Napas Berhenti dan Mereka yang Terancam Mati

Tim Editor

Ilustrasi Foto (Walhi)

Jakarta, era.id - Elsa Pitaloka, bayi empat bulan asal Sumatera Selatan meninggal setelah tujuh jam dirawat karena sesak napas. Kabut asap di sejumlah wilayah Indonesia mengurung puluhan ribu orang dengan ancaman serupa. Sebuah cerita tentang mereka yang mati dan hampir mati.

Minggu (15/9), Elsa dilarikan ke rumah bidan setempat, sebelum akhirnya dipindahkan ke puskesmas terdekat oleh kedua orang tuanya, Ita Septiana dan Ngadirun.

Kondisi kesehatan Elsa terus memburuk sejak kabut asap mengepung kediaman mereka di Dusun III Desa Talang Bulu, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, tiga hari lalu.

Dalam kondisi sesak, pilek, batuk, dan perut kembung, puskesmas menyarankan Elsa dirujuk. Ngadirun kemudian membonceng Ita dan Elsa ke Rumah Sakit Ar Rasyid Palembang dengan sepeda motor.

Sampai rumah sakit, Elsa langsung diinfus. Kondisinya memburuk. Dokter kemudian kembali menyarankan Elsa dipindah ke rumah sakit lain untuk mendapat perawatan lebih baik.

Namun, Elsa mengembuskan napas terakhirnya sebelum sempat dipindah ke Rumah Sakit Muhammad Hoesin. "Dokter bilang ada gangguan pernapasan karena terkena ISPA. Saya sudah ikhlas menerimanya," tutur sang ayah, Ngadirun dikutip dari Wartakota, Senin (16/9/2019).


Ribuan orang terancam kematian

Sumatera Selatan jadi salah satu wilayah yang terdampak asap kebakaran hutan. Elsa adalah salah satu korban, di samping jiwa-jiwa lain yang melayang bersama asap pekat pembunuh massal. Menurut catatan indeks standar pencemar udara (ISPU), tingkat polusi asap di Sumatera Selatan berada di angka 51.

Catatan ISPU menunjukkan ancaman kualitas udara lebih parah di wilayah lain. Pekanbaru, misalnya yang jadi wilayah terparah dengan angka 269. Setelahnya, Dumai (170), Rohan Hilir (141), Siak (125), Jambi (123), Bengkalis (121), Kampar (113), dan Kepulauan Riau (89).

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Agus Wibowo menjelaskan, angka tersebut menunjukkan peningkatan tajam ancaman polusi udara dalam tiga hari belakangan.

"Angka tersebut mengindikasikan kondisi kualitas udara tidak sehat atau penunjuk angka 101-199. Pada Jumat, kualitas udara di wilayah Riau pada kondisi sangat tidak sehat hingga berbahaya," kata Agus Wibowo dalam keterangan tertulis, Senin (16/9/2019).

Sebagai informasi, ISPU memecah indeks pencemaran udara dalam lima kategori, yakni kategori baik dengan indeks antara 0-50, sedang (51-100), tidak sehat (101-199), sangat tidak sehat (200-299), dan berbahaya (lebih dari 300).

Sejak meningkatnya ancaman kebakaran hutan dalam beberapa bulan belakangan, berbagai pihak telah mengingatkan bahaya kematian sebagai buntut dari kebakaran hutan. Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, pada Agustus lalu telah mewanti-wanti bahaya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dapat menjangkiti masyarakat yang terpapar kabut asap.

"Karhutla berdampak pada kesehatan, termasuk ISPA yang menyerang anak-anak kecil hingga orang tua yang menderita asma akan kesulitan bernapas," tutur Nila kala itu.


Tuntutan menghentikan karhutla (Walhi)


Para peneliti dari dua kampus terbesar di Amerika Serikat, Harvard dan Columbia University juga merilis kajian berjudul "Jurnal Fires, Smoke Exposure and Public Health: An Integrative Framework to Maximize Health Benefits from Peatland Restoration". Dalam jurnal itu, peneliti mengingatkan potensi kematian dini sebagai buntut buruknya pengelolaan kebakaran hutan gambut.

"Jika pengendalian karhutla tidak berjalan maksimal, dalam jangka panjang, diprediksi terjadi kematian 36 ribu jiwa per tahun akibat penyakit ISPA selama 2020 hingga 2030," kata peneliti Harvard University Tianjia Liu ditulis Republika pertengahan Agustus lalu.

Lebih lanjut, jurnal itu merinci, kebakaran hutan setidaknya mengancam 36 ribu jiwa, termasuk di Malaysia dan Singapura. Dari jumlah tersebut, 92 persen jiwa terancam adalah masyarakat Indonesia. Sementara, 7 persen ancaman kebakaran hutan menyasar masyarakat Malaysia. Sisanya, 1 persen akan berdampak pada penduduk di Singapura.

Deputi Perencanaan dan Kerja Sama Badan Restorasi Gambut Budi Wardhana menjelaskan, penelitian merujuk pada kebakaran hutan hebat yang terjadi di Indonesia tahun 2015. Saat itu, kebakaran hutan berlangsung selama lima bulan. Dampaknya, keselamatan 60 juta jiwa terancam, termasuk 500 ribu orang lain yang positif menderita ISPA.

Menurut Budi, selama kebakaran hutan 2015, pemerintah harus merogoh kocek hingga Rp1,9 triliun untuk biaya pengobatan langsung. Sementara, total kerugian material bencana itu mencapai 16 miliar dolar AS, di luar kerugian kesehatan.

"Lalu, ada juga biaya jangka panjang yang belum bisa dihitung,” ungkap Budi melengkapi pernyataan Tianjia Liu dalam diskusi bertajuk "Ongkos Kesehatan dari Bencana Kebakaran Hutan dan Gambut” kala itu.

Tag: kebakaran hutan

Bagikan: