Kata Wiranto dan Polri Langit Riau Sehat, Tapi Tidak di Jambi

| 23 Sep 2019 11:10
Kata Wiranto dan Polri Langit Riau Sehat, Tapi Tidak di Jambi
Ilustrasi (Pixabay)
Jakarta, era.id - Beberapa hari lalu, pemerintah, lewat Menko Polhukam Wiranto dan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen M Iqbal menyatakan kondisi udara di Pekanbaru, Riau, tidak seperti yang dikabarkan media. Sejumlah pemberitaan menyatakan, udara di Riau sangat parah membuat masalah pernapasan. Payahnya udara ini dikarenakan kebakaran hutan dan lahan.

Wiranto bahkan mengatakan bisa beraktivitas seperti biasanya tanpa menggunakan masker dan terganggu pandangannnya. Itu dia katakan setelah menemani Presiden Joko Widodo meninjau lokasi karhutla di provinsi itu pada Rabu (18/9).

Kondisi ini berbeda dengan yang ada di Jambi. Provinsi tersebut juga jadi salah satu daerah terdampak kabut asap hasil karhutla.

Jika Kadiv Humas Polri Irjen Iqbal bilang langit Riau masih biru, hal itu tidak terjadi di Jambi. Di sana, langitnya berwarna merah. Hal ini diketahui dari unggahan di media sosial dari masyarakat Jambi.

Informasi ini pun diklarifikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika lewat media sosial, Twitter bercentang biru, @InfoHumasBMKG. Dari unggahannya, disebutkan, langit merah di Jambi ini berbahaya untuk manusia.

"Beberapa hari terakhir, beredar viral di masyarakat bahwa langit di Muaro Jambi berwarna merah, sinar matahari tertutup asap tebal. BMKG mencatat hal tersebut sebagai peristiwa yang dapat dijelaskan secara ilmiah," kata BMKG di Twitter.

 

Ditambahkan, hasil analisis citra satelit Himawari dari 8-21 September di sekitar Muaro Jambi, tampak terdapat banyak titik panas dan sebaran asap yang sangat tebal. Asap dari kebakaran hutan dan lahan ini berbeda dari daerah lain yang juga mengalami kebakaran.

Kemudian, wilayah lain pada satelit tampak berwarna cokelat, namun di Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan bahwa lapisan asap sangat tebal. Hal ini dimungkinkan karena kebakaran lahan/hutan yang terjadi di wilayah tersebut, terutama pada lahan-lahan gambut.

"Tebalnya asap juga didukung oleh tingginya konsentrasi debu partikulat polutan berukuran <10 mikron (PM10). Hari ini, tengah malam di Jambi, pengukuran konsentrasi PM10  = 373,9 ug/m3, menunjukkan kondisi tidak sehat," ujar BMKG.

 

Lalu, mengapa langitnya memerah? Jika ditinjau dari teori fisika atmosfer pada panjang gelombang sinar tampak, langit berwarna merah ini disebabkan adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yg berukuran kcl (aerosol), dikenal dengan istilah hamburan mie (Mie Scattering).

Lanjutnya, Mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari. Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer.

Dari data BMKG, konsentrasi debu partikulat polutan berukuran <10 μm sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang & Pekanbaru. Tapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi. Ini berarti debu polutan di daerah tersebut dominan berukuran sekitar 0,7 μm atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi

Selain konsentrasi tinggi, tentunya sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah. Mengapa dikatakan  ukuran partikel bisa lebih dari 0.7 mikrometer? Ini dikarenakan mata manusia hanya dapat melihat pada spektum visibel (0.4-0.7 mikrometer).

Peristiwa seperti ini pernah terhadi di Palangkaraya pada 2015. Kala itu, langit di sana berwarna oranye akibat karhutla, yang berarti ukuran debu partikel polutan (aerosol) saat itu dominan lebih kecil/ lebih halus (fine particle) daripada fenomena langit memerah di Muaro Jambi kali ini.

Rekomendasi