permainan interaktif elektronik. Pengkajian Permen itu, kata Niam, untuk mencegah dampak negatif di masyarakat.

Secara garis besar, game PUBG memang sedang naik daun dan populer dimainkan. Bukan hanya melalui PC saja, tapi juga perangkat smartphone karena game ini juga mengeluarkan versi mobilenya.

Kolumnis teknologi di PCMag, Jhinuk Sen menyebutkan bukan game atau permainannya yang patut disalahkan ketika ada dampak negatif, melainkan orang yang memainkan game tersebut. 
 
"Game-nya tidak membuatmu celaka atau menggagalkan ujian. Kamu sendiri yang membuat dirimu terdistraksi, tidak peduli prioritas. Kamulah masalahnya. Bukan game," tulisnya seperti dikutip era.id

Ia menambahkan bahwa pelarangan game aksi seperti PUBG justru membuat permainan ini makin populer. Bahkan banyak game online yang dirasanya lebih sadis dari PUBG dan justru dipertandingkan dalam bentuk olahraga e-sports.

"Ini bukan game yang paling keras. Memang menimbulkan agresi, tapi demikian juga hampir semua hal yang kompetitif," tulisnya.
 

Bahkan kalau mau melihat sisi positifnya, pemain e-sports yang serius menekuni permainan bergenre semacam ini dan ikut berkompetisi bisa mendapatkan penghasilan uang secara profesional.

Apalagi beberapa waktu lalu, pertandingan e-sports menjadi laga eksebisi di ajang Asian Games 2018. Bisa jadi ajang permainan mobile atau olahraga elektronik juga dipertandingkan di Olimpiade. 

Tag: kecanduan game smartphone ketua mui maruf amin bank indonesia

Bagikan: