Mengenang Habibie sebagai Cendekiawan Muslim Indonesia

Tim Editor

Ilustrasi (Ilham/era.id)

Jakarta, era.id - Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, karena sakit yang dideritanya, Rabu (11/9).

Dia dikenal sebagai orang yang cerdas dan religius. Bahkan dia menciptakan gagasan perpaduan iman-taqwa (imtaq) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Gagasan tersebut dia bawa ke Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia yang terbentuk pada 7 Desember 1990. 

"Gagasan tersebut untuk membangun peradaban dunia ke depan dengan memadukan iman dan taqwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Mantan presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof Nanat Fatah Natsir dilansir Antara, Kamis (12/9/2019).

Melansir icmi.or.id, ICMI dibentuk di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990. Di pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua ICMI yang pertama.

Kelahiran ICMI berawal dari diskusi kecil di bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang terpolarisasi kepemimpinannya di kalangan umat Islam. Masing-masing kelompok sibuk dengan kelompoknya sendiri, serta berjuang secara parsial sesuai dengan aliran dan profesi masing-masing.

Dari forum itu kemudian muncul gagasan untuk mengadakan simposium dengan tema 'Sumbangan Cendekiawan Muslim Menuju Era Tinggal Landas' yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 29 September-1 Oktober 1990. 

Dari hasil pertemuan tersebut pemikiran mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk membentuk wadah cendekiawan muslim yang berlingkup nasional. Sejumlah mahasiswa akhirnya menghadap Habibie, yang saat itu menjabat sebagai Menristek, dan memintanya memimpin wadah cendekiawan muslim dalam lingkup nasional.

Waktu itu Habibie menjawab, bersedia dengan hal ini tapi dia harus meminta izin dulu kepada Presiden Soeharto. Dia juga meminta agar pencalonannya dinyatakan secara resmi melalui surat dan diperkuat dengan dukungan secara tertulis dari kalangan cendekiawan muslim. Sebanyak 49 orang cendekiawan muslim menyetujui pencalonan Habibie untuk memimpin wadah cendekiawan muslim tersebut.

Pada tanggal 27 September 1990, dalam sebuah pertemuan di rumahnya, Habibie memberitahukan bahwa usulan sebagai pimpinan wadah cendekiawan muslim itu disetujui Presiden Soeharto. Dia juga mengusulkan agar wadah cendekiawan muslim itu diberi nama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia, disingkat ICMI.

Tanggal 28 September 1990, sejumlah cendekiawan muslim bertemu lagi dalam rangka persiapan simposium yang akan diselenggarakan bulan Desember. Pada tanggal 25-26 November 1990, sekitar 22 orang cendekiawan yang akan membentuk wadah baru berkumpul di Tawangmangu, Solo dalam rangka merumuskan beberapa usulan untuk GBHN 1993 dan pembangunan Jangka Panjang Tahap kedua 1993-2018 serta rancangan Program Kerja dan Struktur Organisasi ICMI.

Pelaksanaan simposium sempat terganggu oleh gugatan tentang rencana Habibie sebagai calon Ketua Umum ICMI karena dia sebagai birokrat. Dengan posisi sebagai birokrat, kepemimpinannya dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap kebebasan para cendekiawan muslim.

Tanggal 30 November-1 Desember, panitia secara khusus mengadakan rapat untuk menjawab isu negatif soal pemilihan Habibie. Dari pertemuan tersebut menghasilkan beberapa komitmen; 

Pertama, berdirinya ICMI merupakan ungkapan syukur umat Islam yang mempu melahirkan sarjana dan cendekiawan.

Kedua, untuk memimpin ICMI diperlukan tokoh cendekiawan muslim yang reputasi nasional dan internasinal serta dapat diterima oleh umat Islam, masyarakat Indonesia maupun pemerintah. 

Ketiga, hanya Unibraw --salah satu wahana keilmuan-- yang cukup pantas melahirkan organisasi itu, apalagi pemerkasanya adalah mahasiswa univeritas tersebut.

Halangan juga sempat datang dari aparat keamanan setempat. Dalam rapat gabungan antara penyelenggara, pemda dan aparat keamanan di Surabaya, empat hari menjelang acara, aparat keamanan menyoal pembentukan organisasi tersebut. ICMI, kata mereka harus diwaspadai. 

Tapi Abdul Aziz Hosein, panitia penyelenggara, mengatakan bagaimanapun ICMI akan terbentuk karena presiden sudah menyetujui dan AD/ART-nya sudah disusun.


Deklarasi Habibie dan Mahasiswa Unibraw 1990 (Foto: dokumentasi icmi.or.id)

Akhirnya, tanggal 7 Desember 1990 Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dibentuk di Malang. Saat itu juga secara aklamasi disetujui kepemimpinan tunggal dan terpilih Bacharuddin Jusuf Habibie  jadi ketua umum ICMI yang pertama. Hingga saat ini, Habibie menyandang jabatan ketua dewan kehormatan ICMI. 

Dalam sambutannya dia mengatakan bahwa dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia, karena itu juga merupakan tugas utama.

Lewat ICMI, Habibie mempersatukan cendekiawan Muslim Indonesia. Melansir Antara, Ketua ICMI Sulawesi Selatan Aris Munandar mengatakan, Habibie bisa mempersatukan cendekiawan Muslim Indonesia di saat pemerintah Soeharto dinilai tak dengan dengan kalangan muslim. Berkat peran Habibie pula, sejumlah kebijakan muncul menandai Islam telah mewarnai lingkungan pemerintahan saat itu.

"Inilah yang menyenangkan, karena almarhum, Islam hidup di lingkungan pemerintahan melalui masjid dan musala kantor," kata Aris.

Lebih dari itu, kata Aris, pria yang tutup usia di umur 83 tahun ini mencetuskan kebijakan yang memperbolehkan anak sekolah mengenakan hijab atau jilbab. Sehingga meninggalnya Habibie dianggap duka umat Muslim dan bangsa Indonesia pada umumnya.

"Bangsa Indonesia telah kehilangan tokoh besar yang telah berjasa besar dalam reformasi Indonesia," ujar dia.
 
 

Tag: selamat jalan bj habibie forum umat islam

Bagikan: